JAKARTA – Pasar Asemka, Jakarta Barat, yang dulu dikenal ramai hingga padat, kini tampak sepi. Terlihat pada Jumat, (06/06/2025) menunjukkan jalanan sekitar pasar lengang, jauh berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu yang bahkan sulit untuk sekadar berjalan kaki. Kemacetan yang dulu terjadi bukan karena keramaian, melainkan karena persimpangan jalan, kini telah berganti dengan kelangkaan pengunjung.
Beberapa pedagang dan tukang parkir mengungkapkan beberapa faktor penyebabnya, mulai dari bukan musim ramai, daya beli masyarakat yang lesu, hingga pengaruh belanja online. Pasar Asemka, salah satu pasar legendaris Jakarta yang dulu ramai terutama menjelang liburan sekolah karena mayoritas menjual mainan anak, aksesoris, alat tulis, botol minum, bekal makanan, dan keperluan anak-anak lainnya, kini merasakan dampaknya. Ini menunjukkan betapa drastis perubahan yang terjadi di pasar legendaris ini.
Rina, pedagang botol minuman dan makanan bekal, merasakan dampak langsungnya.
“Iya, beberapa bulan terakhir malah sepi, karena daya beli masyarakat lesu, padahal kami juga jualan online, tapi pesanan juga tidak banyak,” ujarnya. Ia menambahkan, “Sempat ramainya di online, kalau yang datang langsung, mungkin sejak Covid-19 memang tidak sebanyak dulu sebelum Covid-19.” Pedagang lain pun merasakan hal yang sama.
Imran, pedagang mainan anak, mengatakan sepinya pembeli juga dipengaruhi oleh belum masuknya periode ramai, biasanya saat liburan sekolah. “Kalau sekarang mungkin masih sepi karena belum mulai libur anak sekolah, tapi biasanya baru ramai ketika anak-anak sekolah sudah libur,” jelasnya. Namun, ia mengakui daya beli dan belanja online juga berperan: “Mungkin juga karena daya beli lesu, ditambah banyak mainan yang dijual online, jadi orang-orang sudah malas kesini.” Selain faktor musiman, ternyata ada faktor lain yang ikut berperan.
Baca Juga:
Keselamatan Penyeberangan: ASDP Gandeng Semua Pihak Wujudkan Manifest Digital Akurat
Pendapat serupa disampaikan Joko, pedagang es jeruk peras. Menurutnya, “Kalau dibilang musiman seperti libur anak sekolah, kenaikan kelas, Lebaran, atau tahun baru, sepertinya sudah tidak begitu ya, toh Lebaran kemarin saja juga sepi disini. Toko online buat orang malas kesini, ditambah saat ini daya beli lesu, alhasil makin sepi Asemka.”
Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa sepinya Pasar Asemka bukan hanya karena faktor musiman.
Jukirman, tukang parkir di Pasar Asemka, mengamini hal tersebut. Ia menjelaskan, “Belakangan memang daya beli lesu, jadi sekarang orang jadi mikir kalau mau kesini, apalagi orang luar Jakarta, yang naik mobil, sekarang mikir-mikir, kesini saja sudah habis duluan di bensin, tol, dan lain-lain, sedangkan belanjanya di sini ya paling lebih sedikit dari ongkosnya, begitu juga motor, pada mikir bensinnya. Sekarang mungkin orang-orang memakai uangnya untuk kebutuhan dasar, dan mulai kurangi beli barang-barang yang tidak penting. Kalau di Asemka ini kan kebanyakan barang yang bisa ditunda pembeliannya, jadi ya balik lagi, daya beli masyarakat.”
Dari perspektif tukang parkir, terlihat jelas dampak lesunya daya beli masyarakat.
Baca Juga:
Main Padel Kena Pajak? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Kini, Pasar Asemka, yang dulu menjadi destinasi ramai, terutama menjelang liburan sekolah, harus berjuang menghadapi tantangan zaman. Legenda Jakarta ini kini merasakan dampak lesunya daya beli dan kemudahan belanja online.
















