JAKARTA – Di tengah hiruk pikuk pembangunan yang ambisius, Ibu Kota Nusantara (IKN) terus menjadi sorotan. Digadang-gadang sebagai pengganti Jakarta yang sarat masalah, IKN justru memunculkan paradoks: megah bak Singapura, namun terasa sepi dan menyimpan ironi bagi sebagian warga lokal.
Clariza, seorang wisatawan asal Sulawesi, tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat mengunjungi IKN.
“Rasanya seperti berada di Singapura. Bersih, modern, sesuatu yang sulit dipercaya ada di tengah hutan,” ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian.
Ia berharap IKN benar-benar menjadi pusat pemerintahan yang baru, sehingga pembangunan lebih merata di seluruh Indonesia, tak hanya terpusat di Pulau Jawa.
Namun, di balik kemegahan Istana Garuda dan Taman Kusuma Bangsa yang mencuri perhatian, terselip keanehan. Gedung-gedung kementerian yang menjulang, rumah sakit yang modern, jalan-jalan yang mulus, serta bandara yang tengah dibangun, seolah kontras dengan suasana sepi yang menyelimuti. Meskipun ribuan ASN dan pekerja konstruksi telah menghuni IKN, kesan kota hantu masih terasa kuat.
Saat ini, IKN lebih dikenal sebagai destinasi wisata yang memikat rasa ingin tahu. Selama libur Lebaran 2025, tercatat 64 ribu wisatawan domestik dan mancanegara berbondong-bondong mengunjungi IKN.
Baca Juga:
Gebyar Kesehatan Gratis Rayakan HUT Jakarta ke-500
Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari negara-negara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, China, Eropa, dan Korea Selatan, untuk menyaksikan langsung transformasi Indonesia yang tengah berlangsung.
Namun, di balik gemerlap pariwisata IKN, tersimpan cerita pilu dari warga adat suku Balik yang tinggal di tepi Sungai Sepaku. Arman, seorang petani dan nelayan lokal, mengungkapkan bahwa pembangunan IKN telah mengubah lingkungan tempat tinggalnya.
Banjir semakin parah akibat pembangunan instalasi pengolahan air, dan hasil panennya merosot hingga separuhnya. Ironisnya, warga lokal justru kesulitan mendapatkan air bersih, sementara air melimpah ruah mengalir ke IKN.
Arman menyadari bahwa pembangunan IKN adalah sebuah simalakama. Jika proyek ini berhenti, mereka akan kehilangan segalanya. Namun, jika terus berlanjut tanpa melibatkan mereka, mereka pun akan kehilangan identitas dan mata pencaharian.
Ia berharap, IKN dapat memberikan dampak positif bagi dirinya dan warga Balik, salah satunya melalui pengembangan budaya dan pariwisata yang inklusif.
IKN adalah sebuah proyek ambisius yang menyimpan harapan sekaligus tantangan. Di satu sisi, ia menawarkan kemegahan dan modernitas yang memukau wisatawan. Namun, di sisi lain, ia menyimpan ironi bagi warga lokal yang merasa terpinggirkan.
Baca Juga:
Bisakah Timnas Indonesia Pecahkan Rekor? Tantangan Berat Hadapi China
Akankah IKN mampu mewujudkan visinya sebagai ibu kota yang inklusif dan berkelanjutan, ataukah ia hanya akan menjadi kota hantu yang megah namun sepi? Waktu yang akan menjawab.
















