PANDEGLANG – Di balik gemerlap kota dan janji pembangunan infrastruktur yang membahana, tersimpan sebuah ironi pedih di pelosok Pandeglang, Banten. Warga Kampung Pilar, Desa Mangkualam, Kecamatan Cimanggu, terpaksa menjadi “tukang tambal” jalan di kampung sendiri. Mereka patungan, mengumpulkan rupiah demi rupiah, demi menutupi luka-luka menganga di jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian mereka.
“Kami sudah jenuh, Pak! Jenuh menunggu pemerintah yang datangnya cuma pas pemilu,” ungkap Makrom, seorang bapak paruh baya dengan nada suara yang menyimpan kekecewaan mendalam. “Sudah ganti presiden, ganti bupati, jalan ini tetap saja begini. Kami ini warga negara bukan sih?”
Jalan sepanjang satu kilometer itu bagaikan labirin maut. Lubang-lubang besar mengintai, siap memangsa roda kendaraan yang melintas. Kecelakaan sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
Bukan hanya itu, biaya transportasi pun membengkak karena kendaraan cepat rusak akibat jalan yang hancur. Para petani kesulitan mengangkut hasil panen, pedagang enggan masuk, dan ekonomi desa pun terancam lumpuh.
“Dulu, waktu jalan masih bagus, angkot dan ojek masih mau masuk ke kampung kami. Sekarang, mereka pada ogah. Katanya, rugi karena bensin boros dan sering rusak,” keluh seorang ibu rumah tangga sambil menggendong anaknya.
Ironisnya, di saat yang sama, pemerintah pusat dan daerah terus menggembar-gemborkan keberhasilan pembangunan infrastruktur.
Baca Juga:
Gubernur Banten Tinjau Penataan Pasar Induk Rau Kota Serang
Jalan tol baru dibangun, bandara diperluas, dan pelabuhan dipermodernisasi. Namun, di Kampung Pilar, warga justru merasa ditinggalkan dan dilupakan. Mereka merasa menjadi “anak tiri” dari pembangunan.
“Kami tidak minta jalan tol, Pak. Kami cuma minta jalan yang layak, biar kami bisa cari nafkah dengan tenang,” ujar Makrom dengan mata berkaca-kaca.
Dengan semangat gotong royong, warga Kampung Pilar mengumpulkan uang seadanya. Ada yang menyumbang Rp 5.000, ada yang Rp 10.000, bahkan ada yang menyumbang tenaga dan material.
Mereka bekerja keras menambal jalan yang rusak, berharap agar jalan tersebut bisa sedikit lebih baik dan aman dilalui.
“Ini bukan tugas kami sebenarnya. Ini tugas pemerintah. Tapi, kalau kami diam saja, jalan ini akan semakin parah dan kami akan semakin susah,” kata seorang pemuda yang ikut membantu menambal jalan.
Aksi warga Kampung Pilar ini adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketidakpedulian. Mereka menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat, meskipun negara seolah absen dalam memberikan pelayanan dasar.
Baca Juga:
Siswa SIP Polda Banten Ulurkan Tangan: Kebahagiaan di Yayasan Suy Al-Kahfi
Kisah mereka adalah cermin bagi pemerintah untuk lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat kecil dan tidak hanya fokus pada proyek-proyek mercusuar yang megah, tetapi juga melupakan jalan-jalan rusak di pelosok desa.












