JAKARTA -:Prancis berada di ambang kekacauan! Demonstrasi besar-besaran melanda negara itu pada Kamis (18/9/2025), dengan sekitar 800.000 warga tumpah ruah ke jalan-jalan. Gelombang protes ini dipicu oleh kemarahan pekerja lintas sektor, mulai dari guru, sopir kereta api, apoteker, hingga staf rumah sakit, yang menghentikan aktivitas mereka. Para pelajar pun tak ketinggalan, ikut memblokir pintu masuk sekolah menengah sebagai bentuk perlawanan terhadap rencana pemotongan anggaran pemerintah.
Aksi demonstrasi ini merupakan pukulan telak bagi Perdana Menteri baru Prancis, Sebastien Lecornu, yang baru saja dilantik menggantikan pendahulunya yang digulingkan parlemen.
Ia kini menghadapi dilema berat antara menekan defisit anggaran—yang tahun lalu hampir dua kali lipat batas 3% Uni Eropa—atau mengakomodasi tuntutan para pekerja.
Paris Lumpuh, Sekolah Diblokir, Aksi Meluas ke Seluruh Negeri
Di Paris, dampak aksi demonstrasi terasa sangat jelas. Jalur metro hanya beroperasi pada jam-jam sibuk pagi dan sore, sementara akses masuk ke sejumlah sekolah ditutup dengan spanduk dan poster bernada protes.
Salah satu spanduk bertuliskan “Blokir sekolahmu melawan kebijakan penghematan”, dibawa oleh para pelajar di depan Lycée Maurice Ravel. Aksi tersebut juga diikuti oleh para guru dan perwakilan serikat pekerja.
Kementerian Dalam Negeri memperkirakan sekitar 800.000 orang terlibat dalam aksi ini. Serikat pekerja utama mengecam rencana fiskal pemerintah sebagai kebijakan “brutal” dan “tidak adil”. Ketua serikat CGT, Sophie Binet, menegaskan, “Kami akan terus melakukan mobilisasi selama belum ada respons memadai. Anggaran akan diputuskan di jalanan!”
Tuntutan Pekerja: Batalkan Pemotongan Anggaran, Naikkan Pajak Orang Kaya
Serikat pekerja menuntut agar rencana fiskal warisan pemerintahan sebelumnya dibatalkan. Mereka juga mendesak peningkatan belanja layanan publik, pajak yang lebih tinggi bagi kalangan kaya, serta pencabutan aturan kontroversial yang memaksa rakyat bekerja lebih lama demi memperoleh pensiun.
Baca Juga:
Gubernur Banten Terinspirasi Pidato Presiden di ICI 2025
Aksi protes ini merupakan puncak dari kemarahan yang telah lama terpendam di kalangan pekerja Prancis.
Mereka merasa bahwa pemerintah tidak adil dan hanya memprioritaskan kepentingan para elit ekonomi.
Aparat Keamanan Dikerahkan, Bentrokan Tak Terhindarkan
Untuk menjaga ketertiban, pemerintah Prancis mengerahkan 80.000 polisi dan gendarme, lengkap dengan unit anti huru-hara, drone, serta kendaraan lapis baja.
Namun, bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan tak terhindarkan. Pihak kepolisian terpaksa menembakkan gas air mata untuk mengurai massa.
Beberapa demonstran bahkan mulai memanas dan membakar palet kayu di sekitar stasiun kereta Gare de Lyon di Paris sebagai bagian dari aksi mogok.
Dampak Mogok Nasional Meluas ke Berbagai Sektor
Dampak mogok kerja diperkirakan sangat luas. Laporan menyebutkan bahwa satu dari tiga guru sekolah dasar absen, 98% apotek tutup, sebagian pegawai perusahaan listrik EDF ikut berhenti bekerja, dan jaringan metro serta kereta regional mengalami gangguan yang signifikan.
Baca Juga:
Kardinal Suharyo: Pemilihan Paus, Inspirasi untuk Pemimpin yang Berintegritas
Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya situasi di Prancis saat ini. Pemerintah dan para pekerja harus segera menemukan solusi untuk mengatasi krisis ini, jika tidak, Prancis bisa terjerumus ke dalam kekacauan yang lebih dalam.
















