JAKARTA – Drama diplomasi kembali memanas! Presiden Kolombia Gustavo Petro meradang setelah Amerika Serikat mencabut visanya. Tindakan ini dikecam Petro sebagai pelanggaran hukum internasional, buntut dari aksinya yang membela Palestina dan mengkritik kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait konflik di Gaza.
Bak tersambar petir di siang bolong, keputusan Washington ini menyusul partisipasi Petro dalam demonstrasi pro-Palestina di New York. Ia bahkan menyerukan agar militer AS menolak perintah yang dianggapnya tidak adil.
Namun, Petro tak gentar! Dengan nada menantang, ia menyatakan ketidakpeduliannya terhadap pencabutan visa tersebut.
“Saya tidak lagi punya visa untuk bepergian ke Amerika Serikat. Saya tidak peduli. Saya tidak butuh visa… karena saya bukan hanya warga negara Kolombia, tetapi juga warga negara Eropa, dan saya sungguh-sungguh menganggap diri saya orang bebas di dunia,” tegas Petro melalui media sosial.
Lebih lanjut, Petro mencuit di platform X bahwa pencabutan visa tersebut menunjukkan AS tidak lagi menghormati hukum internasional karena dirinya “mengancam genosida”.
Pernyataan ini merujuk pada konflik di Gaza, di mana Israel telah berulang kali membantah tuduhan genosida atas tindakannya.
Baca Juga:
Skandal Proyek Jalan di Banten: Rp87,6 Miliar Hilang?
Namun, gambar-gambar warga Palestina yang kelaparan, termasuk anak-anak, telah memicu kemarahan global terhadap serangan Israel yang telah menewaskan puluhan ribu jiwa dan menyebabkan pengungsian massal.
Departemen Luar Negeri AS sendiri mengunggah di X bahwa mereka mencabut visa Petro karena “tindakan yang sembrono dan menghasut”.
Kementerian Luar Negeri Kolombia pun tak tinggal diam. Dalam sebuah pernyataan, mereka mengecam penggunaan pencabutan visa sebagai senjata diplomatik, yang dinilai bertentangan dengan semangat PBB yang melindungi kebebasan berekspresi dan menjamin independensi negara-negara anggota di acara-acara PBB.
Mereka bahkan menyerukan agar PBB mencari negara tuan rumah yang sepenuhnya netral.
Perlu diketahui, Petro bukanlah presiden Kolombia pertama yang visanya dicabut di AS. Pada tahun 1996, Presiden Ernesto Samper juga mengalami hal serupa akibat skandal politik yang melibatkan tuduhan pendanaan kampanye oleh kartel narkoba Cali.
Hubungan antara Bogota dan Washington memang telah merenggang sejak Trump kembali menjabat.
Baca Juga:
Demi Keamanan dan Kepedulian Sosial, Banten Setop Kembang Api Tahun Baru
Awal tahun ini, Petro memblokir penerbangan deportasi dari AS, yang sempat memicu ancaman tarif dan sanksi sebelum akhirnya kedua belah pihak mencapai kesepakatan. Akankah ketegangan ini terus berlanjut?
















