JAKARTA – Indonesia pernah menyaksikan peristiwa luar biasa: pembebasan diam-diam seorang agen CIA, Allen Lawrence Pope, yang terancam hukuman mati.
Peristiwa yang terjadi pada tahun 1962 ini, terungkap kembali 67 tahun kemudian, mengungkapkan sebuah halaman sejarah yang penuh misteri.
Penangkapan Agen CIA di Tengah Pemberontakan Permesta
Mei 1958, Indonesia menghadapi pemberontakan Permesta di Sulawesi. Dalam upaya menumpas pemberontakan, TNI menembak jatuh sebuah pesawat yang menjatuhkan bom di Ambon, menewaskan 23 orang. Pilotnya, Allen Lawrence Pope, ternyata agen CIA yang menjalankan misi rahasia untuk mendukung pemberontakan tersebut. Bukti keterlibatannya, termasuk buku catatan misi dan kartu identitas militer AS, ditemukan di pesawat yang hancur. (Audrey Kahin dan George Kahin, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri, 1997).
Kemarahan Presiden Soekarno meledak. Dalam autobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), ia menyatakan keyakinannya, “Aku 99,9% yakin bahwa Pope seorang agen CIA. Di setiap negara yang baru berkembang, agen-agen Amerika banyak berkeliaran.”
Pope, seorang veteran pilot tempur dari pangkalan AS di dekat Filipina, bukanlah satu-satunya agen CIA yang terlibat, namun ia satu-satunya yang tertangkap. (Tim Weiner, Membongkar Kegagalan CIA, 2008).
Dari Hukuman Mati ke Pengampunan Rahasia
Setelah terbukti bersalah, Pope dijatuhi hukuman mati. Namun, sebuah permohonan yang mengharukan mengubah segalanya. Istri, ibu, dan saudara perempuan Pope memohon pengampunan kepada Presiden Soekarno. Soekarno, dalam kenangannya, mengungkapkan, “Bila sudah menyangkut seorang perempuan, hatiku jadi lemah.”
Baca Juga:
Kompetisi Perhotelan SMK: Tiket Emas Raih Sertifikasi Profesi!
Pada tahun 1962, Pope dibebaskan secara rahasia. Soekarno sendiri berkata, “Atas kemurahan hati Presiden, engkau diberi ampun. Tetapi, ini kulakukan dengan diam-diam.” (Pengampunan ini dikategorikan sebagai amnesti oleh Mahkamah Agung RI, dengan syarat Pope tidak boleh berbicara kepada publik).
Tujuh tahun kemudian, Soekarno mengenang, “Dia patuh. Dia bersembunyi di sebuah desa kecil di Amerika sampai pemberontakan yang dibantunya itu sudah dilupakan oleh setiap orang, kecuali kami.”
Perjanjian Rahasia? Sebuah Misteri yang Terus Bertahan
Pembebasan Pope memicu spekulasi tentang kemungkinan adanya perjanjian rahasia antara Soekarno dan pemerintah AS. Meskipun Soekarno sendiri tidak pernah mengungkapkannya secara terbuka, putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra, dalam memoarnya, Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku (2012), menyiratkan kemungkinan adanya pertukaran, misalnya proyek pembangunan jalan di Jakarta sebagai imbalan pembebasan Pope.
Soekarno hanya menjawab dengan sindiran, “Mudah-mudahan Amerika kirim Pope yang lain. Kalau dia tertangkap nanti, aku minta ditukar dengan Ava Gardner dan Yvonne De Carlo (artis ternama Hollywood).”
Allen Lawrence Pope hidup tenang di AS hingga wafat pada 2020 di usia 91 tahun, membawa rahasia perjanjian tersebut hingga ke liang lahat.
Baca Juga:
Ketua Umum PWI Zulmansyah Sekedang Kunjungi Sekretariat PWI Banten
Kisah ini menjadi pengingat akan kompleksitas sejarah dan misteri yang masih tersimpan di balik peristiwa-peristiwa penting.
















