JAKARTA – Babak baru dalam sejarah Timur Tengah! Setelah puluhan tahun konflik berdarah, Suriah dan Israel dikabarkan hampir mencapai kesepakatan damai yang akan segera ditandatangani. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa mengungkapkan bahwa negosiasi dengan Israel hampir rampung, mirip dengan kesepakatan tahun 1974. Amerika Serikat menjadi mediator dalam perundingan bersejarah ini.
Namun, al-Sharaa menegaskan bahwa kesepakatan ini “sama sekali tidak menyiratkan normalisasi hubungan dengan Tel Aviv.”
Ia menekankan bahwa Suriah tahu betul cara berperang, tetapi tidak lagi menginginkan perang.
“Suriah tahu cara berperang tetapi tidak lagi menginginkan perang,” tegas al-Sharaa, seperti dilansir Al Arabiya, Sabtu (20/9/2025).
Kerusuhan di Sweida: “Jebakan” yang Sengaja Dimainkan?
Presiden Suriah itu juga menyinggung kerusuhan baru-baru ini di Sweida, Suriah selatan. Ia menyebutnya sebagai “jebakan yang sengaja dimainkan” saat perundingan damai dengan Israel hampir selesai.
Al-Sharaa juga mengungkapkan bahwa serangan Israel terhadap istana presiden dan Kementerian Pertahanan Suriah belum lama ini merupakan deklarasi perang.
Baca Juga:
Kabupaten Serang Go Internasional: UEA Jadi Mitra Strategis Pembangunan
Namun, ia menekankan bahwa mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel tidak dapat dihindari, meskipun komitmen Israel terhadap kesepakatan tersebut masih diragukan.
Hadiri Sidang PBB: Titik Balik Sejarah Suriah?
Al-Sharaa juga mengumumkan bahwa ia akan menghadiri pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendatang.
Ini merupakan preseden bersejarah, karena akan menjadi pertama kalinya dalam enam puluh tahun seorang presiden Suriah berpartisipasi dalam sesi internasional tersebut.
Ia menekankan bahwa ini menandai “titik balik baru” bagi Suriah. Ia menambahkan bahwa Suriah kini telah menjadi bagian dari sistem internasional dan bukan lagi negara yang dikenal sebagai pengekspor narkoba, pengungsi, atau terorisme.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Meskipun kesepakatan ini disambut baik oleh banyak pihak, sejumlah pertanyaan masih belum terjawab. Apakah kesepakatan ini akan benar-benar mengakhiri konflik berkepanjangan antara Suriah dan Israel? Bagaimana nasib wilayah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel? Dan apa implikasi kesepakatan ini terhadap stabilitas regional di Timur Tengah?
Baca Juga:
Sinergi Tanpa Batas: Muspika Cikupa Beri Kejutan HUT TNI ke-80, Soliditas Jadi Kekuatan Utama
Biar waktu yang akan menjawab semuanya.
















