• Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, Maret 21, 2026
MatasNews.id
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
MatasNews.id
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi

Paku Buwono XIII Wafat: Kilas Balik Sejarah Raja-Raja Keraton Solo

Yustinus Agus by Yustinus Agus
06/11/2025
0
Paku Buwono XIII Wafat: Kilas Balik Sejarah Raja-Raja Keraton Solo
0
SHARES
0
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

SURAKARTA – Di jantung Kota Solo, berdiri megah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sebuah simbol kejayaan dan kelestarian budaya Jawa yang telah melewati rentang waktu lebih dari dua setengah abad. Pada Minggu pagi, 2 November 2025, kabar duka menyelimuti keraton dan seluruh masyarakat Solo.

Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono XIII, menghembuskan napas terakhirnya di usia 77 tahun. Kepergian Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi ini menandai berakhirnya sebuah era kepemimpinan, sebuah babak sejarah yang panjang dan penuh warna.

Paku Buwono XIII dikenal sebagai sosok yang berkomitmen tinggi dalam menjaga tradisi Keraton serta melestarikan naskah-naskah klasik.

BacaJuga

Kabupaten Serang Jadi Role Model Nasional ETPD, Kepala Bapenda Diundang Kemendagri

Pemkab Serang Raih Penghargaan Nasional APDESI, Komitmen Bangun Desa Diakui di Tingkat Nasional

Sebagai putra sulung Paku Buwono XII, beliau menjadi figur sentral dalam mempertahankan eksistensi Kasunanan Surakarta di tengah arus perubahan zaman yang deras.

Di bawah kepemimpinannya, keraton tetap menjadi pusat budaya Jawa yang memancarkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.

Namun, perjalanan panjang Keraton Solo tidaklah selalu mulus. Sejak berdiri pada abad ke-18, keraton ini telah melewati berbagai macam tantangan dan cobaan, mulai dari konflik internal hingga tekanan dari kekuatan kolonial.

Setiap raja yang bertakhta memiliki peran dan kontribusinya masing-masing dalam menjaga kelangsungan keraton.

Mari kita menelusuri jejak para raja Keraton Surakarta dari masa ke masa, sebuah perjalanan sejarah yang akan membawa kita memahami lebih dalam tentang dinamika dan perkembangan keraton ini.

1. Paku Buwono II (1745-1749): Sang Pendiri Kasunanan Surakarta

Paku Buwono II adalah raja pertama Kasunanan Surakarta sekaligus raja terakhir Mataram Kartasura. Nama aslinya Raden Mas Prabasuyasa, putra Amangkurat IV. Pada masa pemerintahannya terjadi peristiwa penting yang dikenal sebagai Geger Pecinan, yang menyebabkan perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745. Perpindahan ini menjadi titik awal berdirinya Kasunanan Surakarta yang kita kenal hingga saat ini.

2. Paku Buwono III (1749-1788): Masa Perjanjian Giyanti

Raden Mas Suryadi naik takhta pada 15 Desember 1749. Masa pemerintahannya ditandai dengan lahirnya Perjanjian Giyanti, sebuah perjanjian yang membagi Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian ini menjadi tonggak sejarah penting yang memisahkan dua kerajaan besar di Jawa.

3. Paku Buwono IV (1788-1820): Sunan Bagus yang Dekat dengan Ulama

Dikenal sebagai Sunan Bagus karena ketampanannya, raja bernama asli Raden Mas Subadya ini dikenal dekat dengan ulama. Ia meninggalkan banyak karya sastra seperti Wulang Sunu dan Serat Sasana Prabu, serta mendirikan bangunan penting seperti Masjid Agung Surakarta. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan agama menjadikannya sosok yang dihormati oleh masyarakat.

4. Paku Buwono V (1820-1823): Penyusun Serat Centhini

Meskipun pemerintahannya singkat, hanya tiga tahun, Paku Buwono V dikenal memimpin penyusunan Serat Centhini, sebuah karya sastra besar yang memuat nilai moral dan kebudayaan Jawa. Serat Centhini menjadi warisan budaya yang tak ternilai harganya bagi masyarakat Jawa.

5. Paku Buwono VI (1823-1830): Pejuang yang Diasingkan

Baca Juga:
Kolaborasi Forkopimda Dukung Program 100 Hari Kerja Bupati Serang

Raden Mas Sapardan naik takhta pada 1823. Ia berupaya menjaga keutuhan Surakarta dari pengaruh kolonial Belanda dan mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro. Keberaniannya melawan penjajah membuatnya diasingkan ke Ambon hingga wafat.

6. Paku Buwono VII (1830-1858): Masa Damai dan Berkembangnya Sastra Jawa

Raden Mas Malikis Solikin memerintah di masa relatif damai setelah berakhirnya Perang Diponegoro. Pada masanya, sastra Jawa berkembang pesat dengan hadirnya pujangga besar Ranggawarsita.

7. Paku Buwono VIII (1858-1861): Pewaris Budaya di Usia Lanjut

Kakak Paku Buwono VII ini naik takhta di usia lanjut. Meski masa pemerintahannya singkat, ia meninggalkan peninggalan budaya seperti Gamelan Kyai Pandu yang digunakan dalam kegiatan keagamaan.

8. Paku Buwono IX (1861-1893): Transisi Menuju Modernitas

Raden Mas Duksino memimpin selama lebih dari tiga dekade. Masa kekuasaannya dikenal sebagai periode transisi menuju modernitas, meski disebut Ranggawarsita sebagai “zaman edan” karena banyak pejabat istana yang menyimpang.

9. Paku Buwono X (1893-1939): Masa Kemakmuran Surakarta

Raja bernama asli Raden Mas Sayiddin Malikul Kusno ini dianggap sebagai penguasa paling berpengaruh di Surakarta. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami kemakmuran besar. Ia membangun banyak fasilitas publik seperti Pasar Gede, Stadion Sriwedari, dan Taman Balekambang.

10. Paku Buwono XI (1939-1945): Masa Sulit di Tengah Perang

Raden Mas Antasena memimpin di masa sulit saat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang. Kekayaan keraton banyak dirampas, dan ekonomi Surakarta mengalami krisis.

11. Paku Buwono XII (1945-2004): Penjaga Budaya di Era Republik

Raden Mas Surya Guritna naik takhta pada Juni 1945 di usia 20 tahun. Pada masa pemerintahannya, status istimewa Surakarta dicabut pada 1946. Meski demikian, ia tetap berupaya menjaga peran keraton sebagai pusat budaya Jawa hingga wafat pada 2004.

12. Paku Buwono XIII (2004-2025): Pelestari Tradisi di Era Modern

Lahir di Solo pada 28 Juni 1948, KGPH Hangabehi memimpin Keraton Solo selama dua dekade. Ia dikenal aktif menjaga tradisi, merawat naskah kuno, dan memperkuat nilai budaya di tengah arus modernisasi.

Demikianlah daftar nama raja Keraton Solo dari masa ke masa, sebuah cerminan perjalanan panjang Kasunanan Surakarta selama lebih dari dua setengah abad.

Dari masa awal perpindahan kerajaan di era Paku Buwono II hingga kepemimpinan Paku Buwono XIII, setiap raja telah memberikan warna dan kontribusi tersendiri bagi kelangsungan dan kejayaan keraton.

Baca Juga:
KTM Marchetti Signs with Larranaga and Zanotti for Next Season

Warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para raja ini akan terus hidup dan menjadi pedoman bagi generasi mendatang.

Previous Post

HKN di Serang: Bupati dan Kapolres Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga Kebiasaan Rutin

Next Post

Heboh! Dugaan Suap Nilai di SMAN 1 Serang: Komite Gandeng Polisi dan Ombudsman!

Related Posts

Kabupaten Serang Jadi Role Model Nasional ETPD, Kepala Bapenda Diundang Kemendagri
Nasional

Kabupaten Serang Jadi Role Model Nasional ETPD, Kepala Bapenda Diundang Kemendagri

by Yustinus Agus
25/02/2026
0

SERANG – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Kabupaten Serang di tingkat nasional. Atas keberhasilannya meraih indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD)...

Read more
Pemkab Serang Raih Penghargaan Nasional APDESI, Komitmen Bangun Desa Diakui di Tingkat Nasional

Pemkab Serang Raih Penghargaan Nasional APDESI, Komitmen Bangun Desa Diakui di Tingkat Nasional

16/02/2026
Hari Pers Nasional

Hari Pers Nasional

29/01/2026
Industri Baja Nasional Siap Produksi 100 Jembatan Bailey per Bulan Tanpa Impor

Industri Baja Nasional Siap Produksi 100 Jembatan Bailey per Bulan Tanpa Impor

02/01/2026
Fenomena Regenerasi Alami Hutan Dunia, Indonesia Jadi Sorotan Ilmuwan

Fenomena Regenerasi Alami Hutan Dunia, Indonesia Jadi Sorotan Ilmuwan

26/12/2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MatasNews.id

Menjadi salah satu media profesional dalam menyajikan fakta dan turut menangkal hoaks serta sebagai kontrol sosial sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

BERITA TERBARU

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

10/03/2026
TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

09/03/2026
Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

05/03/2026
Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

05/03/2026
Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

04/03/2026
Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

03/03/2026
HUT Satpol PP

HUT Satpol PP

03/03/2026
Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

26/02/2026

KATEGORI UTAMA

  • Adventorial
  • Daerah
  • International
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Uncategorized

Berita Terbaru

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id

No Result
View All Result
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id