JAKARTA – Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar dunia dan terbesar keempat di dunia (sekitar 218 juta jiwa), menjadi rebutan AS dan Tiongkok di Asia Tenggara. Menjalankan kebijakan luar negeri netral, Indonesia menyeimbangkan kedua negara adidaya ini untuk memaksimalkan keuntungannya. Salah satu arena perebutan pengaruh ini adalah sektor pertahanan, khususnya manufaktur dan ekspor senjata.
Indonesia tengah melakukan modernisasi militer besar-besaran, fokus pada peningkatan kemampuan angkatan laut dan udara karena letak geografisnya. Pembelian jet tempur KAAN dari Turki menandai pergeseran signifikan dalam strategi pertahanan Indonesia, menunjukkan ketidakberpihakan pada negara besar mana pun.
Kontrak senilai 10 miliar dolar AS untuk pengiriman jet tempur KAAN pada 2030-an ini mengejutkan banyak pihak. Menurut National Interest, kesepakatan ini bukan hanya lompatan besar bagi kemampuan udara Indonesia, tetapi juga mencerminkan kemerosotan industri pertahanan Barat. Ketidakmampuan memproduksi massal sistem rumit dan kalah bersaing dengan China, Rusia, dan kini Turki dalam desain pesawat terbang, membuat sektor pertahanan Barat stagnan, mengandalkan reputasi masa lalu. Indonesia menjadi contoh nyata kejatuhan ini.
Baca Juga:
Pemkab Serang Terima Penghargaan Kabupaten Peduli HAM dari Kementerian
Amerika Serikat, yang membutuhkan hubungan erat dengan Jakarta untuk melawan pengaruh China, menghadapi kendala. F-35 dianggap terlalu mahal dan rumit bagi negara berkembang seperti Indonesia. Pesawat tempur KAAN mengisi kekosongan ini, menjadi buah dari serangkaian keputusan AS yang dimulai sejak era Obama. Pengeluaran Turki dari program pengembangan F-35 setelah membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia, justru mendorong Turki untuk menasionalisasikan pengembangan militernya.
Hasilnya, Turki kini memproduksi kapal perang dan pesawat tempur dengan kecepatan yang mengesankan, menciptakan kapasitas produksi pertahanan dalam negeri yang luar biasa. Ankara, sebagai kekuatan regional yang bangkit, tak gentar menghadapi apa yang dianggapnya sebagai agresi Barat. Kehilangan akses ke F-35 justru mendorong Turki membangun kemampuan pesawat tempur generasi kelima sendiri.
Baca Juga:
Sidang Pansus DPRD DKI Ungkap Praktik Parkir Ilegal yang Merajalela
Kini, Turki bersaing dengan Amerika, Rusia, dan China di pasar ekspor global. Kesepakatan KAAN dengan Indonesia menjadi kemenangan besar pertama Turki. Ekspor senjata ini berdampak jangka panjang, mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut, memberi Turki pengaruh signifikan di Asia Tenggara, sebagian besar dengan mengorbankan kekuatan Eropa dan Amerika. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan kabar baik ini di media sosial, menyebut Indonesia sebagai saudara dan menyatakan bahwa 48 KAAN akan diproduksi di Turki dan diekspor ke Indonesia, dengan memanfaatkan kemampuan lokal Indonesia dalam proses produksi.
















