KUPANG – Elar Selatan, sebuah nama yang mungkin asing di telinga sebagian besar kita. Namun, di balik nama itu, tersembunyi sebuah ironi pembangunan yang begitu menyayat hati. Di sana, jalan berlubang bukan sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan sebuah “monumen” abadi yang mengingatkan masyarakat akan janji-janji pemerintah yang tak pernah ditepati.
Bagi Helga Maria Evarista Gero, pulang kampung ke Elar Selatan bagaikan memasuki lorong waktu yang kelam.
Pemandangan jalan rusak yang dulu ia lihat saat merantau puluhan tahun lalu, kini masih terpampang nyata di depan mata. “Rasanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai,” ujarnya dengan nada getir.
Jalan Rusak: Simfoni Penderitaan di Bumi Flobamora
Truk-truk tua berderit menahan guncangan, penumpang berpegangan erat agar tak terlempar, debu beterbangan menutupi wajah-wajah lelah. Inilah “simfoni” penderitaan yang setiap hari harus dinikmati masyarakat Elar Selatan saat melintasi jalan rusak itu.
Bahkan, tak jarang terdengar umpatan lirih, “Kapan jalan ini diperbaiki? Sampai kami mati kah?”
Lubang-lubang menganga di jalan itu bukan hanya merusak kendaraan dan memperlambat perjalanan.
Lebih dari itu, ia melumpuhkan perekonomian daerah, menghambat akses pendidikan dan kesehatan, serta mengisolasi masyarakat dari dunia luar.
Wakil Rakyat Lupa Diri: Janji Tinggal Janji, Rakyat Gigit Jari
Baca Juga:
Skandal ‘Uang Pelicin Haji’: Khalid Basalamah Ungkap Peran Oknum Kemenag!
Ironisnya, setiap menjelang pemilu, para calon wakil rakyat berbondong-bondong datang ke Elar Selatan menebar janji manis. Mereka berjanji akan memperbaiki jalan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan membawa perubahan positif bagi daerah itu.
Namun, setelah terpilih dan duduk di kursi empuk DPRD, janji-janji itu seolah menguap ditelan bumi.
Lantas, untuk siapa sebenarnya para wakil rakyat itu bekerja? Apakah mereka benar-benar memperjuangkan kepentingan masyarakat Elar Selatan, atau hanya sibuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya?
Pertanyaan ini terus menghantui benak masyarakat Elar Selatan, yang merasa dikhianati dan dilupakan.
Elar Selatan: Potret Buram Pembangunan yang Tak Merata
Elar Selatan adalah potret buram pembangunan yang tak merata di Indonesia. Di satu sisi, kita melihat pembangunan infrastruktur yang pesat di kota-kota besar.
Di sisi lain, kita masih menemukan daerah-daerah terpencil yang terabaikan dan terisolasi.
Sampai kapan Elar Selatan harus terus menanggung penderitaan ini? Sampai kapan masyarakatnya harus terus hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian?
Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban konkret dari pemerintah dan para wakil rakyat. Jangan biarkan Elar Selatan terus menjadi “cermin keabadian” janji-janji palsu.
Baca Juga:
DPUPR – UNISBA Lakukan Kajian RTRW Kabupaten Serang
Semoga narasi ini lebih menggugah dan mampu menarik perhatian publik terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat Elar Selatan.
















