YOGYAKARTA – Kisah Toni Permana, seorang inovator berusia 46 tahun dari Padalarang, Bandung Barat, telah mencuri perhatian publik. Unggahan videonya yang viral, berisi luapan kekecewaan atas inovasi paving block berbahan limbah plastik yang kurang mendapat perhatian pemerintah, memicu gelombang dukungan dari warganet. Toni, yang telah mengembangkan inovasinya sejak 2017, memperlihatkan bagaimana ia merakit mesin manual hingga alat pembuat paving block secara mandiri, tanpa dukungan pihak mana pun.
“Mesin ini saya rakit sendiri dan sudah lolos uji emisi. Produk paving block ini juga sudah teruji, tapi faktanya tidak ada dukungan,” ujar Toni, mengungkapkan perjuangannya yang tak semulus harapan.
Ia bahkan mengklaim telah mengantongi sertifikasi dari ITB dan lolos berbagai uji kualitas material.
Namun, semangat inovasi Toni mendapat sorotan dari pakar teknik sipil UGM, Ir Ashar Saputra ST MT PhD. Ashar menjelaskan bahwa paving block limbah plastik memang menjadi alternatif menarik untuk mengurangi tumpukan sampah plastik.
Namun, ia menekankan pentingnya uji kelayakan dan kesesuaian standar teknis sebelum produk ini digunakan secara luas.
“Semua produk yang akan digunakan mestinya sudah diuji terlebih dahulu untuk disesuaikan dengan persyaratan dan penggunaannya,” tegas Ashar.
Baca Juga:
Semarang Siap Jadi Kota Ramah Pendidikan Inklusif! Walkot Agustina Gebrak dengan Program Inovatif
Ia menjelaskan bahwa paving block memiliki beragam kelas penggunaan, mulai dari jalur kendaraan berat hingga area pejalan kaki, sehingga pemilihan bahan dasar harus disesuaikan dengan fungsi dan beban yang akan ditopang.
Meski paving block limbah plastik sudah memenuhi syarat untuk penggunaan beban ringan seperti pedestrian atau halaman parkir rumah, Ashar menyoroti bahwa belum ada standar ideal pembuatan paving block dari limbah plastik.
“Kalau dari limbah plastik, variasinya banyak sekali tergantung jenis plastik, ukuran potongan, dan metode pembuatannya. Jadi tidak ada yang bisa dikatakan ideal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ashar menambahkan bahwa mutu produk menjadi faktor penentu utama dalam menentukan seberapa jauh paving block limbah plastik bisa dimanfaatkan.
Untuk saat ini, kinerjanya baru sebatas memenuhi kebutuhan dengan beban ringan, dan belum direkomendasikan untuk jalan yang dilalui kendaraan berat.
Dengan demikian, inovasi paving block limbah plastik ini menyimpan potensi besar dalam mengatasi masalah sampah plastik, namun juga membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut untuk memastikan kualitas dan keamanannya.
Baca Juga:
Kapolres Dan Bobon Gelar Masak Besar, Ribuan Murid SD Penuhi Mapolres Serang
Dukungan pemerintah dan kolaborasi dengan para ahli sangat dibutuhkan agar inovasi seperti ini dapat berkembang dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan lingkungan.
















