• Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Jumat, Maret 20, 2026
MatasNews.id
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
MatasNews.id
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi

Ribuan Warga Tangerang Terjerat Kemiskinan Ekstrem, PHK Jadi Pemicu Utama

Yustinus Agus by Yustinus Agus
18/12/2025
0
Ribuan Warga Tangerang Terjerat Kemiskinan Ekstrem, PHK Jadi Pemicu Utama
0
SHARES
18
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

TANGERANG – Di tengah geliat pembangunan dan aktivitas ekonomi yang intens di Provinsi Banten, sebuah fenomena sosial yang mengkhawatirkan justru muncul di Kabupaten Tangerang. Wilayah yang kerap disebut sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri dan urbanisasi di Banten tersebut kini menyandang predikat yang jauh dari kata menggembirakan: memiliki jumlah penduduk miskin ekstrem terbanyak di provinsi ini. Data terbaru menunjukkan bahwa ratusan ribu jiwa warga Kabupaten Tangerang hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat rentan, jauh di bawah garis kesejahteraan yang seharusnya menjadi standar kehidupan layak bagi setiap manusia.

Berdasarkan statistik resmi yang dirilis oleh lembaga terkait, jumlah penduduk yang dikategorikan sebagai miskin ekstrem di Kabupaten Tangerang mencapai sekitar 269.090 jiwa, sebuah angka yang mencerminkan realitas pahit banyak keluarga dan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar setiap hari. Jumlah ini bukan angka kecil, karena secara keseluruhan jumlah penduduk miskin di seluruh Provinsi Banten mencapai sekitar 772.078 jiwa, yang artinya lebih dari sepertiga dari mereka tinggal di satu wilayah ini saja. Kondisi ini membuat Kabupaten Tangerang menempati posisi tertinggi di antara seluruh kabupaten/kota di Banten terkait populasi warga miskin ekstrem.

Dalam kesempatan temu media di Tangerang, Kepala Dinas Sosial Provinsi Banten, Lukman, dengan tegas mengungkapkan kekhawatiran atas meningkatnya tren kemiskinan ekstrem di wilayah ini. Menurutnya, lonjakan angka kemiskinan tersebut tidak hanya terjadi secara tiba-tiba atau karena satu faktor tunggal, melainkan merupakan akumulasi sejumlah persoalan yang saling berkaitan dan memperparah kondisi masyarakat. Salah satu faktor utama yang disebut adalah meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal di berbagai sektor industri, terutama di sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Tangerang.

BacaJuga

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

Fenomena PHK massal yang melanda ribuan tenaga kerja ini bukanlah sekadar isu statistik. Di balik angka-angka tersebut terdapat kisah-kisah nyata tentang perubahan hidup yang drastis bagi para pekerja dan keluarganya. Dulu, mereka adalah pencari nafkah yang aktif di pabrik, pabrik-pabrik itu memproduksi berbagai barang konsumsi dan ekspor, dari sepatu hingga barang elektronik, yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Namun beberapa perusahaan mengalami tekanan ekonomi, penurunan permintaan, dan bahkan kebangkrutan. Dampaknya, banyak pekerja kehilangan pekerjaan tanpa jaminan masa depan yang jelas. Hilangnya penghasilan tetap membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal.

Lukman menyatakan bahwa ketika pabrik-pabrik tutup dan pekerja diberhentikan secara besar-besaran, efeknya langsung terasa hingga ke rumah tangga warga. “Masyarakat miskin itu kan yang sangat-sangat miskin, khawatir dia sekarang ada dari perusahaan bangkrut dan dia tidak kerja lagi,” ujarnya menggambarkan realitas pahit yang dialami banyak keluarga. Tanpa penghasilan tetap, sumber daya untuk memilih hidup lebih baik pun semakin menyempit, bahkan seringkali tidak ada.

Namun tidak hanya faktor PHK yang berkontribusi besar terhadap kemiskinan ekstrem ini. Ada faktor lain yang juga mendapat sorotan serius, yaitu urbanisasi yang berlangsung secara cepat di Kabupaten Tangerang. Fenomena ini menunjukkan bagaimana banyak warga, terutama dari daerah pedesaan atau wilayah lain, berpindah ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Harapan mereka sederhana: mendapatkan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan memperbaiki taraf hidup. Sayangnya, realitas yang mereka temui di kota tidak selalu sesuai dengan harapan. Lapangan pekerjaan yang tersedia di perkotaan sering kali tidak cukup memadai untuk menampung jumlah besar para pendatang baru tersebut. Akibatnya, kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat.

Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Iwan Sumule, menyatakan bahwa urbanisasi tanpa dukungan lapangan kerja yang memadai menjadi tantangan besar dalam proses penanganan kemiskinan. Ia menekankan bahwa perpindahan penduduk ke wilayah perkotaan harus diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan tersedianya peluang kerja yang cukup. Tanpa itu, urbanisasi justru dapat memperparah kondisi sosial-ekonomi masyarakat, membuat mereka hidup di batas minimum atau bahkan terjun ke dalam kemiskinan ekstrem.

Baca Juga:
Polri: Garda Terdepan Pelayanan Publik dan Ketahanan Pangan

Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Menurut Iwan, upaya penanganan kemiskinan perlu melibatkan kerja sama lintas lembaga, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, serta sektor swasta dan komunitas masyarakat itu sendiri. Tanpa kolaborasi yang kuat, upaya untuk membawa perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat miskin ekstrem akan selalu terkendala. Ia mengatakan bahwa strategi penanggulangan kemiskinan tidak hanya harus bersifat jangka pendek, tetapi juga harus direncanakan untuk memberikan dampak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Kondisi ini juga mencerminkan tantangan struktural yang lebih luas di masyarakat. Ketimpangan sosial dan ekonomi yang dalam di Kabupaten Tangerang, seperti yang tercermin dalam angka kemiskinan ekstrem, menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya membawa manfaat merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sementara sebagian warga menikmati kemajuan pembangunan dan fasilitas kota yang modern, segmen masyarakat yang lain justru semakin tertinggal. Ketidakseimbangan ini tidak hanya terkait dengan faktor pekerjaan, tetapi juga akses terhadap pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang layak, dan jaringan sosial yang kuat untuk mendukung mobilitas ekonomi.

Dampak dari kondisi ini sangat dirasakan oleh keluarga-keluarga di wilayah yang paling terdampak. Beberapa warga yang mengalami PHK massal bercerita bagaimana mereka harus mengubah pola hidup drastis: mengurangi porsi makan, menghentikan anak-anak dari sekolah swasta yang mahal, bahkan menunda perawatan kesehatan ketika sakit datang.

Anak-anak yang dulu bersekolah penuh semangat kini harus membantu orang tua mencari rezeki di pasar atau usaha kecil demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Realitas ini menggambarkan bagaimana kemiskinan ekstrem bukan hanya soal kekurangan materi, tetapi juga tentang hilangnya kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Pak Lukman dan Iwan sama-sama menegaskan bahwa situasi ini menuntut respon cepat dan tepat. Mereka menyerukan agar pemerintah daerah semakin intensif dalam mendesain program perlindungan sosial, penciptaan lapangan kerja baru, serta memberikan pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja masa kini. Sentuhan bantuan sosial pun harus digulirkan dengan mekanisme yang transparan dan menyentuh langsung mereka yang membutuhkan.

Lebih jauh lagi, para pengamat sosial mengingatkan bahwa isu kemiskinan ekstrem tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi global dan nasional. Tekanan ekonomi, tren industri yang berubah cepat, serta persaingan global sering kali memaksa perusahaan untuk menyesuaikan model bisnis yang berdampak pada tenaga kerja. Namun, di sisi lain, hal ini juga membuka peluang bagi inovasi, kewirausahaan, dan pengembangan sektor-sektor baru yang dapat menyerap tenaga kerja, seperti ekonomi digital dan start-up kreatif. Dukungan terhadap pengembangan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan pada industri besar dan memperluas basis ekonomi lokal yang lebih resilient.

Baca Juga:
RSUD di Banten Siap Layani Warga Miskin, Andra Soni: “Kesehatan Hak Segala Bangsa!”

Dengan berbagai tantangan dan dinamika ini, satu hal yang pasti: situasi kemiskinan ekstrem di Kabupaten Tangerang merupakan peringatan serius bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus bersifat inklusif, menjangkau seluruh lapisan masyarakat, serta mampu menciptakan kondisi yang adil dan merata bagi setiap warganya. Hanya dengan demikian janji kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat luas dapat terwujud.

Tags: #phkmassal#wargatangerang
Previous Post

Di Balik Pengerahan Gajah untuk Bersihkan Kayu Banjir di Aceh

Next Post

Hutan Rusak di Jawa Barat, Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat untuk Reboisasi

Related Posts

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil
Daerah

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

by Yustinus Agus
14/03/2026
0

SERANG – Semangat berbagi di bulan suci Ramadhan ditunjukkan melalui kolaborasi antara Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) 234 Solidarity Community (SC)...

Read more
Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

10/03/2026
TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

09/03/2026
Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

05/03/2026
Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

05/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MatasNews.id

Menjadi salah satu media profesional dalam menyajikan fakta dan turut menangkal hoaks serta sebagai kontrol sosial sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

BERITA TERBARU

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

10/03/2026
TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

09/03/2026
Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

05/03/2026
Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

05/03/2026
Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

04/03/2026
Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

03/03/2026
HUT Satpol PP

HUT Satpol PP

03/03/2026
Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

26/02/2026

KATEGORI UTAMA

  • Adventorial
  • Daerah
  • International
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Uncategorized

Berita Terbaru

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id

No Result
View All Result
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id