SERANG – Di tengah kawasan industri Cikande, Banten, masalah serius masih menghantui: paparan radioaktif Cesium-137. Pemerintah Provinsi Banten masih berjuang mencari lokasi relokasi yang tepat bagi warga terdampak. Namun, yang lebih memprihatinkan, sembilan warga kini harus bergantung pada obat khusus untuk mengatasi dampak radiasi tersebut.
Gubernur Banten, Andra Soni, menyatakan bahwa beberapa opsi relokasi sedang dipertimbangkan, dengan fokus pada kedekatan lokasi agar anak-anak tetap bisa bersekolah.
“Kita akan lakukan relokasi sementara sampai dekontaminasi selesai. Lokasi harus efektif agar aktivitas masyarakat, seperti sekolah, tetap berjalan,” ujarnya (13/10/2025).
Saat ini, BRIN, Bapeten, dan Brimob Polri telah memetakan zona merah dan kuning paparan Cesium-137. Relokasi akan dilakukan di luar zona tersebut. Namun, sorotan utama tertuju pada kondisi kesehatan warga.
Dari 1.600 orang yang diperiksa, sembilan warga dinyatakan positif terpapar Cesium-137. Mereka kini menjalani rawat jalan di rumah dan harus mengkonsumsi obat khusus yang disediakan pemerintah.
Kondisi ini menambah beban psikologis dan fisik bagi warga yang sudah cemas dengan paparan radiasi.
Baca Juga:
Goa Kebon yang Sepi Siap Direvitalisasi, Destinasi Alam di Kulon Progo Akan Bangkit
Andra berharap dekontaminasi selesai dalam dua bulan, sehingga masyarakat bisa kembali normal pada akhir tahun.
Kapolda Banten, Irjen Hengki, mengatakan bahwa warga di zona merah akan dievakuasi ke BLK, Gedung PGRI, atau Wisma Bhayangkara. Dekontaminasi di 10 titik yang teridentifikasi ditargetkan selesai dalam satu bulan.
Penyelidikan sumber cemaran juga terus dilakukan, dengan dugaan berasal dari impor skrap baja atau kebocoran Cesium-137 untuk komersial.
“Semua pihak terkait dimintai keterangan oleh Bareskrim, didukung oleh BRIN dan Bapeten,” kata Hengki.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyebut kasus ini telah naik ke penyidikan Bareskrim Polri.
Baca Juga:
Jeritan Honorer Cilegon: Honor Hangus, Harapan Pupus!
Warga Cikande kini hidup dalam ketidakpastian, bukan hanya menanti relokasi, tetapi juga berjuang untuk kesehatan mereka dengan bantuan obat-obatan khusus. Masa depan mereka masih suram, tergantung pada kecepatan dan efektivitas tindakan pemerintah.















