SERANG – Di tengah persiapan menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar di Banten, sebuah seruan lantang menggema dari seorang tokoh bangsa. Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13, KH. Ma’ruf Amin, dengan penuh semangat meminta insan pers untuk kembali menelusuri dan mengobarkan kisah heroik “Geger Cilegon”, sebuah episode penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang mulai terlupakan.
Pesan mendalam ini disampaikan KH. Ma’ruf Amin saat menerima kunjungan Pengurus Pusat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di kediamannya. Dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban, beliau menekankan bahwa “Geger Cilegon” bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bara api yang membakar semangat perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan menjadi simbol kesatuan ulama serta rakyat dalam menegakkan martabat bangsa.
“Dari Cilegon lahir api perjuangan,” ujar KH. Ma’ruf Amin dengan nada bersemangat. “Ulama dan rakyat bersatu menegakkan martabat bangsa. Para jurnalis perlu menulis dan mengangkatnya kembali agar generasi muda tahu bahwa kemerdekaan kita tumbuh dari perlawanan moral dan keyakinan.”
Seruan KH. Ma’ruf Amin ini seolah mengamini kajian mendalam dari Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, sejarawan terkemuka dari Universitas Gadjah Mada, yang tertuang dalam karya monumentalnya “Pemberontakan Petani Banten 1888”. Sartono menjelaskan bahwa “Geger Cilegon” bukan hanya sekadar perlawanan ekonomi, melainkan sebuah gerakan sosial yang digerakkan oleh iman, keadilan, dan kepemimpinan ulama lokal. Gerakan ini menjadi embrio nasionalisme yang lahir dari spiritualitas rakyat.
“Dalam peristiwa Cilegon, Islam menjadi sumber energi moral bagi rakyat untuk melawan penindasan kolonial,” tulis Sartono dalam penelitiannya yang kini menjadi rujukan sejarah dunia.
KH. Ma’ruf Amin menegaskan bahwa penulisan ulang kisah-kisah perjuangan lokal merupakan bagian dari jihad intelektual media. Ia mendorong SMSI dan seluruh jurnalis di bawah naungannya untuk menggali sumber sejarah yang terpendam, berdialog dengan para sejarawan, serta mengangkat kembali kisah-kisah perjuangan yang mulai ditutupi debu zaman.
Baca Juga:
Pelatihan Mitigasi Bencana Inklusif untuk Disabilitas di Kabupaten Serang
“Media jangan hanya menulis tentang masa kini,” tutur KH. Ma’ruf Amin. “Pers juga memiliki tugas besar menjaga ingatan bangsa. Geger Cilegon adalah warisan moral yang menegaskan bahwa semangat kemerdekaan lahir dari keyakinan rakyat terhadap keadilan.”
Ketua Umum SMSI, Firdaus, menyambut baik pesan KH. Ma’ruf Amin tersebut. Ia menilai bahwa jurnalisme sejarah merupakan bagian penting dari pembangunan karakter bangsa dan pembentukan identitas nasional.
“SMSI akan menggerakkan anggotanya di seluruh daerah untuk menggali narasi-narasi lokal yang membentuk identitas nasional,” ujar Firdaus. “Pesan KH. Ma’ruf Amin ini sangat relevan dengan semangat HPN 2026 di Banten, di mana kita akan merayakan peran pers dalam membangun bangsa.”
Peristiwa “Geger Cilegon” memang layak untuk kembali disorot dan dikaji secara mendalam. Di balik perlawanan yang heroik itu, tersimpan nilai-nilai keberanian, keikhlasan, dan keimanan yang menjadi fondasi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Banten, tanah para ulama dan pejuang, kembali diingat bukan hanya sebagai tempat bersejarah yang kaya akan peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber inspirasi moral bagi bangsa yang terus berjuang di era digital ini.
Baca Juga:
Jakarta Siaga Efisiensi: Dana Pusat Dipangkas, Proyek Non-Prioritas Ditunda
Kini, tugas berat diemban oleh para jurnalis Indonesia, khususnya para pewarta muda, untuk menggali kembali kisah “Geger Cilegon” dan menuliskannya dengan tinta yang membara, agar semangat perjuangan para pahlawan Cilegon tetap hidup dalam sanubari generasi penerus bangsa.
















