JAKARTA – Prancis tengah menghadapi gejolak sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ratusan ribu warga, mulai dari pekerja hingga pelajar, turun ke jalan dalam demonstrasi besar-besaran untuk menolak rencana pemotongan anggaran pemerintah. Aksi protes yang diperkirakan melibatkan sekitar 800.000 orang ini telah melumpuhkan sejumlah kota dan menguji stabilitas pemerintahan Perdana Menteri baru, Sebastien Lecornu.
Di tengah hiruk pikuk demonstrasi, seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama James, yang tinggal di Kota Toulouse,
Prancis bagian selatan, memberikan kesaksian langsung mengenai situasi yang terjadi. Ia menggambarkan bagaimana jalanan dipadati oleh para demonstran dan sejumlah ruas jalan ditutup untuk kendaraan bermotor.
“Metro dan trem enggak jalan semua, stasiun ditutup, tapi sudah diumumkan beberapa hari lalu kalau mau ada demo hari Kamis. Diumumin di dalam gerbong sama lewat aplikasi transportasi,” ujarnya, menggambarkan bagaimana pemerintah telah memberikan peringatan kepada warga mengenai potensi gangguan transportasi.
James juga menuturkan bahwa gelombang demonstrasi kali ini terasa lebih besar dan lebih luas dari aksi-aksi sebelumnya.
“Gak ada batasan siapa yang mau demo. Ada pekerja sampai pelajar semuanya ikut, jadi emang rame banget yang sekarang,” tuturnya, menekankan bahwa aksi ini benar-benar melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
“Brutal” dan “Tidak Adil”: Serikat Pekerja Geram dengan Kebijakan Pemerintah!
Dalam demonstrasi tersebut, berbagai serikat pekerja bersatu suara menuntut agar rencana fiskal warisan pemerintahan sebelumnya dibatalkan.
Mereka juga mendesak peningkatan belanja untuk layanan publik, penerapan pajak yang lebih tinggi bagi kalangan kaya, serta pembatalan kebijakan kontroversial yang memaksa rakyat untuk bekerja lebih lama demi mendapatkan pensiun.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 800.000 orang akan ikut serta dalam demonstrasi dan pemogokan massal tersebut.
“Para pekerja yang kami wakili marah,” kata serikat pekerja utama Prancis dalam pernyataan bersama, menyebut rencana fiskal pemerintah sebagai kebijakan “brutal” dan “tidak adil”.
Ketua serikat pekerja CGT, Sophie Binet, dengan tegas menyatakan, “Kami akan terus melakukan mobilisasi selama belum ada respons yang memadai. Anggaran akan diputuskan di jalanan.”
Baca Juga:
Lewat Pesantren Ruhhul Qudsi, Lapas Kelas IIB Banjar Siap Cetak Hafiz dan Hafizah Al-Qur’an
Ujian Berat bagi PM Baru: Akankah Lecornu Mengalah pada Tuntutan Rakyat?
Aksi demonstrasi besar-besaran ini menjadi ujian berat bagi Perdana Menteri baru Prancis, Sebastien Lecornu, yang baru saja dilantik setelah parlemen menggulingkan pendahulunya, Francois Bayrou.
Lecornu kini menghadapi dilema yang sulit: menekan defisit anggaran yang tahun lalu hampir dua kali lipat batas 3% Uni Eropa, atau mengakomodasi tuntutan para pekerja yang semakin keras dan tidak kenal kompromi.
Dampak dari pemogokan kerja ini diperkirakan akan terasa luas di berbagai sektor. Serikat FSU-SNUipp memperkirakan bahwa satu dari tiga guru sekolah dasar akan absen. Perusahaan listrik EDF juga mengonfirmasi bahwa sebagian pegawainya ikut melakukan pemogokan.
Jaringan metro Paris serta kereta regional diperkirakan akan mengalami gangguan yang signifikan, meskipun jalur TGV berkecepatan tinggi sebagian besar tetap beroperasi.
Di sektor kesehatan, serikat apoteker USPO menyatakan bahwa 98% apotek akan tutup sebagai bentuk dukungan terhadap aksi protes. Serikat petani Konfederasi Paysanne pun turut menyerukan mobilisasi.
Pemerintah Siagakan 80.000 Aparat Keamanan: Antisipasi Bentrokan dan Sabotase!
Pemerintah Prancis tidak tinggal diam menghadapi gelombang demonstrasi ini. Sebanyak 80.000 polisi dan gendarme disiagakan untuk menjaga ketertiban.
Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau mengatakan kepada BFM TV bahwa unit anti huru-hara, drone, dan kendaraan lapis baja akan dikerahkan untuk mengamankan jalannya demonstrasi.
“Kami harus mengantisipasi kemungkinan sabotase dan bentrokan sejak dini hari,” ujarnya, mengindikasikan kekhawatiran pemerintah terhadap potensi terjadinya kerusuhan.
Dengan situasi yang semakin memanas, masa depan Prancis berada di persimpangan jalan. Akankah Perdana Menteri Lecornu mampu menemukan solusi yang dapat meredam amarah rakyat dan membawa stabilitas kembali ke negara ini?
Baca Juga:
PGRI Negara Batin Sukses Gelar Konferensi, Pilih Pengurus Baru
Ataukah Prancis akan terus dilanda gelombang demonstrasi yang dapat menggoyahkan fondasi pemerintahan? Waktu yang akan menjawab.
















