KARANGANYAR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menelan korban. Kali ini, puluhan siswa SMPN 1 Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, dilarikan ke puskesmas setelah diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap menu MBG pada Senin (13/10/2025).
Para siswa mengeluhkan pusing dan mual setelah menyantap hidangan yang terdiri dari nasi, ayam katsu, selat, dan kelengkeng. Beberapa siswa bahkan menduga rasa ayam katsu yang aneh menjadi penyebab keracunan tersebut.
“Merasakan pusing sama mual, tadi sekira jam 12.30. Baru dapat makan sekira jam 12.00,” ujar Suci, salah satu siswa kelas 8 yang menjadi korban. Ia menambahkan bahwa kelasnya mendapatkan menu MBG berupa nasi, ayam katsu, dan selat.
Nazahra, siswa lainnya, juga mengakui rasa ayamnya aneh dan mengatakan bahwa cukup banyak siswa yang dirawat di puskesmas.
Baca Juga:
Kinerja Gemilang Polres Serang 2025, Ungkap Ribuan Perkara dan Perkuat Ketahanan Pangan
Kasus ini menambah panjang daftar korban keracunan akibat program MBG. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat, dalam periode 6-12 Oktober 2025, terdapat 1.084 korban baru keracunan MBG. Dengan demikian, total korban sejak awal tahun mencapai 11.566 anak.
Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengecam sikap pemerintah yang dinilai membiarkan dapur-dapur tetap beroperasi padahal ribuan anak tumbang setiap pekannya.
Ia bahkan menyebut program MBG dengan ribuan korban setiap minggu sebagai bentuk kelalaian sistemik yang mendekati kejahatan kebijakan.
Pemerintah sendiri telah melakukan sejumlah evaluasi terkait maraknya kasus keracunan makanan MBG. Salah satunya adalah merancang Peraturan Presiden (Perpres) Tata Kelola MBG yang melibatkan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengawasi pelaksanaan program.
Baca Juga:
OJK Longgarkan Kewajiban Pinjol bagi Warga Terdampak Banjir dan Longsor
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan pemerintah saat ini masih mengumpulkan berbagai masukan terkait dengan muatan dari perpres tersebut dan terus memperbaiki perpres tersebut agar optimal.
















