JAKARTA – Setelah puluhan tahun menjadi pendukung setia Israel, negara-negara besar di Eropa kini menunjukkan perubahan sikap yang mencolok terhadap konflik Israel-Palestina. Dari perancang Timur Tengah modern pasca Perang Dunia I hingga pendukung utama keamanan Israel, Eropa kini berbalik arah, mengkritik keras tindakan Israel dan bahkan mulai mengakui Negara Palestina. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ahmad Munji, pengamat politik Timur Tengah dan doktor alumni Universitas Marmara, Turki, dalam kolomnya, mengungkapkan beberapa faktor kunci yang mendorong perubahan haluan Eropa ini.
1. Tekanan Politik Domestik: Suara Rakyat Tak Bisa Dibendung
Gelombang protes besar-besaran yang menentang genosida di Gaza telah mengguncang negara-negara Eropa. Kekuatan massa yang besar ini menyuarakan penolakan terhadap dukungan pemerintah mereka terhadap tindakan Israel.
Gelombang protes ini kemudian merambah ke level elit, dengan banyak politisi Eropa mewakili suara rakyat di parlemen dan platform politik lainnya. Pemerintah Eropa, yang tak mampu lagi mengabaikan kekejaman Israel, akhirnya terpaksa goyah.
2. Sentimen Anti-Israel Meningkat: Dunia Bersatu untuk Palestina
Sentimen anti-Israel semakin menguat di seluruh dunia, termasuk di Eropa. Hal ini terbukti dari pemungutan suara di Majelis Umum PBB, di mana hampir seluruh dunia menentang Israel.
Koalisi kemanusiaan global melawan genosida dan pelaku genosida semakin kuat dan efektif. Momentum inilah yang mengubah kebijakan kekuatan-kekuatan Eropa, yang tak ingin terisolasi dari komunitas internasional.
3. Agresi Israel di Timur Tengah: Doha Jadi Titik Balik
Agresi Israel terhadap negara-negara Timur Tengah seperti Yaman, Lebanon, Suriah, dan Iran juga menjadi faktor penting. Serangan Israel terhadap ibu kota Qatar, Doha, khususnya, telah mengubah kebijakan dan perhitungan sebagian besar negara di kawasan dan dunia.
Serangan ini sulit dijelaskan atau dibenarkan oleh negara Barat mana pun, termasuk AS, mengingat Doha adalah pangkalan militer Amerika terbesar di Timur Tengah dan juga salah satu sekutu terdekat Amerika di kawasan tersebut.
Baca Juga:
ASDP dan Pemprov Banten: Kolaborasi Majukan Pelabuhan Merak
Pengakuan Saja Tidak Cukup: Eropa Harus Bertindak Lebih Jauh
Munji menekankan bahwa pengakuan diplomatik saja tidak cukup. Negara-negara Eropa sengaja menunggu kehancuran total dan pemusnahan Jalur Gaza. Israel akan mende-Palestina-kan Palestina.
Pengakuan setelah kehancuran total tidak berarti apa-apa. Negara-negara Eropa sangat menyadari bahwa keputusan mereka tidak akan mengubah kondisi di lapangan.
Jika Eropa sungguh-sungguh ingin menghentikan genosida di Gaza, mereka harus mengambil langkah-langkah efektif yang nyata.
Beberapa negara Eropa mengajukan persyaratan untuk pengakuan mereka terhadap negara Palestina, namun di sisi lain, mereka tidak secara tegas menyatakan pengakuan mereka terhadap negara Palestina dalam batas-batas tahun 1967.
Mereka hanya akan mengakui negara Palestina yang artifisial, yang tidak akan menyelesaikan penderitaan rakyat Palestina.
Masa Depan Eropa Dipertaruhkan
Perubahan kebijakan Eropa terhadap agresi Israel di Timur Tengah, terutama terhadap genosida Gaza, dipengaruhi oleh banyak dinamika internal dan eksternal.
Pengakuan diplomatik terhadap negara Palestina lebih merupakan reaksi terhadap politik nyata, alih-alih kepentingan kemanusiaan.
Jika negara-negara anggota Uni Eropa tidak mengambil langkah-langkah efektif melawan genosida di Gaza, persatuan benua Eropa dapat rusak parah.
Baca Juga:
Kebebasan Pers Terancam? PWI Murka Kartu Liputan Wartawan CNN Dicabut Usai Usik Program Prabowo!
Perubahan haluan Eropa ini menandai babak baru dalam konflik Israel-Palestina. Namun, apakah perubahan ini akan membawa dampak nyata bagi rakyat Palestina, atau hanya sekadar kosmetik politik? Waktu yang akan menjawab.
















