JAKARTA – Raksasa makanan dan minuman global, Nestle, membuat gebrakan mengejutkan dengan mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 16.000 karyawannya. Langkah drastis ini, setara dengan 5,8 persen dari total 277.000 karyawan Nestle di seluruh dunia, merupakan manuver awal dari CEO baru, Philipp Navratil, dalam upaya efisiensi dan pemulihan kinerja perusahaan yang tengah limbung.
Target Penghematan Dinaikkan, Saham Nestle Langsung Melonjak
Navratil, yang baru menduduki kursi CEO, tak main-main dalam ambisinya. Ia menaikkan target penghematan biaya dari 2,5 miliar franc Swiss menjadi 3 miliar franc Swiss, atau setara dengan Rp 62,5 triliun.
Pengumuman PHK ini sontak membuat saham Nestle melonjak sekitar 8 persen di awal perdagangan, menunjukkan harapan pasar terhadap perubahan yang dijanjikan Navratil.
“Dunia sedang berubah, dan Nestle harus berubah lebih cepat,” tegas Navratil, seperti dikutip dari Reuters, menggambarkan urgensi situasi yang dihadapi perusahaan.
Krisis Manajemen Jadi Latar Belakang PHK Massal
Langkah efisiensi ini muncul di tengah gejolak manajemen yang belum pernah terjadi sebelumnya di Nestle. Navratil menggantikan Laurent Freixe, yang diberhentikan pada September 2025 lalu karena skandal hubungan pribadi dengan bawahan langsung.
Tak lama kemudian, Ketua Dewan Paul Bulcke juga mengundurkan diri lebih awal, digantikan oleh Pablo Isla, mantan pimpinan Inditex.
Selama dua tahun ke depan, Nestle berencana memangkas 12.000 pekerjaan kantoran (white-collar) serta 4.000 posisi tambahan di sektor manufaktur dan rantai pasok.
Ini adalah bagian dari upaya efisiensi besar-besaran untuk memangkas biaya dan meningkatkan profitabilitas.
Baca Juga:
PWI Kabupaten Serang Buka Penjaringan Calon Ketua
Tertekan Kenaikan Biaya dan Utang, Nestle Berupaya Bangkit
Produsen merek-merek ikonik seperti KitKat, Nespresso, dan Maggi ini tengah berjuang membalikkan penurunan penjualan dan menahan tekanan dari investor. Kenaikan biaya produksi, peningkatan utang, serta beban tarif impor Amerika Serikat semakin memperburuk situasi.
Analis Bernstein menilai hasil kuartalan Nestle menjadi “bahan bakar untuk api transformasi,” dan menyebut pemangkasan karyawan sebagai “kejutan signifikan” yang diperlukan untuk memulihkan kinerja perusahaan.
Fokus pada Pertumbuhan, Benahi Pasar China
Nestle mencatat pertumbuhan volume penjualan (real internal growth) sebesar 1,5 persen pada kuartal III 2025, jauh di atas perkiraan analis yang hanya 0,3 persen. Capaian ini memberi ruang bagi Navratil untuk memperkuat strategi barunya.
“Kami membangun budaya dengan pola pikir kinerja, yang tidak menerima kehilangan pangsa pasar dan menghargai kemenangan,” kata Navratil, menekankan pentingnya fokus pada pertumbuhan dan inovasi.
Nestle juga tengah meninjau ulang bisnis air minum, minuman premium, serta vitamin dan suplemen yang dinilai memiliki margin rendah dan pertumbuhan lambat. Selain itu, perusahaan mengakui bahwa mereka terlalu fokus pada perluasan distribusi di China tanpa membangun permintaan konsumen yang kuat.
“Sekarang kami memperbaiki itu dengan memperkuat permintaan konsumen dan membuat distribusi lebih efisien,” ujar CFO Nestle, Anna Manz, mengakui kesalahan strategi sebelumnya.
Dengan langkah PHK massal dan strategi baru yang lebih fokus, Nestle berharap dapat kembali ke jalur pertumbuhan dan mengamankan posisinya sebagai pemimpin pasar makanan dan minuman global.
Baca Juga:
Bandar Lampung Jadi Sorotan: Ambulance Dinas Nunggak Pajak!
Namun, tantangan yang dihadapi Navratil tidaklah mudah, dan hanya waktu yang akan membuktikan apakah langkah-langkah drastis ini akan berhasil menyelamatkan Nestle dari keterpurukan.















