JAKARTA – Di tengah krisis ekonomi dan pertanian yang melanda Maroko, Idul Adha tahun ini, 7 Juni 2025, dirayakan secara berbeda. Untuk pertama kalinya di bawah pemerintahan Raja Mohammed VI, ritual penyembelihan hewan ditiadakan.
Keputusan ini, yang diumumkan melalui surat kerajaan pada Februari lalu, merupakan respons atas melonjaknya harga domba—hingga US$600 per ekor—akibat tujuh tahun kekeringan yang mengurangi populasi domba hingga 38%. Upah minimum Maroko hanya sekitar US$335 per bulan, membuat biaya tersebut tak terjangkau bagi banyak warga.
Surat kerajaan tersebut menyatakan bahwa melakukan penyembelihan hewan dalam situasi sulit ini akan merugikan banyak rakyat, terutama mereka yang berpenghasilan terbatas. Raja Mohammed VI, sebagai Amir al-Muminin (Panglima Umat Beriman), akan melakukan kurban atas nama seluruh rakyat Maroko.
Baca Juga:
Jakarta-Surabaya 8 Jam? DAMRI Bikin Geger dengan Klaim Bus ‘Super Cepat’!
Keputusan ini mengingatkan pada kebijakan serupa yang pernah diterapkan mendiang Raja Hassan, tiga kali selama pemerintahannya, karena alasan serupa atau pasca Perang Pasir 1963.
Mohammed Jadri, ekonom dan direktur Observatory of Government Action, menilai keputusan ini bermanfaat karena daya beli warga telah menurun drastis. Pembatalan kurban, menurutnya, dapat menyelamatkan mereka dari pengeluaran besar.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah mengalokasikan 700 juta dirham (sekitar US$76,5 juta) untuk merestrukturisasi sektor pertanian dan menghapus utang 50.000 peternak, seperti diumumkan Menteri Pertanian Ahmed El Bouari pada 22 Mei. Inisiatif ini diharapkan dapat membantu memulihkan sektor pertanian Maroko dan meringankan beban ekonomi rakyat.
Baca Juga:
Hutan Rusak di Jawa Barat, Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat untuk Reboisasi
“Melakukannya dalam situasi sulit seperti ini akan menyebabkan kerugian nyata bagi banyak rakyat kita, terutama mereka yang berpenghasilan terbatas,” bunyi surat kerajaan tersebut.
















