Jakarta – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) dibagi menjadi 3 kementerian pada Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto.
Tiga Kementerian tersebut diantaranya : Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti), dan Kementerian Kebudayaan.
Prabowo menunjuk Abdul Mu’ti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Fadli Zon sebagai Menteri Kebudayaan.
Langkah ini diambil Prabowo Subianto lantaran masih banyak sekali isu isu negatif yang beredar, bahwa pendidikan di Indonesia kurang berjalan optimal.
Banyak siswa SMP dan SMA yang tidak dapat membaca, tidak mengenal budaya Indonesia lebih baik dari budaya negara lain, kurangnya beretika, dan masih banyak lagi.
Sistem pendidikan di Indonesia pun sempat dikritik oleh Jusuf Kalla selaku Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12.
Jusuf Kalla memberikan kritik tajam ke Mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim karena kurang mengerti kondisi pendidikan di Indonesia saat ini dan jarang datang ke kantor.
“Ada kemudian Mas Nadiem, yang tidak punya pengalaman guru, bidang pendidikan, tidak pernah datang ke daerah, jarang ke kantor,” ujar Jusuf Kalla.
Baca Juga:
Simulasi Sispam Mako Polres Serang: Antisipasi Gangguan Keamanan dan Unjuk Rasa Anarkis
Ia menambahkan, jika menteri pendidikan tak benar benar memahami apa arti pendidikan, maka berapapun anggarannya tak akan berarti.
Jusuf Kalla juga sangat menyayangkan semenjak pelantikan Nadiem, UN dihapuskan karena meniru Negara Finlandia dan Swedia.
Ia juga menegaskan anak anak di Indonesia memang sangatlah malas belajar, dan kapan lagi mereka belajar kalo bukan ada fokus yang dikejar (Ujian Nasional).
“Kalau bicara pendidikan, jangan contohin Finland, jangan contohin Singapore, mereka penduduknya 50 juta, income per capita 70.000. Kita penduduk 280 juta, income per capita 40.500. Jauh sekali. Jadi kalau bicara pendidikan di sana mau merdeka, silakan. Mau bicara kimia, ada labnya. Mau bicara fisika, ada labnya. Mau olahraga, ada alat olahraganya, mau apa juga ada semuanya. Di Amerika, di Singapore, di Finland apalagi,” ucap Jusuf Kalla.
Jusuf Kalla menyarankan, jika ingin meniru bisa diliat dari China atau India, yang jelas jelas populasi juga kurang lebih sama dengan Indonesia.
Akan tetapi kritik Mantan Wakil Presiden tersebut kurang digubris secara langsung oleh Nadiem Makarim pada saat itu.
Nadiem menyampaikan saran, perdebatan, kritik akan terus menjadi bahan evaluasi dirinya dan tim Kemendikbudrisek dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
Prosesi pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Pendidikan di Indonesia dalam Kabinet Merah Putih akan menjadi pembaharuan dalam sistem pendidikan Indonesia selama satu periode kedepan, baik dalam segi program maupun anggaran.
Baca Juga:
Perkuat Kemitraan, SMSI Kabupaten Serang Jalin Silaturahmi dengan Kejaksaan Negeri Serang
Disisi lain, Nadiem Makarim menitipkan program Merdeka Belajar agar dapat terus dilanjutkan. (Red)
















