Pandeglang – Amarah warga Pandeglang memuncak! Tumpukan sampah bukan hanya menggunung di TPA Bangkonol, tapi juga memicu gelombang protes yang tak kunjung padam. Warga yang tinggal di sekitar TPA itu kembali turun ke jalan, menuntut keadilan atas kerja sama penampungan sampah antara Pemkab Pandeglang dan Pemkot Tangerang Selatan.
Mereka merasa dikhianati, menilai para pemimpin Pandeglang lebih peduli pada keuntungan daripada kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya.
“Innalillahiwainnailaihirojiun, Innalillahiwainnailaihirojiun. Telah mati hati pemimpin Pandeglang!” teriak seorang warga dengan nada penuh kekecewaan, saat berorasi di depan kantor Bupati Pandeglang, Selasa (12/8/2025).
Baca Juga:
Menhut Puji Polisi Teladan Penerima Hoegeng Awards: “Luar Biasa, Keren Sekali!”
Menurutnya, kerja sama ini menjadikan warga sebagai korban kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir pihak. “Para pemimpin Pandeglang telah berani-berani mengorbankan rakyatnya, demi apa? Demi cuan!” serunya dengan geram.
Ahmad Yani, warga lainnya, dengan tegas menuntut pembatalan perjanjian kerja sama antara kedua daerah. Ia berpendapat bahwa TPA Bangkonol saat ini belum siap untuk menampung sampah dari luar daerah. “Cabut kerja sama penerimaan sampah dari Tangsel!” tegasnya.
Yani mengungkapkan fakta yang lebih memilukan. Seorang anak dari Kampung Pasir Walet meninggal dunia akibat penyakit paru-paru yang diduga kuat disebabkan oleh bau sampah yang menyengat. “Yang kami sampaikan ini fakta! Mereka ada yang meninggal dan diidentifikasi penyakit paru-paru,” ungkapnya dengan nada sedih.
Baca Juga:
Mensos Gus Ipul Tinjau Langsung Rumah Warga Penerima Program RST di Serang
Aksi protes ini mencapai puncaknya ketika massa membuang sampah ke halaman kantor Bupati Pandeglang, sebagai simbol kekecewaan dan kemarahan mereka. Akibatnya, sampah berserakan di area tersebut, menciptakan pemandangan yang memprihatinkan.
















