• Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Selasa, Maret 24, 2026
MatasNews.id
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
MatasNews.id
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi

Kisah Keluarga Penghuni Gua di Jombang: Perpindahan Misterius dari Pedalaman Hutan Anggas Wesi

Yustinus Agus by Yustinus Agus
29/11/2025
0
Indonesia Resmi Puncaki ASEAN dalam Capaian Indikasi Geografis, Lampaui Thailand
0
SHARES
2
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

JAKARTA – Malam di hutan jati pedalaman Gua Anggas Wesi, terletak di Desa Sumberjo, Wonosalam, Jombang, sempat menyimpan kisah yang menarik — tentang sebuah keluarga yang memilih hidup jauh dari keramaian, menetap di lereng gua yang terpencil. Namun kini, keluarga itu telah memutuskan untuk berpindah tempat tinggal, setelah keberadaan mereka terdeteksi secara resmi oleh pengelola hutan.

Gua Anggas Wesi sendiri berada di petak 37F, Resort Pemangkuan Hutan Sumberjo, di bawah pengelolaan Perhutani, bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jabung. Kawasan ini termasuk kategori “kawasan penggunaan khusus” (KPKh), dengan luas sekitar 0,1 hektare.

Keluarga itu — terdiri dari seorang pria bernama Joko Mulyono, istrinya, seorang anak perempuan, dan seorang anak laki-laki — berasal dari Kecamatan Jogoroto, Jombang. Sekitar dua bulan terakhir, mereka mendirikan tenda di sebelah kanan mulut gua.

BacaJuga

Polemik Pembongkaran Jembatan Kereta Api UNESCO di Lembah Anai Picu Penolakan Warga

Pasokan Cabai Aceh Masuk Jakarta, Pedagang Soroti Kualitas yang Cepat Lembek

Namun, ketika warga dan petugas Perhutani mulai tahu keberadaan mereka, pilihan hidup di tepi gua di hutan jati tak lagi memungkinkan. Kepala BKPH Jabung, Tarmidi, mengatakan bahwa sejak diketahui publik, keluarga tersebut telah meninggalkan tenda di dekat mulut gua dan mendirikan tenda baru menjauh — naik ke kawasan hutan di atas gua.

Saat tim Perhutani mendatangi tenda baru mereka dua hari lalu, tenda itu ditemukan dalam kondisi kosong. Meskipun peralatan mereka masih berada di dalam tenda — menandakan bahwa lokasi tersebut masih aktif dihuni — penghuni tak tampak di tempat.

Tak hanya itu, keluarga ini ternyata membuat jalan setapak baru — melewati hutan — agar saat keluar dari area gua mereka tidak melewati Gua Anggas Wesi. Jalan ini bermuara ke kawasan hutan lain yang dikenal sebagai Hutan Watuseno, jalur terdekat menuju perkampungan.

Informasi menarik muncul soal bagaimana keluarga ini bisa bertahan hidup di tengah hutan. Menurut keterangan yang diperoleh Perhutani dari seorang pria lanjut usia yang sudah sejak lama mendiami gua — Sudarmaji (68) — sang kepala keluarga, Joko, ternyata bekerja sebagai satpam di Mojokerto. Setiap tiga hari sekali, ia keluar hutan membawa karung berisi kebutuhan pokok untuk keluarganya.

Baca Juga:
Wagub Banten Resmikan GETAR 1 Azzikri: Catur dan Voli Meriahkan Perayaan Kemerdekaan

Awalnya, ketika tim Perhutani pertama menemukan mereka, keluarga ini mengaku tinggal di dalam hutan untuk menjalankan ritual di gua. Namun, setelah dilakukan pemantauan acak pagi, siang, sore, dan malam, tidak ditemukan satu pun indikasi bahwa ritual tersebut pernah dilakukan. Ini membuat petugas curiga bahwa alasan ritual hanyalah kedok — “indikasi menyembunyikan sesuatu,” kata Tarmidi.

Meski alasan pastinya sulit dipastikan, keputusan untuk pindah ini bukan tanpa akibat. Menurut aturan di kawasan hutan lindung seperti Gua Anggas Wesi, tinggal tanpa izin adalah pelanggaran. Tarmidi menekankan bahwa tindakan tersebut melanggar Pasal 50 Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Pihak Perhutani pun mengindikasikan, jika pemilik tenda tidak bersikap proaktif, maka akan dilakukan tindakan tegas — pengusiran.

Sementara itu, kisah keluarga ini berbeda dengan kisah Sudarmaji — pria dari Boyolali yang sudah sekitar 42 tahun menetap di Gua Anggas Wesi. Meski sudah puluhan tahun tinggal di gua alami itu, kehidupan Sudarmaji penuh dengan kesederhanaan: dua hari yang lalu ia setuju direlokasi ke gubuk berukuran 4×6 meter persegi yang akan dibangun Perhutani sekitar 50–100 meter dari gua. Rencananya, gubuk itu akan digunakan sebagai tempat tinggal dan memasak, agar gua alami dapat kembali “bersih” dari pemukiman manusia.

Sebelumnya, kondisi Gua Anggas Wesi memang cukup kumuh — dengan ruang tidur sekitar 7×5 meter, area semedi, sejumlah arca dan peralatan ritual, dapur dari kayu bakar, ember, galon, serta banyak peralatan memasak yang tampak tidak tertata rapi. Bau apek dan suasana lembap membuat banyak pengunjung atau peziarah enggan datang lagi. Kondisi ini salah satu alasan pihak berwenang ingin merelokasi penghuni dan mengembalikan gua ke kondisi alami.

Bagi Sudarmaji, relokasi bukan semata soal meninggalkan gua, melainkan juga upaya untuk membantunya hidup lebih manusiawi. Selain akan ditempati gubuk baru, ia juga kini diberi lahan garapan seluas sekitar 1.500 meter persegi oleh Perhutani — melalui kelompok masyarakat hutan setempat, yakni LMDH Mitra Wana Sejahtera Desa Lebak Jabung. Di lahan tersebut, Sudarmaji menanam palawija secara tumpang sari sebagai sumber penghidupan. Ia juga disiapkan sebagai “penerima wisatawan atau peziarah gua,” dengan syarat tidak mengajak orang lain tinggal di dalam hutan.

Narasi perpindahan ini membawa banyak pertanyaan. Apa yang sebenarnya mendorong keluarga tersebut memilih masuk hutan? Ritual, pelarian, keterasingan, atau sekadar mencari ketenangan? Jawaban pasti sulit diperoleh. Namun langkah mereka — dari tenda di mulut gua, mendirikan tenda baru, membuat jalan setapak sendiri, hingga akhirnya hilang dari pantauan — seolah menggambarkan usaha mereka hidup di balik bayang-bayang, jauh dari jangkauan masyarakat dan institusi.

Sisi lain dari kisah ini adalah upaya rehabilitasi lingkungan dan pemulihan fungsi gua alami. Relokasi Sudarmaji dan upaya membersihkan gua dari pemukiman manusia menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi bukan sekadar soal menjaga alam, tapi juga menghadirkan solusi manusiawi bagi orang-orang yang telah lama hidup di lingkungannya.

Baca Juga:
Polsek Rawalumbu Jadi Sarang Mafia? Laporan Warga Diabaikan, Pelaku Perusakan Malah Dilindungi!

Kisah di Gua Anggas Wesi menjadi pengingat bahwa ruang alam—hutan, gua, dan kawasan lindung—tak pernah semata soal tanah atau bebatuan, tetapi tentang manusia: tentang pilihan hidup, tentang kerinduan pada sunyi, dan tentang usaha keras bertahan hidup — seringkali dalam diam dan jauh dari sorot publik.

Tags: #keluarga#penghunigua
Previous Post

Indonesia Resmi Puncaki ASEAN dalam Capaian Indikasi Geografis, Lampaui Thailand

Next Post

Hutan Tropis Sumatera di Ambang Krisis: Keindahan & Keanekaragaman Alam Terancam Punah

Related Posts

Polemik Pembongkaran Jembatan Kereta Api UNESCO di Lembah Anai Picu Penolakan Warga
Uncategorized

Polemik Pembongkaran Jembatan Kereta Api UNESCO di Lembah Anai Picu Penolakan Warga

by Yustinus Agus
26/12/2025
0

JAKARTA - Perdebatan sengit terkait nasib Jembatan Kereta Api Lembah Anai — sebuah ikon sejarah yang telah diakui sebagai bagian dari...

Read more
Pasokan Cabai Aceh Masuk Jakarta, Pedagang Soroti Kualitas yang Cepat Lembek

Pasokan Cabai Aceh Masuk Jakarta, Pedagang Soroti Kualitas yang Cepat Lembek

24/12/2025
Penutupan Kawasan Wisata Gunung Bromo 2026: Simak Jadwal Lengkapnya

Penutupan Kawasan Wisata Gunung Bromo 2026: Simak Jadwal Lengkapnya

23/12/2025
Puncak Bogor Siap Sambut Wisatawan, Aturan Ganjil Genap Dihapus Sementara

Puncak Bogor Siap Sambut Wisatawan, Aturan Ganjil Genap Dihapus Sementara

23/12/2025
Menyusuri Jejak Sejarah di Mercusuar Legendaris Pulau Madura

Menyusuri Jejak Sejarah di Mercusuar Legendaris Pulau Madura

21/12/2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MatasNews.id

Menjadi salah satu media profesional dalam menyajikan fakta dan turut menangkal hoaks serta sebagai kontrol sosial sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

BERITA TERBARU

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

10/03/2026
TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

09/03/2026
Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

05/03/2026
Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

05/03/2026
Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

04/03/2026
Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

03/03/2026
HUT Satpol PP

HUT Satpol PP

03/03/2026
Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

26/02/2026

KATEGORI UTAMA

  • Adventorial
  • Daerah
  • International
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Uncategorized

Berita Terbaru

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id

No Result
View All Result
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id