JAKARTA – Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur terus menjadi sorotan, tak hanya di dalam negeri, tapi juga di mata dunia. Rencana ambisius yang digagas sejak era Presiden Joko Widodo dan kini dilanjutkan oleh Presiden Prabowo Subianto ini ternyata memiliki alasan yang sangat kuat, bahkan diakui oleh berbagai pihak internasional.
Salah satu pengakuan datang dari Kantor berita AFP, yang menyoroti keputusan pemerintah Indonesia untuk memindahkan ibu kota sebagai langkah strategis untuk mengurangi tekanan yang selama ini membebani Jakarta dan wilayah sekitarnya (Jabodetabek). Jakarta, dengan segala dinamikanya, memang tengah menghadapi masalah ekologis serius, terutama penurunan permukaan tanah yang mengkhawatirkan.
Ancaman tenggelamnya Jakarta akibat perubahan iklim bahkan sempat menjadi perhatian mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden.
Dalam pidatonya di kantor Direktur Intelijen Nasional AS pada Juli 2021, Biden secaraGamblang menyatakan kekhawatirannya tentang masa depan Jakarta.
“Jika, pada kenyataannya, permukaan laut naik dua setengah kaki lagi, Anda akan memiliki jutaan orang yang bermigrasi, memperebutkan tanah yang subur…,” ujarnya kala itu.
Biden menambahkan, “…Apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksinya benar bahwa, dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?”.
Ucapan Biden ini bukanlah isapan jempol belaka. Pada tahun 2019, World Economic Forum (WEF) merilis daftar kota-kota yang terancam tenggelam pada tahun 2100 jika tidak ada perubahan signifikan dalam penanganan perubahan iklim. Jakarta menduduki peringkat pertama, diikuti oleh Lagos (Nigeria) dan Houston (AS).
Badan Antariksa AS (NASA) juga memberikan peringatan serupa pada tahun 2021. Mereka menyatakan bahwa meningkatnya suhu global dan mencairnya lapisan es membuat banyak kota pesisir, termasuk Jakarta, menghadapi risiko banjir dan luapan air laut yang semakin besar.
Baca Juga:
Kapolda Metro Jaya Tinjau Pengungsian Warga Terdampak Banjir di Pancoran
“Masalah banjir itu juga semakin memburuk dalam beberapa dekade karena adanya pemompaan air tanah yang menyebabkan tanah tenggelam atau surut,” demikian pernyataan NASA.
NASA mencatat bahwa kenaikan permukaan laut global rata-rata mencapai 3,3 mm per tahun. Dengan adanya badai hujan yang semakin intens akibat atmosfer yang memanas, banjir menjadi semakin sering terjadi.
Sejak tahun 1990-an, Jakarta telah mengalami banjir besar, dan musim hujan tahun 2007 membawa kerusakan parah dengan 70% wilayah terendam.
Melalui gambar landsat, NASA juga menunjukkan evolusi Jakarta dalam tiga dekade terakhir. Pembabatan hutan dan vegetasi lain, serta penggantiannya dengan permukaan kedap air di daerah pedalaman sepanjang sungai Ciliwung dan Cisadane, telah mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air, yang menyebabkan limpahan dan banjir bandang.
Pertumbuhan populasi Jakarta yang lebih dari dua kali lipat antara tahun 1990 dan 2020 juga memperburuk situasi, karena semakin banyak orang yang memadati dataran banjir dengan risiko tinggi.
Ironisnya, banyak saluran sungai dan kanal yang menyempit atau tersumbat oleh sedimen dan sampah, sehingga sangat rentan terhadap luapan.
Gambar landsat menunjukkan bagaimana lahan buatan dan pembangunan telah menyebar ke perairan dangkal Teluk Jakarta sejak tahun 1990. Seorang analis data bahkan menemukan bahwa setidaknya 1.185 hektar lahan baru telah dibangun di sepanjang pantai.
Baca Juga:
Polsek Rawalumbu Jadi Sarang Mafia? Laporan Warga Diabaikan, Pelaku Perusakan Malah Dilindungi!
Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, langkah pemerintah untuk memindahkan ibu kota ke IKN dapat dilihat sebagai strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan masa depan dan memastikan keberlanjutan negara.
















