Lebak – Eli Sahroni, aktivis Banten yang dikenal dengan nama King Badak, menegaskan peran penting oposisi dalam mengawasi pemerintahan Kabupaten Lebak. Dalam jumpa pers di Kantor Pusat Sang Pengendali Kegelapan, Kp. Julat, Kec. Cikulur, ia menyatakan keprihatinannya atas pembangunan infrastruktur Lebak yang dinilai jeblok meskipun daerah tersebut kaya akan sumber daya alam dan mendapat subsidi APBN yang besar.
“Lebak ini seharusnya tidak begini. Infrastruktur hancur di mana-mana, padahal hasil alamnya melimpah dan subsidi APBN besar,” kritik King Badak. Ia dan rekan-rekannya memilih jalur oposisi untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dan mencegah kesewenang-wenangan pemerintah.
Baca Juga:
Gelombang Protes Buruh Kepung Kantor Gubernur Banten, Lalu Lintas Terganggu
Menurut King Badak, oposisi memiliki fungsi krusial: menganalisis dan mengkritik kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat, memastikan kebijakan sesuai undang-undang dan kepentingan rakyat, serta menawarkan alternatif kebijakan yang lebih baik. Lebih jauh, ia menekankan peran oposisi dalam mencegah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta memastikan adanya check and balances yang profesional.
“Peran oposisi penting untuk menjaga stabilitas demokrasi dan mencegah kesewenang-wenangan pemerintah, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif,” tegasnya. Kehadiran oposisi yang kuat, menurut King Badak, menjadi indikator demokrasi yang sehat, mendorong partisipasi masyarakat, dan memastikan pemerintahan berjalan sesuai aturan dan prinsip-prinsip demokrasi.
Baca Juga:
Demo di Kejagung: Tuntut Usut Tuntas Korupsi Sport Center Banten
King Badak menyoroti kesenjangan sosial di Lebak. “Kami menjadi oposisi karena cinta Lebak. Kami prihatin melihat rakyat susah makan sementara segelintir orang kaya raya,” imbuhnya. Pernyataan ini menggarisbawahi motivasi di balik perjuangan King Badak dan kelompoknya untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat Lebak.
















