Bencana banjir dahsyat yang melanda Bali dan Nagekeo, NTT, pada September 2025 menjadi tamparan keras bagi kita semua. Tragedi ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan kombinasi mematikan antara perubahan iklim global dan masalah tata ruang yang sudah mengakar. Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan kerentanan tingginya terhadap bencana hidrometeorologi, harus belajar dari kesalahan ini!
Banjir yang merenggut nyawa dan menghancurkan rumah serta infrastruktur vital ini seharusnya membuka mata kita tentang pentingnya pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dan tata ruang yang berkelanjutan.
Bali Tenggelam Akibat Konversi Lahan:
Salah satu penyebab utama banjir di Bali adalah alih fungsi bantaran sungai menjadi kawasan pemukiman. Gubernur Bali, Wayan Koster, mengakui bahwa curah hujan ekstrem yang berlangsung lebih dari 12 jam tanpa henti dan tumpukan sampah di sungai memperparah situasi.
Bantaran sungai, yang seharusnya menjadi zona penyangga alami untuk menyerap kelebihan air saat hujan deras, justru berubah menjadi bangunan beton. Akibatnya, kapasitas tampung sungai berkurang drastis dan aliran permukaan meningkat tajam.
Perubahan Iklim Semakin Menggila:
Data BNPB menunjukkan bahwa banjir merupakan jenis bencana paling dominan di Indonesia, menyumbang 40% dari seluruh kejadian bencana pada tahun 2024. Kondisi ini diperparah oleh perubahan iklim global yang menyebabkan pola curah hujan ekstrem semakin intens dan tidak terprediksi.
Fenomena La Niña dan El Nino semakin memperburuk keadaan, menciptakan kondisi di mana curah hujan dan kekeringan tidak lagi mengikuti pola historis. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memprediksi bahwa intensitas curah hujan ekstrem di Asia Tenggara akan meningkat 10-20% per derajat kenaikan suhu global!
NTT di Ujung Tanduk:Bencana banjir dahsyat yang melanda Bali dan Nagekeo, NTT, pada September 2025 menjadi tamparan keras bagi kita semua.
Tragedi ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan kombinasi mematikan antara perubahan iklim global dan masalah tata ruang yang sudah mengakar.
Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan kerentanan tingginya terhadap bencana hidrometeorologi, harus belajar dari kesalahan ini!
Banjir yang merenggut nyawa dan menghancurkan rumah serta infrastruktur vital ini seharusnya membuka mata kita tentang pentingnya pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dan tata ruang yang berkelanjutan.
Baca Juga:
Usulan Kostum Power Rangers untuk Sopir MBG Tuai Kritik DPR
Bali Tenggelam Akibat Konversi Lahan:
Salah satu penyebab utama banjir di Bali adalah alih fungsi bantaran sungai menjadi kawasan pemukiman. Gubernur Bali, Wayan Koster, mengakui bahwa curah hujan ekstrem yang berlangsung lebih dari 12 jam tanpa henti dan tumpukan sampah di sungai memperparah situasi.
Bantaran sungai, yang seharusnya menjadi zona penyangga alami untuk menyerap kelebihan air saat hujan deras, justru berubah menjadi bangunan beton. Akibatnya, kapasitas tampung sungai berkurang drastis dan aliran permukaan meningkat tajam.
Perubahan Iklim Semakin Menggila:
Data BNPB menunjukkan bahwa banjir merupakan jenis bencana paling dominan di Indonesia, menyumbang 40% dari seluruh kejadian bencana pada tahun 2024. Kondisi ini diperparah oleh perubahan iklim global yang menyebabkan pola curah hujan ekstrem semakin intens dan tidak terprediksi!
Fenomena La Niña dan El Nino semakin memperburuk keadaan, menciptakan kondisi di mana curah hujan dan kekeringan tidak lagi mengikuti pola historis.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memprediksi bahwa intensitas curah hujan ekstrem di Asia Tenggara akan meningkat 10-20% per derajat kenaikan suhu global!
NTT di Ujung Tanduk:
Tragedi di Bali dan Nagekeo seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi NTT. Pemerintah daerah dan masyarakat harus bersinergi untuk melakukan mitigasi bencana secara serius. Konversi lahan harus dihentikan, pengelolaan sampah harus ditingkatkan, dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan harus ditingkatkan.
Jika tidak, NTT akan menjadi korban berikutnya!
Tragedi di Bali dan Nagekeo seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi NTT. Pemerintah daerah dan masyarakat harus bersinergi untuk melakukan mitigasi bencana secara serius.
Konversi lahan harus dihentikan, pengelolaan sampah harus ditingkatkan, dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan harus ditingkatkan.
Baca Juga:
Penghargaan untuk Gubernur Banten
Jika tidak, NTT akan menjadi korban berikutnya!
















