PANDEGLANG – Bayangkan, belajar agama selama 22 tahun tanpa meja dan kursi. Itulah kenyataan yang dijalani para santri Madrasah Diniyah Hidayah Mubtadi’in di Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten. Meski minim fasilitas, semangat belajar mereka tetap membara.
“Kami ingin mencerdaskan anak-anak bangsa melalui pendidikan agama Islam, meski pelaksanaan KBM tanpa kursi dan meja,” ungkap Nong dan Enung, guru di madrasah tersebut.
Sejak berdiri pada tahun 2007, Madrasah Diniyah Al Hidayah Mubtadi’in yang terletak di kaki Gunung Pulosari ini menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) tanpa fasilitas mebeler yang memadai. Para siswa, yang sebagian besar merupakan siswa kelas 1 hingga 5 SD, belajar dengan tekun di lantai. Yang mengejutkan.
“Bahkan, mereka belum ada yang sakit pegal-pegal maupun masuk angin, kendati belajar tak layak,” tambah Nong.
KBM di madrasah ini berlangsung dari Sabtu hingga Kamis, libur hanya Jumat. Kurikulumnya cukup lengkap, meliputi Kipayah, Sejarah Islam, Iqra, Tajwid, Tafsir Al Quran, Akhlak, Nahwu, Al Quran Hadist, Fiqih, dan Bahasa Arab. Pendidikan agama Islam di madrasah ini wajib diikuti para siswa.
Baca Juga:
KTM Marchetti Signs with Larranaga and Zanotti for Next Season
“Siswa di sini sekitar 70 pelajar SD, dan kegiatan belajar dilakukan pukul 14.00 sampai pukul 17.00 WIB, terdiri atas kelas 1 sampai 4 madrasah,” jelas Nong. Yang lebih mengagumkan, madrasah ini tidak memungut biaya SPP. Siswa hanya diminta Rp1.000 per orang untuk membeli kapur.
Keenam guru dan kepala sekolah pun ikhlas mengabdi tanpa gaji bulanan. Mereka hanya mengandalkan dana hibah dari pemerintah daerah sebesar Rp3 juta per tahun yang dibagi rata.
“Kami berharap pemerintah daerah maupun Kementerian Agama dapat membantu pendidikan madrasah ini agar anak-anak bisa belajar fokus dan tenang dengan menggunakan kursi dan meja,” harap Nong.
Anisa, siswi kelas 3 madrasah yang telah tiga tahun belajar di lantai, mengungkapkan.”Kami sudah biasa belajar dengan duduk di lantai untuk menerima pendidikan agama Islam.” Ungkap Anisa.
Baca Juga:
Jaga Listrik Bali, Baharkam Polri Audit Ketat Sistem Pengamanan PLN.
Senyumnya mencerminkan semangat belajar yang tak padam, meski kondisi belajarnya jauh dari ideal. Kisah Anisa dan teman-temannya ini menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar dapat mengatasi keterbatasan fasilitas.
















