YOGYAKARTA – Yogyakarta kini tengah berbenah diri pasca-darurat sampah, dengan Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot) yang kini bernapas lega berkat kuota pembuangan 90 ton per hari dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun, Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan bahwa kunci utama penyelesaian masalah ini bukan hanya kuota, melainkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya. Salah satu langkah inovatif yang diambil adalah optimalisasi pemanfaatan sampah organik.
Daun-daun kering, yang sebelumnya menjadi masalah, kini akan diolah menjadi pupuk organik berkualitas tinggi oleh Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO), mendukung pertanian lokal di Tegalrejo dan operasional di Pasar Ikan Pasty.
Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga menggencarkan program emberisasi untuk menekan volume sampah basah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Program ini mengajak warga untuk memilah sampah basah secara mandiri, sehingga hanya residu yang tak terolah yang dibuang.
Tak hanya itu, Pemkot juga meluncurkan Tim Reaksi Cepat (TRC) Mas Joss, yang bertugas khusus menangani sampah berukuran besar seperti kasur, tempat tidur rusak, hingga limbah elektronik rumah tangga (e-waste), yang kemudian dikumpulkan di gudang khusus untuk diproses lebih lanjut.
Baca Juga:
PT SLI Balaraja Diberi Waktu Benahi Diri: Operasional Dihentikan Sementara!
Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DIY, turut turun tangan dengan memberikan izin bagi Kota Yogyakarta untuk membuang sampah ke TPST Piyungan dengan kuota 90 ton per hari, usai berdiskusi dengan Walikota Hasto Wardoyo pada 16 September 2025.
Kuota ini menjadi harapan baru, namun keberhasilan jangka panjang bergantung pada partisipasi aktif seluruh warga dalam memilah dan mengelola sampah.
Hasto Wardoyo menyatakan, “Kalau kami bisa diberi 90 atau 100, kami senang sekali. Kami akan manfaatkan kuota itu sambil kami mengurangi sebanyak-banyaknya sampah dari rumah tangga.”
Senada, Sri Sultan Hamengku Buwono X menambahkan, “Jadi per day-nya di angka 90 ton, selama 90 ton ya cukup. Sehingga sisanya yang masuk ke Piyungan.” Yogyakarta kini berada di titik penting dalam perjalanan pengelolaan sampahnya.
Baca Juga:
Megawati Tanpa Ponsel: Ironi di Era Digital dan Pesan untuk Generasi Muda
Dengan kuota yang diberikan dan inovasi yang terus digagas, masa depan kota ini diharapkan lebih bersih dan berkelanjutan, di mana dukungan penuh masyarakat menjadi kunci utama untuk mewujudkan Yogyakarta yang bebas dari masalah sampah.












