TANGERANG – Setiap tahun, perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Banten selalu diwarnai dengan seremoni megah di tingkat provinsi. Namun, muncul pertanyaan mendasar: untuk siapakah sebenarnya HUT Banten ini diperingati? Apakah hanya untuk para pejabat yang duduk di kursi undangan, atau untuk seluruh rakyat yang turut berjuang demi lahirnya provinsi ini?
Ahmad Sam’un Sofa, seorang warga Kabupaten Tangerang, dalam opininya menyoroti bahwa perjalanan Banten menjadi sebuah provinsi tidaklah instan.
Ada gerakan panjang, desakan keras, doa para ulama, suara rakyat, serta pengorbanan para tokoh yang mungkin kini tak lagi banyak disuarakan. Banten lahir dari keringat dan air mata masyarakat yang mendambakan keadilan pembangunan, bukan sekadar hasil rapat di meja birokrasi.
Namun, ironisnya, peringatan HUT Banten selama ini justru terasa eksklusif. Acara lebih banyak terpusat di kalangan pejabat provinsi, sementara masyarakat luas, ulama, tokoh budaya, pejuang pendiri provinsi, bahkan pemerintah kabupaten/kota seolah hanya menjadi penonton.
Padahal, seharusnya momentum HUT Banten menjadi pesta rakyat, ruang kebersamaan yang merekatkan seluruh elemen masyarakat: ulama, umaro, masyarakat, akademisi, budayawan, hingga generasi muda.
Baca Juga:
Tak Siap Tinggal di Asrama, Ratusan Siswa Sekolah Rakyat Mengundurkan Diri
Semangat “kabula kabale kabalandongan” yang diwariskan para leluhur, yaitu kebersamaan dan gotong royong, seharusnya menjadi landasan utama dalam setiap perayaan HUT Banten. Bukan malah terjebak dalam sikap elitis yang hanya menguntungkan segelintir pihak.
Jika HUT Banten ingin benar-benar bermakna, maka perayaannya harus inklusif. Seremoni tidak hanya di podium, tetapi juga menyentuh hingga ke kampung-kampung.
Bukan hanya parade pejabat, tetapi juga ruang ekspresi bagi seluruh rakyat Banten. Bukan hanya jargon semata, tetapi juga refleksi mendalam terhadap sejarah perjuangan yang melibatkan banyak pihak.
Sudah saatnya Pemerintah Provinsi Banten menata ulang pola peringatan HUT. Libatkan pemerintah kabupaten/kota, buka ruang dialog dengan masyarakat, berikan penghormatan yang layak kepada para pejuang yang telah mengorbankan tenaga dan pikirannya. Biarkan rakyat merasa memiliki provinsinya sendiri.
Baca Juga:
Wali Kota Medan Kembalikan 30 Ton Beras Bantuan UEA Sesuai Instruksi Pemerintah
Jika tidak, HUT Banten hanya akan menjadi pesta tahunan yang mewah di mata para elit, namun terasa hampa di hati rakyat Banten. Sebuah perayaan tanpa makna yang sesungguhnya.












