BANDUNG – Gubernur Jawa Barat terpilih, Dedi Mulyadi, kembali membuat gebrakan kontroversial yang memicu perdebatan hangat di kalangan masyarakat. Kali ini, ia mencanangkan kebijakan “Sekolah Zaman Batu”, yang mewajibkan pelajar untuk berjalan kaki ke sekolah dan menjadikan lingkungan sekolah bebas dari kendaraan bermotor. Kamis, (30/10).
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan ide-ide nyentriknya, merasa prihatin dengan gaya hidup pelajar zaman sekarang yang serba instan dan kurang gerak.
Ia mengajak para pelajar untuk kembali ke kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki, yang menurutnya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik dan mental.
“Dalam surat edaran, saya minta yang jaraknya ke sekolah masih bisa jalan, ya jalan kaki. Dan ini katanya Dedi Mulyadi mengajak orang kembali ke zaman batu. Padahal Jepang, jalan kaki, naik sepeda. Singapura jalan kaki jadi tradisi. Nah problem di kita ini jalan kaki karena panas aja, dan lalu lintasnya enggak baik,” ujar Dedi Mulyadi di Gedung Sate Bandung, seperti dilansir Antara.
Untuk mendukung kebijakan ini, Dedi Mulyadi berjanji akan membangun trotoar yang layak dan nyaman sepanjang satu kilometer di sekitar sekolah. Ia juga akan menyediakan instalasi air minum yang bisa dikonsumsi langsung, sehingga para pelajar tidak kepanasan dan dehidrasi saat berjalan kaki.
“Karenanya konsep saya berikutnya adalah, satu kilometer menjelang sekolah, akan saya bangunkan trotoar-trotoar yang layak untuk berjalan kaki. Satu kilometer. Jalan kepanasan minum. Itu bagian peradaban,” ucapnya.
Selain infrastruktur, Dedi Mulyadi juga akan mengeluarkan kebijakan bahwa sekolah menjadi kawasan bebas kendaraan siswa. Hal ini bertujuan untuk mengurangi polusi udara dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan nyaman.
Baca Juga:
Polisi Pariwisata Bali Perkuat Pengamanan
“Siswa yang di bawah umur, itu nitip-nitip motornya di warung tetangga sekolahnya. Enggak usah begitu,” katanya.
Kebijakan Dedi Mulyadi ini tentu saja menuai pro dan kontra. Sebagian masyarakat mendukung penuh kebijakan ini, karena dianggap positif bagi kesehatan dan lingkungan.
Namun, sebagian lainnya mengkritik kebijakan ini, karena dianggap tidak realistis dan memberatkan para pelajar yang rumahnya jauh dari sekolah.
Namun, Dedi Mulyadi tetap optimistis bahwa kebijakan ini akan membawa manfaat bagi para siswa. Ia yakin, dengan berjalan kaki ke sekolah, para siswa akan menjadi lebih sehat, kuat, dan disiplin.
“Yang penting orang jalan dulu. Kenapa anak sekarang itu jalan kaki itu malas. Badannya lemah, kakinya lemah. Besok dia mau jadi tentara, besok jadi pelaut, jadi polisi. Kakinya harus kokoh,” tuturnya.
Kebijakan “Sekolah Zaman Batu” ini menambah daftar kebijakan kontroversial Dedi Mulyadi selama menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Sebelumnya, ia juga pernah mengeluarkan kebijakan seperti membina siswa bermasalah di barak militer, melarang wisuda dan study tour, memberlakukan jam malam untuk pelajar, menghapus PR sekolah, dan mewajibkan siswa masuk sekolah jam 6 pagi.
Baca Juga:
Sekolah Vokasi Unpad: Pendaftar SNBT 2025 Melonjak
Terlepas dari kontroversi yang menyertainya, Dedi Mulyadi tetap konsisten dengan visinya untuk menciptakan generasi muda Jawa Barat yang sehat, cerdas, dan berkarakter. Akankah kebijakan “Sekolah Zaman Batu” ini berhasil mencapai tujuannya? Waktu yang akan menjawab.
















