• Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, Maret 22, 2026
MatasNews.id
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
MatasNews.id
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi

Menyusuri Jejak Sejarah di Mercusuar Legendaris Pulau Madura

Yustinus Agus by Yustinus Agus
21/12/2025
0
Menyusuri Jejak Sejarah di Mercusuar Legendaris Pulau Madura
0
SHARES
1
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

JAKARTA – Pagi itu matahari baru saja mulai merangkak di balik cakrawala ketika kami bersiap meninggalkan Surabaya. Udara terasa sejuk, seakan memberi semangat bagi perjalanan yang sudah direncanakan jauh-hari: mengunjungi sebuah mercusuar bersejarah di Pulau Madura yang usianya hampir mencapai satu setengah abad. Dari hotel di Jalan Rajawali, mobil kami melaju pelan namun pasti menyusuri jalur utama menuju Jembatan Suramadu, jembatan ikonik yang menghubungkan daratan Jawa dengan Pulau Garam itu. Sesekali kami melirik ke luar jendela — laut yang luas membentang di sebelah kanan, pemandangan Selat Madura yang tenang memantulkan cahaya pagi dengan cemerlang.

 

Perjalanan yang memakan waktu lebih dari satu jam itu bukan sekadar perjalanan biasa. Lebih dari sekadar berpindah dari satu titik ke titik lain, ini adalah perjalanan menyelami jejak sejarah yang ditinggalkan masa kolonial Belanda. Jembatan Suramadu yang panjangnya membentang di atas lautan membawa kami melintasi batas geografis sekaligus mengantar pikiran kami ke masa lampau, ketika kapal-kapal besar berlayar di selat ini dengan bantuan sinyal mercusuar.

BacaJuga

Polemik Pembongkaran Jembatan Kereta Api UNESCO di Lembah Anai Picu Penolakan Warga

Pasokan Cabai Aceh Masuk Jakarta, Pedagang Soroti Kualitas yang Cepat Lembek

 

Begitu meninggalkan Surabaya dan memasuki jalan raya utama di Madura, suasana berubah. Hijaunya padi di sawah dan perkebunan rakyat yang terbentang luas di kiri kanan jalan seolah menghapus kesan gersang dan sederhana yang sering orang bayangkan tentang Madura. Ini bukan pulau yang kering dan monoton seperti stereotip biasa, melainkan sebuah lanskap yang kaya akan kehidupan dan cerita. Sawah, jalan kecil, serta kehidupan sehari-hari warga yang sibuk dengan rutinitasnya terlihat begitu kontras dengan tujuan kami: sebuah bangunan tinggi yang telah berdiri tegak sejak era kolonial.

Kemudian, setelah melewati hamparan sawah dan perkebunan, kami berbelok ke sebuah jalan kecil yang berada di tepi hamparan pohon bakau. Jalan yang tidak begitu lebar itu membawa kami semakin dekat dengan destinasi yang telah lama kami nantikan. Dari kejauhan, di ujung jalan, terlihat megah sebuah bangunan putih yang menjulang tinggi; di sanalah Mercusuar Sembilangan berdiri, anggun dan penuh wibawa. Warnanya putih bersih, kontras dengan birunya langit pagi dan kehijauan lingkungan sekitarnya. Berdiri setinggi puluhan meter dengan struktur baja yang kuat, mercusuar ini langsung mencuri perhatian kami sejak pandangan pertama.

Begitu turun dari mobil, langkah kaki kami terhenti sejenak. Di atas pintu mercusuar, terdapat sebuah plakat berbahasa Belanda yang tertancap kuat, menandakan tahun pembangunan menara ini: 1879, pada masa pemerintahan Raja Willem III dari Kerajaan Belanda. Plakat lain di bagian belakang mercusuar menunjukkan nama perusahaan kontraktor baja asal Den Haag yang membangunnya, lengkap dengan angka biaya konstruksinya pada masa itu. Meraba struktur metal tebal mercusuar sambil merenungkan angka-angka dari abad ke-19, kami seakan diajak kembali ke masa ketika kapal-kapal layar masih mengandalkan cahaya mercusuar untuk menavigasi Selat Madura yang rawan bahaya.

Baca Juga:
Bantuan Medis Malaysia Mendarat di Aceh, Harapan Baru bagi Korban Banjir dan Longsor

Kompleks mercusuar bukan hanya menara itu sendiri. Di kiri dan kanan berdiri bangunan panjang dengan kamar-kamar yang dulunya dipakai sebagai tempat tinggal para penjaga mercusuar. Meskipun telah berusia puluhan tahun, struktur bangunan ini masih terawat dengan baik. Pondasi baja, yang dicat putih keseluruhan, tampak kokoh dan mempertahankan keasliannya dari awal dibangun. Beberapa bagian bahkan masih mempertahankan jendela-jendela kaca klasik yang bisa dibuka, memberikan kesan autentik era kolonial yang tidak banyak berubah meski zaman telah berganti.

Pada masa kolonial, mercusuar ini berfungsi sebagai alat bantu navigasi penting bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Madura. Cahaya dari puncaknya yang terang mampu terlihat jauh hingga belasan mil di laut, menjadi penunjuk arah yang sangat vital bagi pelayaran menuju pelabuhan utama seperti Tanjung Perak di Surabaya. Fungsi inilah yang membuat Mercusuar Sembilangan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah pelayaran di kawasan ini. Kini, meskipun teknologi navigasi modern seperti GPS telah banyak menggantikan peran pager mercusuar, fungsi dasar dari Mercusuar Sembilangan tetap relevan hingga saat ini. Cahaya yang dipancarkan masih digunakan sebagai panduan bagi kapal yang melintas, meskipun tidak lagi seterkenal dahulu.

Namun, ada satu hal yang sedikit mengecewakan bagi kami dan para pengunjung lain: sejak beberapa tahun terakhir, pengunjung tidak lagi diperbolehkan naik hingga puncak mercusuar. Hal ini dilakukan demi alasan keamanan karena adanya pemasangan alat-alat navigasi baru di bagian atas menara. Sebagai pengunjung, tentu kami merasa ingin merasakan pengalaman melihat laut dari ketinggian puluhan meter, namun regulasi keselamatan ini membuat kami hanya bisa menikmati pemandangan dari lantai dasar dan dari luar. Tidak putus asa, kami menggunakan drone untuk menangkap sudut pandang yang lebih tinggi, merekam panorama sekitar mercusuar dan hamparan Selat Madura yang membentang luas. Meski demikian, melihat menara ini dari lantai satu juga memberikan pengalaman tersendiri.

Begitu memasuki mercusuar, kesan pertama yang kami dapat adalah betapa massifnya struktur baja yang membentuk bangunan ini. Dari pintu masuk hingga dinding-dinding di dalam, semua terbuat dari lempengan besi yang sangat tebal, dipasang rapi dan kuat sepanjang bangunan. Setiap lantai memiliki jendela kecil yang memungkinkan cahaya masuk sekaligus memberi ruang untuk melihat lanskap di luar. Tangga-tangga besi yang menuju puncak masih ada, meskipun pintu menuju area atas telah ditutup untuk umum demi alasan keselamatan. Di bagian tengah bangunan, kami melihat ruangan silindris yang dulunya digunakan sebagai lift barang — sebuah inovasi pada masanya untuk mengangkut perlengkapan dan material ke puncak mercusuar.

Selain unsur sejarahnya, mercusuar ini menawarkan banyak potensi sebagai destinasi wisata sejarah yang menarik. Area sekitarnya yang luas — kurang lebih satu hektar — memberikan ruang bagi pengunjung untuk berjalan-jalan santai, foto-foto, atau sekadar menikmati hembusan angin laut sambil merenungkan perjalanan panjang bangunan ini dari masa kolonial hingga era modern. Tempat parkir yang cukup luas juga membuat kunjungan menjadi lebih nyaman tanpa perlu khawatir mencari lahan untuk kendaraan.

 

Melangkah keluar dari kompleks mercusuar, kami berhenti sejenak menyaksikan keindahan Selat Madura di pagi hari. Perpaduan antara langit biru, laut yang tenang, dan mercusuar putih yang tegak berdiri menciptakan siluet yang begitu menenangkan. Meski tak dapat naik ke puncak, pengalaman menyentuh sejarah langsung dari struktur bangunan, membaca jejak masa lampau, serta merasakan kesejukan angin laut telah memberikan kenangan yang tak terlupakan.

Baca Juga:
APBD Banten 2025 Direvisi: Wagub Ajak Fokus Prioritas untuk Kesejahteraan Rakyat!

Perjalanan pulang memberi kami waktu untuk merenung. Kota Bangkalan dan Mercusuar Sembilangan bukan sekadar destinasi wisata; mereka adalah saksi bisu perjalanan sejarah panjang yang tak banyak orang tahu. Bangunan ini mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan jejak-jejak masa lalu, agar generasi mendatang tetap bisa belajar dan merasakan sendiri bagaimana masa lampau terjalin dengan masa kini. Dalam sunyi dan keheningan bangunan tua itu, kami menemukan sebuah pelajaran: bahwa sejarah bukan hanya tentang catatan tertulis, tetapi juga tentang bangunan yang masih berdiri tegar, menantang waktu dan terus bercerita kepada siapa pun yang mau mendengarkan.

Tags: #kolonial#madura#mercusuar
Previous Post

Lonjakan Kendaraan Roda Dua Warnai Penyeberangan Jawa–Sumatera Jelang Nataru

Next Post

Viral Video Digerebek Anak, Dua ASN Pengawas Sekolah Kehilangan Status Pegawai

Related Posts

Polemik Pembongkaran Jembatan Kereta Api UNESCO di Lembah Anai Picu Penolakan Warga
Uncategorized

Polemik Pembongkaran Jembatan Kereta Api UNESCO di Lembah Anai Picu Penolakan Warga

by Yustinus Agus
26/12/2025
0

JAKARTA - Perdebatan sengit terkait nasib Jembatan Kereta Api Lembah Anai — sebuah ikon sejarah yang telah diakui sebagai bagian dari...

Read more
Pasokan Cabai Aceh Masuk Jakarta, Pedagang Soroti Kualitas yang Cepat Lembek

Pasokan Cabai Aceh Masuk Jakarta, Pedagang Soroti Kualitas yang Cepat Lembek

24/12/2025
Penutupan Kawasan Wisata Gunung Bromo 2026: Simak Jadwal Lengkapnya

Penutupan Kawasan Wisata Gunung Bromo 2026: Simak Jadwal Lengkapnya

23/12/2025
Puncak Bogor Siap Sambut Wisatawan, Aturan Ganjil Genap Dihapus Sementara

Puncak Bogor Siap Sambut Wisatawan, Aturan Ganjil Genap Dihapus Sementara

23/12/2025
Macan Dahan, Satwa Langka yang Mengintai di Tengah Hutan Tropis

Macan Dahan, Satwa Langka yang Mengintai di Tengah Hutan Tropis

21/12/2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MatasNews.id

Menjadi salah satu media profesional dalam menyajikan fakta dan turut menangkal hoaks serta sebagai kontrol sosial sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

BERITA TERBARU

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

10/03/2026
TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

09/03/2026
Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

05/03/2026
Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

05/03/2026
Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

04/03/2026
Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

03/03/2026
HUT Satpol PP

HUT Satpol PP

03/03/2026
Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

26/02/2026

KATEGORI UTAMA

  • Adventorial
  • Daerah
  • International
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Uncategorized

Berita Terbaru

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id

No Result
View All Result
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id