JAKARTA – Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa sekolah dasar di Ketapang, Kalimantan Barat, akibat konsumsi daging hiu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), membuka mata kita terhadap bahaya yang mungkin tersembunyi dalam hidangan laut yang populer ini. Lebih dari sekadar kandungan merkuri yang sering diperbincangkan, daging hiu ternyata menyimpan serangkaian risiko kesehatan yang serius dan patut diwaspadai.
Agus Kurniawi, Kepala Regional MBG Kalbar, mengakui adanya kelalaian dalam pemilihan menu yang tidak ramah bagi anak-anak ini.
Ikan hiu, yang berada di puncak rantai makanan, cenderung mengakumulasi berbagai zat berbahaya dalam tubuhnya, menjadikannya kurang ideal untuk dikonsumsi secara rutin.
“Kami mengakui adanya kelalaian dalam pemilihan menu. Seharusnya kami lebih berhati-hati dalam memilih bahan makanan untuk anak-anak,” ujar Agus Kurniawi, Senin, (29/09).
Lantas, apa sebenarnya yang membuat daging hiu begitu berisiko bagi kesehatan kita? Mari kita telaah lebih dalam. Salah satu ancaman utama adalah kadar merkuri yang tinggi.
Sebagai predator laut, hiu mengumpulkan merkuri dan racun lainnya melalui proses yang disebut biomagnifikasi, di mana konsentrasi zat berbahaya meningkat seiring naiknya tingkatan dalam rantai makanan.
Akibatnya, daging hiu bisa mengandung merkuri dalam jumlah yang jauh melebihi batas aman untuk dikonsumsi.
Tidak hanya itu, merkuri yang terakumulasi dalam tubuh hiu berubah menjadi metilmerkuri, senyawa yang sangat beracun dan dapat menyebabkan kerusakan saraf yang serius. Dr. Hermann Fruse, seorang ahli toksikologi dari Universitas Kiel, Jerman, bahkan menyebut merkuri sebagai salah satu racun biologis yang paling aktif dan berbahaya bagi manusia.
Baca Juga:
Copet Cantik Beraksi di Cikande, Karyawati Jadi Korban
Dampak konsumsi metilmerkuri bisa beragam, mulai dari sakit kepala dan tremor hingga disfungsi kognitif, cacat lahir, kerusakan sistem saraf pusat dan otak, masalah memori, depresi, kerusakan ginjal, dan bahkan kanker.
“Merkuri adalah salah satu racun yang paling aktif secara biologis dan paling berbahaya bagi manusia,” tegas Dr. Fruse dalam sebuah penelitiannya.
Selain merkuri, daging hiu juga mengandung arsenik dalam kadar yang mengkhawatirkan. Jann Gilbert, seorang peneliti dari Southern Cross University, Australia, menemukan bahwa berbagai jenis hiu, seperti hiu Sandbar, Dusky, Great White, Whale, Dwarf Pygmy, dan Hammerhead, memiliki kadar arsenik yang jauh melebihi standar konsumsi yang direkomendasikan.
Konsumsi daging hiu dengan kadar arsenik tinggi dapat menyebabkan kerusakan paru-paru, kulit, ginjal, dan hati, serta meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, kanker, dan kematian.
“Konsumsi spesies ini bisa sangat berbahaya dan harus dihindari sebisa mungkin,” kata Gilbert, memperingatkan masyarakat akan bahaya arsenik dalam daging hiu.
Terakhir, daging hiu juga mengandung urea dalam jumlah besar. Urea adalah limbah nitrogen utama dari mamalia laut yang berfungsi mencegah ikan mengering di air asin.
Namun, setelah hiu mati, urea akan terurai menjadi amonia, membuat dagingnya berbau dan terasa tidak sedap.
Dengan mempertimbangkan semua risiko ini, jelaslah bahwa konsumsi daging hiu sebaiknya dihindari, terutama oleh anak-anak.
Baca Juga:
Prioritaskan Keselamatan, Penertiban Pedagang di Tol Tangerang-Merak Berlanjut
Semoga informasi ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya yang mungkin tersembunyi dalam hidangan laut yang populer ini, dan mendorong kita untuk memilih makanan yang lebih sehat dan aman bagi diri sendiri dan keluarga.
















