BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menunjukkan ketegasannya terkait permasalahan jam operasional truk tambang di wilayah Parungpanjang, Kabupaten Bogor. Ia menyatakan tidak akan memberikan toleransi sedikit pun kepada pengusaha yang melanggar aturan.
Sebelumnya, sejumlah sopir truk tambang menggelar aksi demonstrasi dengan memarkirkan truk mereka melintang di Jalan Legok, yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tangerang. Aksi ini merupakan bentuk protes terkait jam operasional yang mereka anggap memberatkan.
Gubernur yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) ini menegaskan bahwa pengusaha wajib mematuhi aturan jam operasional yang telah ditetapkan.
“Pernyataan saya sudah jelas: jika pengusaha tidak menaati peraturan tentang jam operasi, maka saya akan tutup usahanya. Saya tidak takut,” kata KDM dengan nada berapi-api di Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/9).
Kang Dedi tidak merinci secara spesifik aturan yang dimaksud. Namun, Kabupaten Bogor memiliki Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 120 Tahun 2021 yang mengatur waktu operasional angkutan barang khusus tambang.
Baca Juga:
HUT Bhayangkara ke-79: Apresiasi Mengalir untuk Polda Banten
Dalam aturan tersebut, truk tambang hanya diizinkan beroperasi mulai pukul 20.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB.
“Kalau mereka tidak menaati peraturan jam operasi dan operasinya merugikan masyarakat, meresahkan, apalagi truk-truk besar itu menggunakan jalan provinsi yang baru dibangun dengan dana ratusan miliar, ini sudah keterlaluan,” tutur KDM dengan geram.
“Bagi saya, tidak ada toleransi lagi. Kalau pengusahanya tidak mau berubah sikap, hanya mementingkan diri sendiri, tidak memperhatikan aspek ketertiban, keamanan, dan keselamatan orang lain, maka akan saya tutup,” tambahnya dengan nada ancaman.
Dilansir dari Antara, aksi mogok sopir truk tambang terjadi pada Kamis (18/9) mulai pukul 18.15 WIB hingga 20.45 WIB. Aksi ini sempat menyebabkan kemacetan parah hingga mencapai 2 kilometer.
Baca Juga:
Wujudkan Astacita, Irwasum Polri Pimpin Panen Jagung Serentak di Madiun
Aksi tersebut baru berakhir setelah warga sekitar merasa resah dan meminta para sopir truk untuk menghentikan aksinya.















