CILEGON – Sejak beberapa waktu belakangan, sebuah area yang selama bertahun-tahun hanya menyimpan kenangan akan aktivitas penambangan kini berubah wajah secara signifikan. Lahan bekas tambang pasir yang terletak di salah satu sudut Cilegon, Banten, kini tak lagi gersang, tak berdebu, dan tak lagi menjadi potensi bahaya bagi lingkungan maupun warga sekitar. Perlahan tetapi pasti, wilayah yang dulunya terlihat tandus itu diubah menjadi lahan yang produktif dan penuh dengan kehidupan — hasil dari sebuah program kreatif yang menjadikan lahan bekas tambang sebagai ruang pertanian terpadu dan hutan tanaman energi yang inovatif.
Transformasi lahan tersebut bukan sekadar perubahan permukaan tanah, tetapi juga sebuah cerita tentang bagaimana upaya reklamasi dapat menyentuh aspek ekologis, ekonomi, dan sosial secara bersamaan. Yang semula hanya menyisakan bekas jejak alat berat dan lubang galian, kini dipenuhi dengan barisan tanaman hortikultura yang tumbuh subur, kolam ikan yang riang, serta bibit pohon energi yang menjanjikan masa depan yang lebih berkelanjutan. Perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa lahan pasca tambang tidak harus menjadi area terlantar, melainkan bisa dimanfaatkan secara produktif demi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Proses perubahan ini diinisiasi melalui pemikiran bahwa lahan bekas tambang tidak semata-mata menjadi “lahan mati” yang justru rawan menjadi area berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Aktivitas pertambangan yang telah berakhir sering kali meninggalkan kondisi tanah yang kurang subur dan tidak ideal untuk kegiatan pertanian. Kondisi ini jika tidak segera ditangani bisa menimbulkan berbagai masalah, mulai dari pencemaran lingkungan hingga potensi kecelakaan bagi warga yang mendekat tanpa perlindungan yang memadai.
Untuk menjawab tantangan itu, pihak pengelola lahan kemudian memutuskan untuk melakukan langkah pemanfaatan yang inovatif dan terpadu. Lahan bekas tambang ini kini ditanami berbagai jenis tanaman hortikultura, seperti pokcoy, kacang tanah, cabai, jagung, sawi, timun, tomat, serta bawang merah. Penggunaan tanaman hortikultura tak hanya memberi nilai estetika dan produktivitas, tetapi juga memberikan peluang ekonomi berupa hasil panen yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Dalam konteks ini, lahan bekas tambang berubah fungsi menjadi sumber berkah yang dapat memberikan hasil nyata bagi pertumbuhan ekonomi lokal.
Salah satu inovasi penting dalam upaya revitalisasi lahan ini adalah pemanfaatan limbah pembangkit listrik tenaga uap, khususnya fly ash bottom ash (FABA), sebagai media tanam. FABA merupakan sisa pembakaran batu bara dari sebuah PLTU yang biasanya hanya menjadi limbah tanpa nilai guna. Namun di Cilegon, limbah ini justru diolah dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang memperkaya tanah. Keputusan ini sekaligus menunjukkan bagaimana konsep ekonomi sirkular diterapkan dalam skala nyata: limbah yang sebelumnya dipandang sebagai sesuatu yang tidak berguna kini menjadi bagian penting dalam proses pertanian yang berkelanjutan.
Menurut General Manager PT PLN Indonesia Power UBP Suralaya, Burlian Prasetyo, sekitar 70 persen dari lahan eks tambang telah berhasil dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pertanian. Tidak hanya digunakan untuk budi daya tanaman, tetapi juga untuk mengembangkan ekosistem tanaman keras dan berbagai fungsi lain yang memberi nilai tambah bagi lingkungan. Langkah ini tidak hanya menciptakan lahan produktif, tetapi juga membantu memulihkan kualitas tanah dan struktur ekologi yang sempat rusak akibat aktivitas penambangan sebelumnya.
Baca Juga:
Oknum Ketua RT/RW di Tangerang Ditangkap, Diduga Peras Pemborong
Tak hanya berkutat dengan tanaman sayuran dan hortikultura, area ini juga dikembangkan menjadi tempat budidaya ikan, khususnya ikan lele. Ribuan bibit ikan tersebut dilepaskan di kolam-kolam yang sengaja dibuat sebagai bagian dari proyek ini. Budidaya ikan di lahan bekas tambang bukan hanya sekadar aktivitas ekonomi semata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya diversifikasi pemanfaatan lahan yang menunjukkan bahwa ruang pasca tambang bisa menjadi ruang multifungsi untuk berbagai kegiatan produktif sekaligus.
Selain itu, program ini juga mencakup penanaman Hutan Tanaman Energi (HTE). Pohon-pohon yang ditanam sebagai bagian dari HTE ini nantinya akan dikembangkan sebagai sumber bahan bakar campuran yang lebih ramah lingkungan. Konsep hutan energi sendiri adalah bagian dari strategi untuk mengurangi emisi melalui penggunaan biomassa, sehingga bagian dari keberlanjutan energi dapat dicapai tanpa semata mengandalkan bahan bakar fosil. Dengan demikian, hutan tanaman ini bukan hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga berkontribusi pada penurunan jejak karbon secara jangka panjang.
Selain pemanfaatan FABA dan penanaman berbagai jenis tanaman produktif, program ini juga menerapkan konsep pengelolaan sampah organik sebagai bagian dari pertanian berkelanjutan. Sampah makanan dari warga yang tinggal di sekitar kawasan kini tidak langsung dibuang atau menjadi polusi. Sebaliknya, sampah organik tersebut diolah menjadi pupuk kompos padat yang dapat memperkaya tanah. Sementara lindi hasil olahan dari bahan bakar jumputan padat (BBJP) dikembangkan sebagai pupuk organik cair, yang juga memiliki fungsi untuk meningkatkan kesuburan tanaman. Dengan demikian, hampir setiap komponen limbah diolah kembali untuk memberi manfaat, menciptakan sebuah sistem yang efisien dan berkelanjutan sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Pengembangan lahan ini juga telah menarik perhatian banyak pihak yang datang untuk belajar dan melihat langsung bagaimana lahan eks tambang yang dahulu hanya menyisakan tanah tandus kini menjadi contoh nyata dari pertanian berkelanjutan. Program yang dikenal dengan nama PETERPAN ini bahkan menjadi wadah pembelajaran bagi masyarakat maupun berbagai pihak terkait yang ingin melihat langsung transformasi yang terjadi. Keberhasilan proyek ini menunjukkan bahwa jika direncanakan dan dikelola dengan baik, lahan bekas tambang bisa diubah menjadi ruang yang produktif serta memberi dampak positif bagi lingkungan dan sosial ekonomi sekitar.
Kisah pengubahan lahan di Cilegon ini pun sejalan dengan berbagai studi dan praktik di luar negeri maupun di daerah lain di Indonesia yang memperlihatkan potensi besar lahan bekas tambang untuk dimanfaatkan kembali. Misalnya, penelitian menunjukkan lahan bekas tambang batu bara di beberapa negara dapat diubah menjadi ladang energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya jika dikelola dengan tepat. Ini memberikan gambaran bahwa lahan bekas tambang memiliki peluang besar ketika dikelola dengan konsep yang tepat dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan energi bersih di masa depan.
Baca Juga:
Kepala Sekolah Kecamatan Tanjung Serupa Pakuan Ucapkan HUT PGRI Ke-79
Dengan demikian, apa yang terjadi di Cilegon bukan sekadar proyek reklamasi sederhana, melainkan contoh nyata dari bagaimana kreativitas dan kolaborasi antara sektor industri, pemerintah, dan masyarakat dapat menciptakan solusi nyata terhadap tantangan lingkungan. Tanah yang dulunya ditinggalkan setelah aktivitas tambang berakhir kini bertransformasi menjadi kawasan yang penuh kehidupan dan memberi manfaat nyata bagi banyak pihak. Ini adalah bukti bahwa masa depan pertanian dan energi berkelanjutan bisa tumbuh di tempat yang tak terduga — bahkan di atas bekas tambang sekalipun.












