JAKARTA – Dunia menyaksikan perseteruan sengit antara dua tokoh berpengaruh: Presiden AS Donald Trump dan Elon Musk, orang terkaya di dunia. Hubungan yang dulunya dekat kini hancur berantakan, meninggalkan jejak kehancuran di pasar saham dan menimbulkan gelombang guncangan politik.
Sumber dari Gedung Putih mengungkapkan fakta mengejutkan: Trump menolak berkomunikasi dengan Musk, membantah pernyataan sebelumnya yang menyebutkan akan ada upaya rekonsiliasi.
“Tidak ada panggilan telepon antara Trump dan Musk hingga sekarang,” tegas sumber tersebut, menandai berakhirnya era kerja sama yang erat.
Trump, dalam wawancaranya, menunjukkan sikap yang terkesan acuh tak acuh.
“Saya bahkan tidak memikirkan Elon. Ia punya masalah, orang malang itu punya masalah,” katanya, menunjukkan betapa renggangnya hubungan mereka saat ini.
Namun, di balik sikap cuek tersebut, tersirat ancaman yang nyata. Sumber Gedung Putih lainnya membisikkan kemungkinan Trump akan menjual Tesla Model S merah kesayangannya, sebuah simbol dari ketegangan yang semakin meningkat.
Puncak perselisihan terjadi setelah pertikaian terbuka yang menandai berakhirnya hubungan dekat mereka. Trump, tanpa ragu, mengancam akan mengakhiri kontrak pemerintah dengan bisnis Musk, termasuk SpaceX dan Starlink – ancaman yang berpotensi menghancurkan kerajaan bisnis Musk.
Dampaknya langsung terasa di Wall Street. Saham Tesla anjlok 14% dalam sehari, kehilangan nilai pasar US$150 miliar – penurunan terbesar dalam sejarah Tesla – sebelum akhirnya bangkit kembali. Ketegangan antara Trump dan Musk jelas menjadi biang keladinya.
Baca Juga:
Keheningan sahabat-sahabat Musk pecah ketika investor James Fishback secara terbuka meminta Musk untuk meminta maaf.
“Presiden Trump telah menunjukkan keanggunan dan kesabaran di saat perilaku Elon mengecewakan dan terus terang sangat mengganggu,” ujarnya, menunjukkan kecaman terhadap sikap Musk.
Akar permasalahan ini terletak pada peran Musk dalam membiayai kampanye Trump dan penunjukannya sebagai kepala Lembaga Efisiensi Pemerintah (DOGE).
Namun, kegagalan Musk dalam memangkas anggaran, ditambah penentangannya terhadap RUU pemotongan pajak dan pengeluaran Trump yang disebut Musk sebagai “kekejian yang menjijikkan”, memicu kemarahan Trump.
“Lihat, Elon dan saya memiliki hubungan yang hebat. Saya tidak tahu apakah kami akan tetap seperti itu lagi,” ungkap Trump, menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
Perang kata-kata pun terjadi di media sosial. Musk, dengan lantang, menulis, “Tanpa saya, Trump akan kalah dalam pemilihan,” mengingatkan kontribusi finansialnya yang hampir mencapai US$300 juta.
Ia juga mengkritik kebijakan tarif impor Trump. Ancaman Trump untuk membatalkan kontrak SpaceX, yang memiliki peran krusial dalam program luar angkasa AS, dibalas Musk dengan ancaman menonaktifkan wahana antariksa Dragon – ancaman yang kemudian dicabut.
Baca Juga:
Jangan Letakkan TV Dekat Router WiFi! Ini Alasan Pentingnya
Perseteruan ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak politik yang luas, terutama bagi Partai Republik. Musk sendiri menyatakan akan mengurangi pengeluaran politiknya dan menyerukan pemecatan politisi yang dianggapnya mengkhianati rakyat. Drama ini masih jauh dari selesai, dan konsekuensi dari perang dingin antara dua tokoh berpengaruh ini masih belum terbayangkan sepenuhnya.
















