PANDEGLANG – Di Banten, sebuah provinsi dengan populasi sekitar 12,43 juta jiwa (BPS 2024), terdapat sebuah kabupaten yang menyimpan paradoks menarik: Pandeglang. Dengan julukan “Kota Badak,” merujuk pada keberadaan Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, dan “Negeri Para Ulama dan Santri,”
Pandeglang memiliki jumlah penduduk terkecil di Banten, sekitar 1,32 juta jiwa (BPS 2024). Lebih mengejutkan lagi, kabupaten ini dipimpin oleh Bupati Raden Dewi Setiani, yang berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), tercatat sebagai bupati termiskin di Banten. Meskipun demikian, Pandeglang terkenal sebagai sentra durian terbaik di provinsi tersebut, khususnya di Kecamatan Mandalawangi.
Baca Juga:
Dari Tambang ke Lahan Produktif, Transformasi Hijau di Cilegon
Kekayaan bersih Bupati Setiani, setelah dikurangi utang, mencapai Rp1.233.885.528. Rinciannya meliputi aset tanah dan bangunan Rp477.000.000 (sebidang tanah 477 m² di Pandeglang), kendaraan (Mitsubishi Pajero Sport 2.4L Dakar 2016 dan Honda Civic Turbo 2018, total Rp735.000.000), harta bergerak lain Rp150.000.000, tabungan Rp7.756.970, dan aset lain yang nilainya tidak dilaporkan.
Baca Juga:
Limbah Timah Bikin Sesak Nafas! Warga Kemurang & Bojong Siap Kepung Lokasi Pembakaran Ilegal
Kontras antara kekayaan pemimpin dan kekayaan alam Pandeglang ini menjadikannya sebuah studi kasus yang menarik tentang pembangunan daerah.
















