JAKARTA – Sebuah gelombang kekhawatiran melanda dunia jurnalistik Indonesia setelah Istana Kepresidenan mencabut ID Pers milik reporter CNN Indonesia yang bertugas di lingkungan Istana. Dewan Pers pun tak tinggal diam, menyerukan agar kebebasan pers dihormati dan tugas jurnalistik tidak dihalangi.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, dalam keterangan tertulisnya, meminta Biro Pers Istana untuk segera memberikan penjelasan terkait pencabutan ID Card wartawan CNN Indonesia.
Hal ini penting agar tidak timbul kesan bahwa Istana menghambat kerja-kerja jurnalistik.
Dewan Pers dengan tegas mengingatkan semua pihak untuk menghormati tugas dan fungsi pers yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.
Mereka berharap agar kasus serupa tidak terulang di masa depan demi menjaga iklim kebebasan pers yang sehat di Indonesia.
Baca Juga:
Discover the Most Magical Sunset in Santorini
Tak hanya itu, Dewan Pers juga meminta agar akses liputan wartawan CNN Indonesia segera dipulihkan agar yang bersangkutan dapat kembali menjalankan tugasnya di Istana.
Pencabutan ID Pers ini terjadi pada Sabtu, 27 September 2025. Pihak Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Presiden mengambil kartu identitas Pers Istana milik jurnalis CNN Indonesia, Diana Valencia, langsung ke Kantor CNN Indonesia TV.
Pemimpin Redaksi CNN Indonesia, Titin Rosmasari, mempertanyakan dasar pencabutan ID Pers tersebut dan menegaskan bahwa pertanyaan yang diajukan Diana Valencia kepada Presiden Prabowo Subianto terkait isu program makan bergizi gratis (MBG) adalah kontekstual dan menjadi perhatian publik.
CNN Indonesia telah mengajukan surat resmi ke BPMI dan Mensesneg untuk meminta klarifikasi atas tindakan ini.
Baca Juga:
Operasi Gaktibplin: Polres Serang Jaga Profesionalisme Anggota
Kasus ini memicu pertanyaan besar: apakah kebebasan pers di Indonesia sedang diuji? Publik menanti penjelasan transparan dari pihak Istana terkait insiden ini.
















