JAKARTA – Rio de Janeiro, kota karnaval dan pantai indah, kini berubah menjadi panggung horor. Ratusan mayat bergelimpangan di jalanan, diduga anggota Red Command, geng narkoba yang menjadi target operasi besar-besaran Presiden Lula da Silva. Lebih dari seratus nyawa melayang dalam perburuan brutal yang memicu kecaman dari pemerhati HAM hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pertanyaannya, siapakah sebenarnya Red Command, hingga operasi penumpasannya berujung pada tragedi kemanusiaan?
Red Command, atau Comando Vermelho (CV), bukan sekadar geng kriminal biasa. Ia adalah kelompok kriminal tertua di Brasil, lahir dari aliansi unik antara penjahat kelas teri dan milisi sayap kiri di balik jeruji besi. Pada era rezim diktator Brasil (1964-1985), penjara Candido Mendes di Pulau Ilha Grande menjadi saksi bisu persatuan para narapidana yang berjuang untuk bertahan hidup.
Awalnya, mereka membentuk Falange Vermelha, organisasi sayap kiri yang berupaya melawan sistem yang menindas. Namun, seiring waktu, kelompok ini terjerumus dalam kejahatan terorganisir dan dijuluki “Komando Merah” oleh media. Pada tahun 1979, Red Command melebarkan sayapnya ke jalanan Rio, menugaskan anggota di luar penjara untuk mengumpulkan dana melalui kegiatan kriminal.
Awalnya, mereka hanya merampok bank dan melakukan penjambretan. Namun, pada dekade 1980-an, Red Command beralih ke bisnis narkoba, menjalin kerjasama dengan kartel narkoba di Kolombia.
Dengan struktur organisasi yang solid, mereka merasa mampu mendistribusikan narkoba dalam skala besar. Selain itu, memudarnya pengaruh mafia judi ilegal membuka pintu bagi Red Command untuk memperluas kekuasaan.
Red Command bukan hanya menguasai dunia kriminal, tetapi juga berhasil mengambil alih kepemimpinan sosial di lingkungan marginal Rio de Janeiro. Mereka membangun sistem pemerintahan paralel di dalam favela, menyediakan lapangan kerja bagi penduduk yang terpinggirkan dari masyarakat Brasil.
Baca Juga:
Pemkab Serang ‘Sentil’ Mie Gacoan: Jangan Remehkan Perizinan!
“Sejak saat itu, kelompok ini berkembang jadi ancaman nasional dan transnasional yang cukup besar,” demikian laporan dari Insight Crime, sebuah situs yang fokus pada kejahatan terorganisir.
Pada tahun 2005, Red Command diperkirakan menguasai lebih dari separuh wilayah paling keras di Rio de Janeiro. Mereka juga memiliki pengaruh besar di penjara-penjara seluruh Brasil, dengan basis utama di Amazonas dan basis sekunder di Mato Grosso. Jaringan mereka bahkan mencapai Bolivia, yang menjadi sumber utama kokain.
Namun, dominasi Red Command mulai goyah dengan munculnya Komando Ibu Kota Pertama (Primeiro Comando da Capital/PCC) di Sao Paulo pada tahun 2008, serta intervensi negara yang mengerahkan pasukan ke wilayah-wilayah yang didominasi kelompok kriminal. Selain itu, mereka juga harus berhadapan dengan milisi yang memaksa masuk ke wilayahnya.
Para pengamat menilai, anggota Red Command di luar penjara kini memiliki tujuan yang lebih jelas: membentuk geng-geng bersenjata lengkap untuk mengambil alih wilayah narkoba atas nama Red Command.
Mereka menguasai banyak pemukiman miskin di Rio de Janeiro, membangun sistem pemerintahan paralel di dalam favela, dan menyediakan lapangan kerja bagi penduduk yang telah lama terpinggirkan dari masyarakat Brasil.
Operasi brutal yang dilancarkan Presiden Lula da Silva mungkin berhasil menumpas sebagian anggota Red Command, tetapi akar masalahnya jauh lebih dalam. Kemiskinan, ketidaksetaraan, dan korupsi adalah lahan subur bagi tumbuhnya organisasi kriminal seperti Red Command.
Baca Juga:
Sultan Brunei Terjatuh: Momen yang Sempat Membuat Khawatir Para Pengawal
Tanpa solusi komprehensif yang menyentuh akar masalah, Rio de Janeiro akan terus menjadi neraka bagi warganya.
















