LEBAK – Di jantung Lebak Selatan, sebuah tragedi kemanusiaan sedang berlangsung. Bukan bencana alam, bukan pula konflik sosial, melainkan jalan rusak parah yang telah memutus harapan dan merenggut hak-hak dasar ribuan warga. Jalan poros desa yang menghubungkan Desa Cibarengkok dengan Desa Gununggede, Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak, Banten, kini menjadi mimpi buruk bagi siapa pun yang melintasinya.
Puluhan tahun dibiarkan terlantar tanpa sentuhan pembangunan, jalan ini berubah menjadi kubangan lumpur, lubang menganga, dan batuan terjal yang mengancam keselamatan setiap pengendara. Roda dua maupun roda empat tak berdaya menghadapi ganasnya jalanan ini.
Betapa memprihatinkannya kondisi jalan tersebut. Kendaraan-kendaraan terjebak dalam lumpur licin, tak mampu melanjutkan perjalanan. Warga terpaksa berjalan kaki, memikul beban berat di pundak, melewati jalanan yang lebih mirip medan perang.
Mulyadi (27), seorang pengendara yang setiap hari melewati jalur ini, mengungkapkan kepedihannya.
“Masyaallah, jalan ini harus segera diperbaiki! Karena ini menjadi jalan utama masyarakat,” serunya dengan nada putus asa. Rabu,(01/10).
Ia menceritakan bagaimana jalan rusak ini telah memakan banyak korban. Warga terjatuh, terluka, bahkan tak jarang kendaraan mengalami kerusakan parah.
“Sudah banyak warga yang terjatuh saat melintas. Jalan ini benar-benar menyulitkan, bahkan tak jarang ada kendaraan yang terjebak di tengah jalan. Kami sangat berharap pemerintah segera turun tangan memperbaikinya,” ujarnya penuh harap.
Dede Nasrudin (32), warga setempat, menambahkan bahwa rusaknya jalan tidak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga berdampak besar bagi para petani, guru, hingga anak sekolah yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Baca Juga:
Prabowo Tunjuk Taufik Hidayat Jadi Wamenpora
“Kalau ada warga yang sakit, ambulans pun sulit masuk karena kondisi jalan yang sangat parah! Jarak dari Desa Cibarengkok menuju Desa Gununggede sekitar 20 kilometer. Kami sangat berharap pemerintah segera memperbaiki jalan ini karena merupakan akses vital masyarakat,” kata Dede dengan nada geram.
Menurut Dede, kerusakan jalan ini sudah terjadi bertahun-tahun tanpa ada perhatian serius dari pemerintah. Padahal, ruas jalan ini merupakan akses utama masyarakat untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan.
“Kami sebagai masyarakat berharap keluhan kami dapat segera didengar oleh pemerintah daerah, agar perbaikan jalan bisa direalisasikan dalam waktu dekat ini, karena ini sangat menyiksa kami,” pungkasnya dengan nada memohon.
Potret Buram Ketidakpedulian Pemerintah
Kondisi jalan rusak di Lebak Selatan ini bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan juga cermin ketidakpedulian pemerintah terhadap nasib rakyatnya.
Alih-alih memberikan kenyamanan dan keselamatan, pemerintah justru membiarkan warga menderita, terisolasi, dan kehilangan harapan.
Kerusakan jalan di Lebak Selatan yang tak kunjung tertangani menjadi potret buram pengelolaan infrastruktur di daerah tersebut.
Alih-alih menghadirkan kenyamanan dan keselamatan bagi masyarakat, lambannya perbaikan justru mempertegas lemahnya perencanaan serta minimnya keberpihakan pemerintah daerah terhadap kebutuhan rakyat.
Baca Juga:
Di Balik Pengerahan Gajah untuk Bersihkan Kayu Banjir di Aceh
Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir? Sampai kapan pemerintah akan menutup mata dan telinga terhadap jeritan warga Lebak Selatan? Rakyat membutuhkan tindakan nyata, bukan janji manis yang tak pernah ditepati.












