• Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, Maret 19, 2026
MatasNews.id
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
MatasNews.id
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi

IPB Hadirkan Rendang Siap Saji Berumur Simpan Dua Tahun

Yustinus Agus by Yustinus Agus
14/12/2025
0
IPB Hadirkan Rendang Siap Saji Berumur Simpan Dua Tahun
0
SHARES
3
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

BANDUNG – Dalam kondisi darurat seperti bencana alam, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh tim kemanusiaan adalah penyediaan makanan yang tahan lama, bergizi, dan aman untuk dikonsumsi dalam jangka waktu panjang. Di tengah situasi krisis akibat banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra akhir-akhir ini, sebuah inovasi pangan dari dunia akademik berhasil mencuri perhatian publik dan para pekerja kemanusiaan. Sebuah tim di IPB University berhasil mengembangkan rendang yang dapat bertahan hingga dua tahun, membuka peluang baru dalam respons darurat dan manajemen logistik bencana yang efisien.

Inovasi ini bukan sekadar soal memperpanjang umur simpan makanan tradisional Nusantara. Rendang, yang selama ini dikenal sebagai masakan khas Minangkabau dengan rasa pedas, kaya rempah, dan aroma menggugah selera, juga punya karakteristik tersendiri yang membuatnya cocok untuk dikembangkan sebagai makanan siap saji tahan lama. Umumnya, rendang konvensional memiliki ketahanan yang cukup baik dibandingkan makanan lain karena kandungan rempah yang kuat dan metode memasaknya yang lama serta mengurangi kadar air dalam bumbu. Namun biasanya rendang konvensional hanya dapat bertahan beberapa minggu — paling lama beberapa bulan dalam kondisi yang tepat. Itu pun tidak mendekati dua tahun seperti yang dicapai oleh tim peneliti inovatif ini.

Motivasi di balik inovasi ini bermula dari keprihatinan mendalam atas bencana yang menimpa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, di mana ribuan orang kehilangan rumah dan mata pencaharian mereka. Bagi banyak pihak, termasuk komunitas ilmiah dan relawan, tantangan terbesar bukan hanya mengirimkan bantuan logistik, tetapi memastikan makanan yang didistribusikan tidak mudah rusak di tengah minimnya fasilitas penyimpanan di area terdampak bencana, serta fleksibel dalam distribusi jangka panjang.

BacaJuga

Polemik Pembongkaran Jembatan Kereta Api UNESCO di Lembah Anai Picu Penolakan Warga

Pasokan Cabai Aceh Masuk Jakarta, Pedagang Soroti Kualitas yang Cepat Lembek

Melihat peluang tersebut, tim dari Fakultas Teknologi Pangan IPB University, bekerja sama dengan jaringan alumni dan mitra swasta, mengambil langkah ambisius: menghasilkan rendang dengan umur simpan sangat panjang tanpa mengurangi kualitas rasa dan nilai gizinya. Pendekatan ini melibatkan kombinasi teknik tradisional pembuatan rendang yang autentik dipadu dengan teknologi pengolahan pangan modern yang canggih.

Prosesnya dimulai dengan resep rendang yang sudah teruji, yaitu daging sapi yang dimasak bersama santan kelapa, serai, lengkuas, daun kunyit, kapulaga, cengkeh, dan rempah-rempah khas lainnya. Bumbu-bumbu tersebut tidak hanya memberikan cita rasa yang khas, tetapi juga memiliki sifat antimikroba alami yang membantu memperlambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan. Namun, untuk mencapai target daya tahan hingga dua tahun, tim peneliti tidak cukup mengandalkan resep tradisional saja.

Tahapan krusial yang membedakan produk inovatif ini adalah teknologi sterilisasi dan pengemasan canggih yang digunakan setelah proses memasak selesai. Setelah rendang matang sempurna, makanan diletakkan dalam wadah kedap udara yang khusus dirancang untuk menjaga kualitas dan kebersihan produk. Kemudian, melalui proses sterilisasi komersial — teknik yang biasa digunakan dalam pengolahan makanan industri — wadah berisi rendang dipanaskan pada suhu tertentu dalam waktu tertentu sehingga semua kontaminan biologis yang mampu merusak makanan dimusnahkan. Teknik ini sejenis dengan pengemasan retort yang membuat makanan siap saji menjadi aman dan stabil untuk disimpan dalam jangka panjang.

Selain itu, sebelum proses sterilisasi, rendang dikemas dalam kondisi hampa udara (vakum), teknik yang secara signifikan turut menekan pertumbuhan mikroba di dalam kemasan karena ketiadaan oksigen yang penting bagi banyak bakteri perusak. Hasilnya adalah produk yang aman dari kontaminasi, tetap lezat meskipun disimpan dalam waktu lama, dan memiliki profil gizi yang tetap terjaga.

Baca Juga:
Serangan Siber Gagal di Sidang Umum PBB: AS Sita 100 Ribu SIM Card, Dunia Selamat dari Kekacauan!

Keberhasilan teknologi ini bukan sekadar soal kemampuan bertahan lama. Ada aspek psikologis yang mendalam di baliknya. Rendang bukan hanya makanan; bagi banyak orang, khususnya mereka yang berasal dari daerah Sumatra Barat dan sekitarnya, rendang adalah simbol kekuatan, kebersamaan, dan solidaritas. Dengan memberikan rendang sebagai salah satu bentuk bantuan, bukan hanya kebutuhan fisik yang dipenuhi, tetapi juga kebutuhan emosional mereka yang merasa jauh dari rumah, kehilangan banyak hal, namun tetap terhubung dengan warisan budaya mereka.

Inisiatif ini kemudian diwujudkan dalam sebuah program kemanusiaan besar yang melibatkan ratusan relawan dari berbagai latar belakang. Mahasiswa, dosen, alumni IPB University, serta sukarelawan dari komunitas masyarakat bergabung dalam kegiatan yang diberi nama “marandang basamo”, yang berarti berdampingan bersama dalam memasak. Kegiatan ini bukan hanya soal kerja bakti membuat rendang dalam jumlah besar, tetapi juga mencerminkan spirit gotong royong dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam produksi perdana tersebut, lebih dari satu ton rendang siap simpan diproduksi dan kemudian disiapkan untuk dikirim ke daerah-daerah terdampak bencana. Distribusi bantuan ini dilakukan melalui jaringan relawan yang tersebar luas, termasuk dukungan dari influencer, komunitas diaspora Minang, dan berbagai platform kemanusiaan agar bantuan dapat sampai tepat sasaran.

Bagi penerima bantuan, terutama mereka yang kehilangan sumber makanan mereka karena rumah dan peralatan memasak rusak akibat banjir, rendang ini menjadi makanan siap santap yang bersifat portabel namun tetap menggugah selera. Bahkan dalam kondisi penyimpanan yang kurang ideal sekalipun, rendang ini tetap aman dikonsumsi berkat proses sterilisasi yang dilakukan, sehingga ketahanan hingga dua tahun bukan hanya angka semata, tetapi kenyataan yang bisa dirasakan dalam situasi nyata.

Inovasi seperti ini membuka pandangan baru tentang bagaimana makanan tradisional dapat diadaptasi untuk kebutuhan modern dan situasi darurat. Di masa depan, pendekatan ini diharapkan dapat menjadi model dalam memperkuat ketahanan pangan masyarakat, khususnya di wilayah rawan bencana. Dengan teknologi yang tepat, makanan yang dicintai oleh masyarakat bisa menjadi bagian dari solusi praktis dan berkelanjutan dalam menghadapi krisis.

Lebih jauh lagi, proyek ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara akademisi, komunitas lokal, dan sektor industri dapat menghasilkan solusi nyata yang berdampak luas. Inovasi rendang tahan lama ini tidak hanya memberikan kontribusi langsung pada situasi bencana saat ini, tetapi juga membuka diskusi lebih luas tentang pengembangan pangan siap saji lokal yang dapat berdaya saing di pasar domestik maupun internasional.

Baca Juga:
Rahasia Sehat Alami: Yogurt, Makanan Enak dengan 6 Manfaat Super Dahsyat!

Dengan cara ini, warisan kuliner Nusantara seperti rendang bukan hanya dipertahankan sebagai kekayaan budaya, tetapi juga dimanfaatkan secara strategis untuk menjawab tantangan-tantangan besar yang dihadapi dunia modern.

Tags: #duatahun#ipb#rendang
Previous Post

Oma dan Opa Antre Kartu Layanan Gratis di Car Free Day demi Hemat Ongkos

Next Post

Harga Naik, Minat Turun: Ancaman Nyata Mobil Listrik Tanpa Insentif

Related Posts

Polemik Pembongkaran Jembatan Kereta Api UNESCO di Lembah Anai Picu Penolakan Warga
Uncategorized

Polemik Pembongkaran Jembatan Kereta Api UNESCO di Lembah Anai Picu Penolakan Warga

by Yustinus Agus
26/12/2025
0

JAKARTA - Perdebatan sengit terkait nasib Jembatan Kereta Api Lembah Anai — sebuah ikon sejarah yang telah diakui sebagai bagian dari...

Read more
Pasokan Cabai Aceh Masuk Jakarta, Pedagang Soroti Kualitas yang Cepat Lembek

Pasokan Cabai Aceh Masuk Jakarta, Pedagang Soroti Kualitas yang Cepat Lembek

24/12/2025
Penutupan Kawasan Wisata Gunung Bromo 2026: Simak Jadwal Lengkapnya

Penutupan Kawasan Wisata Gunung Bromo 2026: Simak Jadwal Lengkapnya

23/12/2025
Puncak Bogor Siap Sambut Wisatawan, Aturan Ganjil Genap Dihapus Sementara

Puncak Bogor Siap Sambut Wisatawan, Aturan Ganjil Genap Dihapus Sementara

23/12/2025
Menyusuri Jejak Sejarah di Mercusuar Legendaris Pulau Madura

Menyusuri Jejak Sejarah di Mercusuar Legendaris Pulau Madura

21/12/2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MatasNews.id

Menjadi salah satu media profesional dalam menyajikan fakta dan turut menangkal hoaks serta sebagai kontrol sosial sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

BERITA TERBARU

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

10/03/2026
TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

09/03/2026
Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

05/03/2026
Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

05/03/2026
Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

04/03/2026
Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

03/03/2026
HUT Satpol PP

HUT Satpol PP

03/03/2026
Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

26/02/2026

KATEGORI UTAMA

  • Adventorial
  • Daerah
  • International
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Uncategorized

Berita Terbaru

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id

No Result
View All Result
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id