PANDEGLANG – Kabupaten Pandeglang, kabupaten paling barat di Pulau Jawa, menyimpan sejarah panjang dan kekayaan budaya yang luar biasa. Terkenal sebagai rumah bagi Taman Nasional Ujung Kulon dan habitat badak Jawa, namanya sendiri menyimpan kisah menarik. Berasal dari istilah “Pandai Gelang,” Pandeglang dulunya merupakan pusat pengrajin logam bagi Kerajaan Banten.
Sejarah pemerintahan Pandeglang tercatat sejak 1828, sebagai bagian dari Kabupaten Serang dengan status kawedanan yang membawahi dua kecamatan: Pandeglang dan Cadasari (Staatsblad era kolonial Belanda). Transformasi besar terjadi pada 1 April 1874 (Staatsblad No. 73), menetapkan Pandeglang sebagai kabupaten dengan pemerintahan sendiri di bawah Karesidenan Banten, terbagi ke dalam sembilan kawedanan: Pandeglang, Baros, Ciomas, Kolelet, Cimanuk, Caringin, Panimbang, Menes, dan Cibaliung. Pada 1925, Kabupaten Pandeglang resmi memisahkan diri dari Karesidenan Banten, menjadi kabupaten otonom.
Tanggal 1 April 1874 pun diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Pandeglang. Asal usul nama “Pandeglang” tak lepas dari Kesultanan Banten abad ke-16. “Pandai Gelang,” artinya tempat tinggal para pandai besi pembuat gelang logam, merupakan asal usul nama tersebut. Legenda menyebutkan Sultan Banten ingin membuat gelang baja untuk meriam kerajaan, “Si Amuk.” Setelah banyak pandai besi gagal, seorang pengrajin dari Desa Kadupandak di wilayah Pandeglang berhasil menciptakan gelang sesuai harapan Sultan.
Baca Juga:
Banten International Stadium: Transformasi Menuju Arena Kelas Dunia
Sebagai penghargaan, wilayah tersebut disebut Pandai Gelang, yang kemudian berubah menjadi Pandeglang.
Pandeglang, yang pernah menjadi bagian penting Kerajaan Banten Lama, terutama dalam pertanian dan produksi logam, kini menghadapi tantangan besar. Data BPS Banten 2024 mencatat Pandeglang sebagai kabupaten termiskin di provinsi ini.
Baca Juga:
Polsek Cikande dan Polsek Polres Serang Patroli di Kawasan Industri Modern Antisipasi Balap Liar
Kurangnya akses pendidikan, kesehatan, dan minimnya lapangan kerja menjadi faktor utama penyebabnya. Sejarah gemilang Pandeglang kini berhadapan dengan realita angka kemiskinan yang tinggi.
















