TANGERANG – Janji manis kampanye Prabowo Subianto untuk memberikan “Makan Bergizi Gratis” (MBG) kepada jutaan anak Indonesia, kini berubah menjadi mimpi buruk. Sejak diluncurkan pada awal tahun 2025, program ambisius ini justru dibayangi oleh serangkaian kasus keracunan massal yang mencemaskan. Ribuan anak dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan oleh dapur-dapur MBG yang tersebar di seluruh pelosok negeri.
Di tengah badai kritik dan kepanikan publik, seorang petugas dapur MBG di Tangerang Selatan, Nindy Sabrina, berani mengungkap fakta-fakta yang mengejutkan. Dalam wawancaranya dengan Tribun, Nindy mengakui bahwa konsep “4 sehat 5 sempurna” sudah tidak lagi relevan dalam program MBG.
Lebih jauh lagi, ia mengungkapkan bahwa dapur-dapur MBG hanya memiliki tiga orang staf profesional, sementara sisanya adalah relawan warga yang belum tentu memiliki keahlian memadai dalam bidang gizi dan sanitasi makanan.
“Tantangannya sangat besar. Kami harus memastikan makanan aman dikonsumsi dan bergizi seimbang, tetapi dengan sumber daya yang terbatas,” keluh Nindy.
Ia juga menambahkan bahwa SPPG yang dipimpinnya harus melayani ribuan siswa dari berbagai tingkatan sekolah dengan radius jangkauan hingga 5 kilometer.
Namun, pengakuan Nindy hanyalah puncak gunung es. Data dari berbagai lembaga pemerintah, seperti Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, dan BPOM, menunjukkan angka yang mencengangkan terkait kasus keracunan MBG.
Baca Juga:
Gunungan Sampah Tutupi Pasar Cimanggis, Pedagang dan Warga Resah
Ratusan kasus dengan ribuan korban telah dilaporkan, dengan puncak kejadian pada bulan Agustus 2025.
Penyebabnya pun beragam, mulai dari higienitas makanan yang buruk, suhu penyimpanan yang tidak sesuai, hingga kontaminasi silang dan alergi pada penerima manfaat.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) bahkan menyerukan agar Presiden Prabowo Subianto segera menghentikan sementara program MBG dan melakukan evaluasi total terhadap sistem tata kelolanya.
“Keselamatan anak harus diutamakan di atas ambisi politik dan target program,” tegas JPPI.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik dapur-dapur MBG? Apakah program yang bertujuan mulia ini justru menjadi ancaman bagi kesehatan anak-anak Indonesia?
Baca Juga:
Pengamanan Ketat Warnai Laga Dewa United Banten FC Kontra Persis Solo
Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang jujur dan tindakan yang tegas dari pemerintah.















