JAKARTA – Aksi unjuk rasa yang penuh semangatwarnai depan kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025). Kelompok yang menamakan diri “Suara Ibu Indonesia”, yang terdiri dari para ibu, anak muda, dan perempuan, turun ke jalan untuk mendesak pemerintah menghentikan program makan bergizi gratis (MBG) yang tengah menjadi sorotan.
Spanduk Protes: Gambaran Kekesalan dan Kekhawatiran Ibu-Ibu
Pantauan di lokasi menunjukkan betapa seriusnya tuntutan yang dibawa oleh para pengunjuk rasa. Spanduk-spanduk dengan berbagai pesan kritismewarnai aksi tersebut.
Salah satu spanduk besar menyerukan, “Stop MBG, Utamakan Kualitas, Keamanan, dan Martabat Anak!”. Sementara spanduk lainnya dengan tegas menyatakan, “STOP MBG! Kembalikan Makanan Bergizi kepada Keluarga dan Sekolah”.
Keracunan Massal: Krisis Kesehatan di Balik Program MBG
Dalam pernyataan sikapnya, Suara Ibu Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam atas berulangnya kasus keracunan massal yang menimpa ribuan anak sekolah akibat program MBG.
Mereka menilai bahwa program yang digadang-gadang sebagai solusi gizi anak sekolah justru menimbulkan krisis kesehatan, krisis akuntabilitas, dan bahkan krisis moral dalam tata kelola negara.
Mengutip data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), mereka mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa lebih dari 10.482 anak telah menjadi korban keracunan MBG di berbagai daerah.
Suara Ibu Indonesia mendesak agar program ini dievaluasi total dan hanya diberikan kepada daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) atau anak-anak dari keluarga pra-sejahtera yang benar-benar membutuhkan intervensi khusus perbaikan gizi.
Anggaran MBG: Lebih Baik untuk Guru dan Infrastruktur Sekolah?
Suara Ibu Indonesia berpendapat bahwa anggaran MBG yang telah mengambil sebagian besar dana pendidikan seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, membenahi infrastruktur sekolah di daerah 3T, dan membangun kantin sehat berbasis komunitas yang dikelola oleh sekolah, guru, dan orang tua.
Baca Juga:
Polri Akan Tegas Tindak Preman Berkedok Ormas yang Ganggu Investasi
Mereka meyakini bahwa langkah ini akan lebih efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan gizi anak-anak Indonesia.
Pelibatan TNI-Polri: Militerisasi Urusan Sipil yang Dikritik
Suara Ibu Indonesia juga menyoroti kekhawatiran mereka terhadap pelibatan TNI/POLRI dalam rantai distribusi dan pengawasan program MBG.
Pihaknya menilai bahwa langkah ini mencerminkan militerisasi urusan sipil dan membuka celah bagi penyalahgunaan kewenangan dalam ranah publik.
Mereka menegaskan bahwa militer bukanlah lembaga pangan, dan tugas mereka bukanlah mengurus gizi atau makan anak-anak sekolah.
Tuntutan Suara Ibu Indonesia: Hentikan MBG, Audit Transparan!
Oleh karena itu, Suara Ibu Indonesia dengan tegas menuntut pemerintah untuk menghentikan proyek MBG di seluruh Indonesia. Mereka berpendapat bahwa program ini telah gagal menjamin keselamatan, kesehatan, dan inklusivitas anak-anak.
Mereka juga mendesak pemerintah untuk mencabut pelibatan TNI/POLRI dalam seluruh aspek penyelenggaraan MBG maupun program lain yang berkaitan dengan ranah sipil.
Selain itu, Suara Ibu Indonesia juga meminta agar dilakukan audit nasional independen terhadap seluruh vendor, dapur sekolah, dan rantai pasok MBG, serta mempublikasikan hasilnya secara terbuka.
Mereka menyadari bahwa banyak pekerja informal, ibu-ibu, dan tenaga dapur sekolah yang selama ini menggantungkan penghidupan mereka pada program MBG, dan banyak anak-anak di sekolah membutuhkan asupan gizi tambahan.
Namun, mereka menekankan bahwa ketika pekerja kecil yang direkrut tidak memiliki perlindungan kerja yang memadai, dan makanan untuk anak-anak tidak dikelola dengan standar keamanan yang ketat, maka program yang seharusnya menjadi bantuan justru berpotensi menjadi bencana.
Baca Juga:
Kapolres Serang Raih Penghargaan Atas Kinerja Luar Biasa
Aksi unjuk rasa ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi dan memperbaiki program MBG agar benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia tanpa mengorbankan kesehatan dan keselamatan mereka.















