KARANG ANYAR – Mimpi tentang sebuah kawasan wisata rohani megah bernama Holyland di Karanganyar kini terancam menjadi kenangan pahit. Proyek yang diharapkan membawa berkah ekonomi bagi warga sekitar, justru berujung pada kesedihan, terutama bagi para pemilik warung kecil yang menggantungkan hidupnya pada denyut nadi pembangunan.
Dari Berkah Jadi Musibah: Ketika Buldoser Berhenti, Rezeki Pun Ikut Merapuh
Sejak awal tahun 2024, Desa Karangturi, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, berdenyut kencang dengan aktivitas pembangunan Holyland. Ratusan pekerja proyek memadati desa ini, membawa serta harapan dan rezeki bagi warga setempat. Warung-warung kecil di pinggir jalan pun kebanjiranOrderan.
Aroma masakan menggoda bercampur dengan obrolan riuh para pekerja, menciptakan suasana ekonomi yang hidup dan menggairahkan.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Pada 2 September 2025, Bupati Karanganyar mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 500.16.7/505/2025 yang menghentikan sementara pembangunan Holyland.
Alasan di balik keputusan ini adalah keresahan masyarakat dan keberatan dari fraksi DPRD terkait masalah perizinan.
Seketika, desa yang tadinya ramai berubah menjadi sunyi senyap. Para pekerja proyek menghilang, meninggalkan warung-warung kecil yang kini merana. Omzet penjualan merosot tajam, membuat para pemilik warung harus memutar otak untuk bertahan hidup.
Jeritan Hati Sang Pemilik Warung: “Penghasilan Saya Berkurang 50 Persen!”
Seorang pemilik warung yang enggan disebutkan namanya, dengan nada lirih menceritakan pahitnya kenyataan yang harus dihadapi.
Baca Juga:
Pemerintah Kampung Karya Maju Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Goreng untuk 135 Keluarga
“Sejak pembangunan berjalan, saya merasakan dampak positif dari ini,” ungkapnya kepada TribunSolo.com. “Banyak pekerja ke sini memesan makanan, dan ini membuat penghasilan saya meningkat sejak saya berjualan tiga tahun lalu.”
Namun, kini situasinya berbalik 180 derajat. “Dengan diberhentikan proyek itu, pekerja proyek nggak ke sini untuk makan karena tidak bekerja, sehingga penghasilan saya berkurang sekira 50 persen,” keluhnya.
Meski demikian, ia berusaha untuk tetap tegar dan menerima takdir. “Namun apa daya, kalau rezeki, itu semua sudah diatur Allah SWT,” ujarnya dengan pasrah.
Holyland: Antara Mimpi dan Realita, Antara Berkah dan Musibah
Proyek Holyland Karanganyar, yang diinisiasi oleh Yayasan Keluarga Anugerah Surakarta, awalnya diharapkan menjadi ikon wisata religi baru yang mampu menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian daerah.
Namun, di tengah jalan, proyek ini terganjal masalah perizinan dan penolakan dari sebagian masyarakat.
Kini, proyek tersebut terhenti, meninggalkan pertanyaan besar tentang masa depannya. Akankah Holyland Karanganyar mampu bangkit kembali dan mewujudkan mimpinya? Atau justru akan menjadi monumen bisu tentang sebuah ambisi yang terhenti di tengah jalan?
Yang pasti, di balik semua itu, ada luka yang mendalam di hati para warga warung kecil yang telah merasakan pahitnya kehilangan rezeki. Mereka adalah korban dari sebuah ironi pembangunan, di mana mimpi tentang kemajuan justru berujung pada kesedihan dan kesulitan ekonomi.
Baca Juga:
Bisakah Timnas Indonesia Pecahkan Rekor? Tantangan Berat Hadapi China
Semoga ada solusi terbaik yang dapat ditemukan, agar Holyland Karanganyar dapat dilanjutkan kembali, dan para warga warung kecil dapat kembali tersenyum.















