JAKARTA – Takdir tak selalu mudah, namun semangat pantang menyerah bisa mengubah segalanya. Inilah kisah inspiratif Devi Yusvitasari dan Desi Yunitasari, saudara kembar asal Banyuwangi yang berhasil meraih mimpi mereka: kuliah S2 di University of Melbourne, Australia, dengan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).
Sejak lahir, Devi dan Desi tak terpisahkan. Kini, keduanya tengah menempuh studi S2 Hukum, Jurusan Human Rights Law, di kampus yang sama.
“Kami sebenarnya sudah dapat LPDP di akhir tahun 2023 namun kami sembari mempertimbangkan kampus tujuan,” ungkap Desi.
Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, termasuk tawaran dari kampus ternama seperti Columbia University dan Johns Hopkins University, mereka akhirnya memilih University of Melbourne.
Kisah perjuangan kembar berusia 26 tahun ini sungguh mengharukan. Mereka tumbuh dalam keluarga prasejahtera di Banyuwangi, Jawa Timur.
Sejak kecil, sang ibu berjuang seorang diri sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Bahkan, demi menghidupi kedua putrinya, sang ibu sempat mengadu nasib ke Singapura, namun hanya bertahan tiga bulan karena haknya sebagai pekerja tidak dipenuhi.
Kini, ibu dan ayah sambung Devi-Desi bekerja sebagai buruh tani.
Meski hidup serba kekurangan, Devi dan Desi tak pernah menyerah pada keadaan. Desi bercerita bahwa sejak SD, mereka selalu mendapatkan bantuan pendidikan dan beasiswa berkat prestasi di kelas.
Selepas SMA, keduanya tak langsung kuliah karena keterbatasan biaya. Mereka bekerja sebagai SPG selama setahun untuk mengumpulkan modal dan mempersiapkan diri mengikuti ujian SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
Kerja keras mereka membuahkan hasil: pada tahun 2017, keduanya diterima di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Bali, Jurusan Hukum.
“Kami sewaktu S1 juga mendapat beasiswa,” tutur Devi, menyebutkan berbagai beasiswa yang mereka terima, mulai dari Beasiswa Bank Indonesia, Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), hingga beasiswa dari pemerintah daerah Banyuwangi.
Berkat beasiswa dan keringanan biaya kuliah, mereka berhasil lulus kuliah tepat waktu pada tahun 2021 dengan IPK yang membanggakan: 3,96 untuk Devi dan 3,95 untuk Desi.
Setelah lulus, Devi dan Desi bekerja di firma hukum yang sama, kemudian sempat bergabung dengan UNICEF Indonesia, hingga akhirnya mengembangkan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Banyuwangi.
Baca Juga:
Gebrakan Serang: Target 50% KDMP Beroperasi di 2026
Pengalaman sang ibu menjadi alasan utama Devi dan Desi fokus pada isu hak asasi manusia. “Itu jadi salah satu alasan kami mengambil (jurusan) Human Rights,” kata Devi.
Beasiswa LPDP berhasil mereka dapatkan hanya dalam satu kali percobaan. Mereka mengakui bahwa tes bakat skolastik yang dihadapi sangat sulit.
Namun, dengan persiapan matang dan strategi yang tepat, mereka berhasil menaklukkan tantangan tersebut.
“Selain banyak practice, juga cari kelebihan atau kelemahan kita di jenis soal yang mana,” jelas Desi.
Dalam sesi wawancara LPDP, Devi dan Desi sempat ditanya mengapa mimpi mereka sama.
“Kami jawab pada dasarnya memiliki kesamaan dan selalu berkolaborasi berusaha untuk melengkapi dalam advokasi,” ucap Desi.
Mereka berhasil meyakinkan interviewer bahwa kesamaan fokus dan pengalaman justru menguatkan upaya advokasi mereka terhadap perempuan dan anak.
Kini, Devi dan Desi tengah menikmati kehidupan sebagai mahasiswa di Melbourne. Mereka memilih kampus ini karena kualitasnya yang diakui dunia dan masa studinya yang relatif singkat, hanya satu tahun.
Harapan mereka setelah lulus adalah melanjutkan studi S3 sambil berkontribusi di ranah pendidikan dan tetap aktif dalam kegiatan sosial.
Keuntungan memiliki saudara kembar yang tertarik pada isu yang sama, menurut Desi, adalah bisa saling memotivasi dan mengingatkan untuk selalu bersyukur.
“Jadi saling mengingatkan untuk bersyukur dan mengingatkan ke niat awal kenapa kita memulai sesuatu atau mengambil keputusan,” tuturnya.
Kisah Devi dan Desi adalah bukti nyata bahwa latar belakang bukan penghalang untuk meraih mimpi.
Baca Juga:
Sumbangan ASN Pemkab Serang Ringankan Beban Warga Terdampak Banjir
Dengan semangat pantang menyerah, kerja keras, dan dukungan dari orang-orang terdekat, siapapun bisa meraih pendidikan tinggi impian dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
















