JAKARTA – Indonesia semakin memantapkan posisinya di kancah energi terbarukan global dengan ambisi menjadi pemimpin pasar biomassa dunia. Langkah konkret menuju visi ini ditunjukkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dengan PT Biomassa Energi Group (BEG) dan G7 Group SP.Z.O.O asal Polandia.
Kemitraan strategis ini bertujuan untuk memperkuat rantai pasok biomassa Indonesia dan mendorong ekspor ke pasar internasional, terutama di wilayah Asia dan Eropa.
Kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam memperluas cakupan bisnis biomassa, mulai dari perdagangan cangkang sawit yang telah berjalan hingga pengembangan pabrik EFB (Empty Fruit Bunch) pellet berskala ekspor.
Penandatanganan MoU yang berlangsung di Jakarta ini menandai komitmen bersama untuk mengoptimalkan potensi biomassa Indonesia.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menyatakan bahwa kolaborasi ini menandai babak baru dalam transformasi PLN EPI untuk mendukung transisi energi nasional dan memperkuat peran Indonesia di pasar energi terbarukan global.
“Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar, mencapai sekitar 130 juta ton per tahun. Namun, pemanfaatannya masih jauh dari optimal. Melalui kemitraan ini, kami bertekad untuk mengubah potensi besar ini menjadi peluang nyata, baik untuk mendukung dekarbonisasi sistem kelistrikan nasional maupun untuk memenuhi permintaan energi hijau global yang terus meningkat,” ujar Hokkop.
Baca Juga:
Menuju Indonesia Emas: KNPI Rayakan HUT ke-52 dengan Semangat Persatuan
PLN EPI kini tidak hanya berperan sebagai penyedia energi primer di dalam negeri, tetapi juga melebarkan sayap bisnisnya ke sektor Beyond kWh, termasuk perdagangan biomassa dan ekspor bahan bakar berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mendukung ekonomi rendah karbon global.
“Kami akan terus memastikan pasokan biomassa di dalam negeri tetap aman untuk mendukung program cofiring PLN, sambil berkontribusi pada upaya global untuk mengurangi emisi karbon,” tegas Hokkop
Sementara itu, Penasihat Hukum Perusahaan G7 Group SP.Z.O.O, Rogowski Wojciech Marek, menyatakan optimismenya terhadap potensi dan masa depan kerja sama antara perusahaannya dengan PLN EPI dan PT Biomassa Energi Group. Ia menilai bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pemain kunci di pasar biomassa global.
“Permintaan biomassa dunia terus mengalami peningkatan, dan Indonesia memiliki semua faktor yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin pasar. Bahkan sebelum MoU ini ditandatangani, kami telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengamankan pangsa pasar,” ungkap Rogowski.
Rogowski menambahkan bahwa pabrik EFB pellet pertama yang dikembangkan bersama akan mulai beroperasi pada Februari 2026, dengan target produksi awal sebesar 120.000 ton per tahun. Selanjutnya, akan dibangun lima pabrik tambahan dengan kapasitas yang serupa atau bahkan lebih besar.
“Saya sangat yakin bahwa kapasitas ekspor biomassa secara keseluruhan, termasuk EFB pellet, Palm Kernel Shell (PKS), wood pellet, dan jenis biomassa lainnya, sangat mungkin mencapai 3 juta ton per tahun dalam beberapa tahun mendatang. Kolaborasi dengan perusahaan milik negara seperti PLN EPI memberikan kepercayaan dan kredibilitas yang besar di pasar internasional,” pungkas Rogowski.
Baca Juga:
Kritisi Kenaikan PPN 12%, Peluang atau Beban Baru Ekonomi Indonesia?
Dengan kemitraan ini, Indonesia semakin siap untuk memainkan peran sentral dalam memenuhi kebutuhan energi terbarukan dunia dan mencapai target-target keberlanjutan global.
















