JAKARTA – Di balik gemerlap dunia teknologi, terdapat kisah inspiratif seorang dosen yang berhasil menjelma menjadi salah satu konglomerat terkaya di dunia. Dialah Henry Samueli, seorang profesor teknik elektro yang sukses mendirikan perusahaan cip raksasa, Broadcom. Dengan kekayaan mencapai US$31,1 miliar atau sekitar Rp514,7 triliun, Samueli membuktikan bahwa kesuksesan tak hanya bisa diraih di ruang kelas, tetapi juga di dunia bisnis yang penuh tantangan.
Lahir dari keluarga imigran Yahudi-Polandia yang melarikan diri dari tekanan Nazi, Samueli tumbuh besar di Los Angeles. Ia membantu orang tuanya mengelola toko minuman keras, pengalaman yang memberinya pelajaran berharga tentang dunia usaha.
Ketertarikannya pada elektronika muncul sejak SMP, saat ia merakit radio AM/FM. Setelah lulus SMA, Samueli melanjutkan pendidikan tinggi di University of California, LA (UCLA), hingga meraih gelar doktor pada tahun 1980.
Setelah meraih gelar doktor, Samueli kembali ke UCLA sebagai dosen di Departemen Teknik Elektro dan Komputer. Selain mengajar, ia juga aktif berinovasi dan menciptakan berbagai terobosan di bidang elektronika, yang menghasilkan puluhan hak paten.
Namun, kehidupan Samueli berubah drastis pada tahun 1991, ketika ia memutuskan untuk mendirikan perusahaan cip Broadcom Corporation bersama salah satu mahasiswa doktoralnya, Henry Nicholas.
Dengan modal awal masing-masing US$5.000, Samueli dan Nicholas memulai bisnis mereka dari sebuah kondominium di Redondo Beach. Mereka kemudian menyewa kantor di dekat UCLA, di Westwood, LA. Awalnya, mereka tak memiliki visi besar untuk menjadikan Broadcom sebagai perusahaan raksasa.
“Kami hanya berpikir akan sangat menarik untuk menjalankan beberapa proyek,” ujar Samueli dalam sebuah wawancara.
Baca Juga:
Ratu Zakiyah: Dari Hati ke Hati, Bangun Serang dengan Kebersamaan
Namun, seiring berjalannya waktu, Broadcom berkembang pesat. Pada tahun 1995, Samueli memutuskan untuk fokus penuh waktu di Broadcom dengan mengambil cuti mengajar di UCLA.
Pada tahun 1998, Broadcom melantai di bursa AS dan menjadi perusahaan publik. Nilai saham perusahaan pun melesat seiring dengan booming teknologi dan internet.
Meski sempat terbelit kasus pemalsuan tanggal opsi saham pada tahun 2008, Samueli tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu tokoh penting di industri elektronika.
Ia meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Marconi Prize and Fellowship pada tahun 2012 dan medali kehormatan dari American Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) pada tahun ini.
Selain sukses di bidang teknologi, Samueli juga memiliki kecintaan pada olahraga hoki. Pada tahun 2005, ia dan istrinya,
Susan Samueli, membeli Tim Hoki Anaheim Ducks senilai US$70 juta. Kini, nilai tim tersebut telah menembus US$1 miliar.
Kisah Henry Samueli adalah bukti bahwa dengan kerja keras, inovasi, dan keberanian mengambil risiko, siapa pun bisa meraih kesuksesan.
Baca Juga:
Rp 9,9 Triliun: Nadiem Makarim Diperiksa Kejagung
Dari seorang dosen sederhana, Samueli berhasil membangun kerajaan bisnis yang mendunia, menginspirasi banyak orang untuk mengejar impian mereka.
















