JAKARTA – Timur Tengah kembali bergejolak setelah Israel melancarkan serangkaian serangan militer yang mengejutkan terhadap enam negara Arab hanya dalam tiga hari. Operasi militer berskala besar ini, yang diklaim Israel bertujuan untuk melumpuhkan kelompok Hamas di Gaza, telah memicu kecaman internasional dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Serangan yang dimulai pada 11 September 2025 ini menargetkan Palestina (Gaza), Lebanon, Suriah, Tunisia, Qatar, dan Yaman, menunjukkan cakupan geografis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik regional.
Di Gaza, Palestina, serangan udara dan darat Israel telah menyebabkan kehancuran yang meluas. Ratusan warga sipil dilaporkan tewas dan ribuan lainnya luka-luka, termasuk wanita dan anak-anak.
Infrastruktur vital seperti rumah sakit, sekolah, dan pemukiman penduduk juga menjadi sasaran. Organisasi kemanusiaan dan sejumlah negara mengecam keras tindakan Israel ini, bahkan ada yang menyebutnya sebagai tindakan genosida.
Sementara itu, di Lebanon, militer Israel mengklaim telah menargetkan depot senjata dan fasilitas militer yang terafiliasi dengan Hizbullah.
Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen, namun laporan dari lapangan menunjukkan kerusakan pada area sipil di beberapa wilayah selatan Lebanon.
Situasi serupa terjadi di Suriah, di mana pangkalan angkatan udara dan barak militer menjadi sasaran utama serangan Israel. Kementerian Luar Negeri Suriah dengan cepat mengeluarkan pernyataan keras, mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional.
Insiden ini menambah panjang daftar agresi yang dialami Suriah di tengah konflik internal yang belum usai.
Baca Juga:
Kapolres Serang Tak Henti Mengulurkan Tangan: Bantuan Terus Mengalir untuk Warga Terdampak Radiasi
Tindakan yang mengejutkan, Israel juga dituduh melancarkan serangan pesawat tak berawak terhadap Global Sumud Flotilla di perairan dekat Tunisia.
Flotilla ini dikenal sebagai misi damai yang berupaya menembus blokade Gaza dan menyalurkan bantuan kemanusiaan. Serangan terhadap misi sipil ini telah memicu kemarahan besar di dunia Arab dan komunitas internasional.
Jangkauan serangan Israel bahkan mencapai Qatar, sebuah negara yang berjarak ribuan kilometer dari perbatasan Israel. Serangan presisi ini dilaporkan menargetkan tim negosiasi Hamas yang berada di Doha.
Perdana Menteri Qatar segera mengutuk tindakan tersebut sebagai “terorisme negara” dan menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan tegas terhadap Israel.
Penderitaan juga melanda Yaman, di mana serangan udara Israel dilaporkan menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya.
Laporan dari Sana’a menyebutkan bahwa serangan tersebut menghantam daerah sipil dan pemukiman padat penduduk, menambah penderitaan rakyat Yaman yang telah lama dilanda krisis kemanusiaan.
Serangkaian serangan masif ini telah memicu kekhawatiran serius akan stabilitas regional dan menyerukan respons kolektif dari komunitas internasional untuk menahan eskalasi lebih lanjut.
Baca Juga:
Polri Gelar Doa Bersama Lintas Agama Sambut HUT Bhayangkara ke-79
Dunia kini menanti langkah-langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan yang memuncak ini.
















