JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi atasi stunting, kini tercoreng oleh praktik korupsi yang menggerogoti dari dalam! Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya buka suara, mengungkap berbagai modus kejahatan yang terjadi di Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG), atau yang lebih dikenal sebagai dapur MBG. Dana fantastis Rp 10 miliar yang digelontorkan untuk setiap SPPG, ternyata menjadi lahan basah bagi oknum-oknum tak bertanggung jawab.
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, dalam acara Zona Pangan di Jakarta Selatan, Selasa (7/10/2025), mengungkapkan bahwa godaan untuk menyelewengkan dana MBG sangat besar. Apalagi, program ini melibatkan ribuan SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Bayangin uang Rp 70 triliun itu kita turunkan ke dapur. Godaannya besar sekali,” ujar Tigor dengan nada prihatin.
Salah satu modus korupsi yang terdeteksi adalah praktik penyuplai nakal yang menawarkan bahan baku berkualitas rendah dengan iming-iming selisih keuntungan.
Tigor menyebut, dengan modus ini, para pengelola dapur MBG yang masih muda dan minim pengalaman, bisa mengantongi tambahan hingga Rp 20 juta per bulan!
“Ternyata godaan ini banyak. Ada mereka yang tergoda juga. Digoda oleh yayasan, ‘Ayo udah beli barang baku jelek. Nanti kamu saya kasih selisihnya.’ Mereka terdengar sudah ada ekspektasinya kalau bisa dapet 20 juta tiap bulan tambahan. Nah itu kita bilang tergoda. Karena apa? Karena dia akan mengorbankan kualitas bahan pangan. Ada yang sudah kita pecat juga. Ya kasihan juga. Tapi anak-anak muda pun harus paham bahwa dia harus jaga integritas dari awal,” jelas Tigor dengan nada geram.
Baca Juga:
Gubernur Banten Ajak Perempuan Bangga Kenakan Kebaya
Tak hanya itu, BGN juga menemukan bahwa banyak Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang ditugaskan sebagai Kepala SPPG, tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (SOP).
Seharusnya, mereka mengawasi proses pemasakan, namun kenyataannya, banyak yang abai dan menyerahkan sepenuhnya kepada orang lain.
Laporan keuangan SPPG juga menjadi masalah serius. Tigor menerangkan, banyak SPPG yang tidak memberikan laporan keuangan yang benar alias fiktif! Untuk mengatasi hal ini, BGN menerapkan sistem pengawasan ketat melalui virtual account (VA).
Hanya dua orang yang berhak mengambil uang dari VA, yaitu perwakilan yayasan dan Kepala SPPG.
“Nah, itu kita berikan teguran jadi SPPI-SPPI yang dalam kinerja-kinerja dapurnya sering banyak masalah. Masalah itu tidak hanya tadi tidak mengikut SOP, juga tidak memberikan laporan keuangan yang benar,” terang Tigor.
“Korupsi, kami atasi dengan VA, virtual Account. Itu kayak satu dapur dikasih hanya satu ATM. ATM ini boleh diambil uangnya oleh dua orang. Itu kita itu sebenarnya memasang jangkar supaya jangan dikorupsi. Sebenarnya itu. Rp 10 miliar kan per dapur,” tutup Tigor.
Baca Juga:
PWI Kepri: Zulmansyah Layak Pimpin Lagi! Ini Alasannya
Dengan terkuaknya skandal korupsi ini, BGN diharapkan dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh dan memperketat pengawasan terhadap program MBG. Jangan sampai, niat baik pemerintah untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia, justru menjadi bancakan para koruptor!
















