MADIUN – SDN Wayut 01, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, hanya mendapatkan satu murid baru melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025. Kondisi ini membuat para guru cemas menjelang tahun ajaran baru 2025/2026.
Kepala SDN Wayut 01, Sri Hartatik, mengungkapkan bahwa sejak pembukaan SPMB pada 2-20 Juni 2025, hanya satu anak usia enam tahun yang mendaftar.
“Sekolah kami dari kelas 1 sampai kelas 6 juga tidak memenuhi pagu, bahkan cenderung sangat kecil,” ujar Sri Hartatik saat ditemui di kantornya, Senin (16/6/2025). “Rata-rata per kelas paling tinggi hanya lima murid,” tambahnya.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menarik minat orang tua, termasuk sosialisasi melalui banner, kerjasama dengan guru PAUD dan TK, serta pendekatan langsung kepada alumni. “Kami pantau kelulusannya berapa, kami adakan sosialisasi biar mau jadi murid di sekolah kami,” jelas Sri.
Meskipun demikian, ia mengakui kesulitan dalam menarik minat orang tua karena “kebanyakan PAUD di sini tidak langsung menuju ke TK, itu yang menjadi kesulitan kami.”
Baca Juga:
Sukses! Polda Riau Gelar Bakti Kesehatan HUT Bhayangkara ke-79
Sri Hartatik tetap optimistis dan berharap upaya yang dilakukan akan membuahkan hasil, menyatakan, “Meski sudah ditutup oleh pemerintah, kami tetap membuka peluang-peluang yang ada sampai kapanpun. Kami menerima karena memang pagu kami belum terpenuhi.” Ia juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lembaga pendidikan milik pemerintah yang sudah ada dan berkualitas.
“Kami siap membimbing anak-anak. Sekolah ini juga menghasilkan alumni, sekarang di ITS Ahli Kimia. Kami kemarin lomba seni tari juga juara. Itu kan padahal dengan keterbatasan jumlah siswa bisa menghasilkan prestasi,” pungkasnya.
Kepala Desa Wayut, Subroto, menjelaskan beberapa faktor penyebab minimnya peminat SDN Wayut 01. Lokasi sekolah yang dekat dengan perbatasan Kabupaten Madiun, menurutnya, membuat banyak orang tua memilih sekolah di Kota Madiun.
“Banyak SD Negeri Kota Madiun menjadi alternatif,” ujar Subroto, Senin. “Di antaranya SD Negeri Ngegong, SD Negeri Madiun Lor, SD Negeri Winongo, dan SD Negeri Sogaten,” imbuhnya.
Subroto menambahkan, faktor lain adalah pilihan orang tua terhadap sekolah dengan pendidikan keagamaan yang lebih menonjol, serta program KB yang menekan angka kelahiran. “Ingin menyekolahkan anaknya demi masa depan yang terjamin. Serta tidak mau berjudi dengan masa depan putra putrinya,” tutur Subroto, menjelaskan alasan orang tua memilih sekolah lain. Meskipun pemerintah desa telah mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan SDN Wayut 01, jumlah pendaftar tetap minim.
Baca Juga:
Operasi SAR Batang Toru: Den K9 Polri Ungkap Lokasi Korban di Bantaran Sungai
“Kami juga ikut mantau jumlah calon murid SD, di Desa Wayut ada 1 TK sama 1 PAUD. Lalu jumlah penduduk kami sekitar 6.000 dan berdasarkan DPT Pemilu sekitar 4.000,” tutupnya.
















