MAGELANG – SMA Taruna Nusantara Magelang, Jawa Tengah, dikenal sebagai sekolah dengan sistem pendidikan yang ketat dan disiplin tinggi. Berada di bawah pengawasan Yayasan Pengembangan Potensi Sumber Daya Pertahanan (YPPSDP) Kementerian Pertahanan RI, sekolah ini menerapkan sistem asrama bagi seluruh siswanya. Bahkan, para guru dan kepala sekolah pun tinggal di rumah dinas yang mengelilingi asrama para murid, menciptakan lingkungan pendidikan yang terintegrasi.
Proses seleksi masuk ke Taruna Nusantara (Tarnus) pun sangat ketat. Selain nilai akademis SMP, calon siswa harus mengikuti tes akademis dua kali, pemeriksaan kesehatan, wawancara, psikologi, hingga kesegaran jasmani.
Tak heran, siswa-siswi yang berhasil lolos seleksi adalah mereka yang memiliki potensi dan komitmen tinggi.
Di usia yang masih tergolong remaja, tinggal jauh dari orang tua sambil harus mempertahankan nilai baik bukanlah hal yang mudah.
Namun, kehidupan di asrama Tarnus membentuk karakter siswa menjadi lebih mandiri dan disiplin.
Pada Rabu (8/10/2025), Kompas.com berkesempatan melihat langsung momen seluruh murid Taruna Nusantara Magelang makan siang serentak di Ruang Komunikasi Bersama selama 15 menit, di sela-sela jam pelajaran. Tarnus memiliki dapur sekolah yang memasak 90 menu berbeda setiap harinya untuk menjamin asupan gizi pelajarnya.
Tak sedikit pelajar yang mengaku awalnya bersekolah di Tarnus karena disuruh oleh orang tua.
Namun, setelah masuk sekolah dan merasakan kehidupan asrama, mereka justru merasa bersyukur karena bisa belajar mandiri dan keluar dari zona nyaman di rumah.
Sambil menyantap nasi, capcay, ayam, dan tahu goreng yang hangat, siswi kelas 11 bernama Gandes asal Malang berbagi jadwal kegiatan dalam sehari.
Murid Tarnus bangun pukul 04.00 pagi dan baru kembali tidur pukul 24.00 malam!
Baca Juga:
Rapat Koordinasi Percepatan Pengadaan Lahan Exit Tol RS Adhyaksa
“Dimulai bangun dari jam 4.00 pagi, lalu habis olahraga itu ada kegiatan belajar mengajar sampai jam 13.45. Terus ada kegiatan sore seperti kadang olahraga atau kegiatan wajib kayak latihan pleton atau latihan ekskul,” ungkap Gandes kepada Kompas.com.
“Lalu malam itu dilanjutkan setelah makan malam pukul 18.00, setelah makan malam belajar sampai pukul 21.00. Lalu apel malam, lalu tidur,” lanjut Gandes.
Teman Gandes, Mawar (nama samaran), menimpali. Ia berujar bahwa rasa kantuk merupakan bagian dari keseharian mereka ketika belajar di kelas.
Pasalnya, mereka juga harus menyiapkan pakaian sekolah tanpa bantuan pembantu.
“Cuci baju sendiri, nyetrika juga sendiri,” ujar Mawar.
Gandes membagikan trik untuk menghilangkan rasa kantuk, yaitu dengan pergi cuci muka di kamar mandi.
“Biasanya kalau di kelas itu kalau kita ngantuk itu kadang itu disuruh cuci muka, Kak. Jadi itu cara paling efektif buat kita lebih mudah bangun gitu,” tutur Gandes.
Selain jadwal yang padat dan tuntutan untuk mandiri, ada satu lagi tantangan yang harus dihadapi siswa Tarnus: penggunaan HP yang dibatasi. HP hanya boleh digunakan setiap hari Sabtu.
Hal ini bertujuan untuk meminimalkan distraksi dan memaksimalkan fokus siswa pada kegiatan belajar dan pengembangan diri.
Baca Juga:
Kritik Menguat di Senayan, Menteri Kehutanan Dituntut Bertanggung Jawab atas Kerusakan Hutan
Kehidupan di SMA Taruna Nusantara memang penuh suka dan duka. Namun, pengalaman tinggal di asrama, belajar mandiri, dan berdisiplin tinggi membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang tangguh, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
















